Pintu Itu Tidak Pernah Tertutup

Bagaimana jika pintu yang selama ini kita cari sebenarnya tidak pernah tertutup?

Kita sering menjalani hidup seperti seseorang yang sedang menuju ke suatu tempat. Kita ingin menjadi lebih tenang, lebih sadar, lebih bijaksana. Dalam praktik pun kecenderungan ini ikut terbawa. Kita duduk bermeditasi dengan harapan suatu hari pikiran akan benar-benar diam. Kita membaca Dhamma agar suatu hari bisa memahami semuanya. Kita datang ke retret, mengikuti latihan, menjaga sila, memperhatikan napas, dan tanpa sadar semua itu dapat berubah menjadi sebuah proyek besar untuk menjadi seseorang yang berbeda dari diri kita sekarang.

Ada sesuatu yang sangat halus di sini. Bahkan pencarian kebebasan dapat menjadi bentuk lain dari pencarian. Bahkan keinginan untuk bebas dari penderitaan dapat berubah menjadi usaha untuk melarikan diri dari pengalaman yang sedang hadir. Pikiran berkata, “Belum ini. Belum cukup. Masih ada sesuatu yang harus dicapai.” Maka kita terus berjalan, terus memperbaiki diri, terus mencari pintu keluar, seolah-olah Yang Tak Mati berada jauh di depan kita.

Dalam sutta terdapat ungkapan yang sangat indah: “Pintu menuju Yang Tanpa Kematian telah terbuka.” Apārutā tesaṃ amatassa dvārā. Ada sesuatu yang menarik dari kalimat ini. Pintu itu bukan sedang dibangun. Bukan pula baru akan terbuka setelah kita menjadi praktisi yang baik. Pintu itu telah terbuka.

Mungkin persoalannya bukan karena kita belum menemukan pintu itu. Mungkin karena kita terlalu sibuk mencarinya.

Pikiran memiliki kebiasaan untuk bergerak keluar dari apa yang sedang terjadi. Ketika pengalaman menyenangkan datang, kita ingin mempertahankannya. Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan muncul, kita ingin segera mengubah atau menyingkirkannya. Ketika tidak ada apa-apa yang istimewa, kita merasa bosan dan mulai mencari pengalaman berikutnya. Bahkan dalam meditasi kita dapat duduk menunggu kedamaian datang, menunggu pikiran berhenti, menunggu sesuatu yang kita anggap sebagai “hasil praktik”.

Tetapi Dhamma selalu hanya dapat diketahui sekarang. Bukan nanti ketika pikiran sudah tenang. Bukan setelah masalah kehidupan selesai. Bukan ketika kita akhirnya berhasil menjadi orang yang kita bayangkan seharusnya kita menjadi. Dhamma ada dalam keadaan yang sedang berlangsung ini: dalam tubuh yang sedang bernapas, dalam suara yang sedang terdengar, dalam ketegangan yang terasa di dada, dalam pikiran yang sedang sibuk, dalam keinginan untuk mendapatkan sesuatu, bahkan dalam keinginan untuk terbebas dari semua itu.

Kita tidak harus membuat pengalaman ini menjadi berbeda sebelum kita dapat mengetahuinya. Ketika ada keresahan, kita dapat mengetahui: keresahan sedang hadir. Ketika ada ketakutan, kita dapat mengetahui: seperti inilah rasa takut. Ketika pikiran ingin menjadi lebih damai, bahkan keinginan itu dapat diketahui. Tidak perlu langsung diikuti, tidak perlu dilawan. Hanya diketahui sebagaimana adanya.

Di sinilah sesuatu yang sangat sederhana mulai terlihat. Semua yang muncul ternyata berubah. Perasaan datang lalu pergi. Pikiran muncul lalu lenyap. Tubuh berubah dari satu saat ke saat berikutnya. Keinginan yang terasa begitu kuat beberapa menit lalu mungkin sudah tidak ada sekarang. Bahkan gambaran kita mengenai “aku” terus berubah mengikuti keadaan.

Biasanya kita begitu terlibat dengan isi pengalaman sehingga tidak menyadari kenyataan sederhana ini. Kita menjadi marah, menjadi takut, menjadi sedih, menjadi orang yang gagal, menjadi orang yang berhasil, menjadi orang yang sedang maju dalam praktik atau justru mundur. Pikiran terus membentuk sesuatu dari setiap pengalaman.

Tetapi ada kemungkinan untuk tidak terus menjadi.

Ada marah, tetapi tidak perlu membangun “aku yang sedang marah”. Ada takut, tetapi tidak perlu membuat seluruh dunia dari rasa takut itu. Ada pikiran yang kacau, tetapi tidak perlu menyimpulkan bahwa meditasi hari ini buruk. Semua dapat muncul dan lenyap dalam ruang kesadaran yang lebih luas daripada cerita yang kita buat tentangnya.

Ini bukan sikap pasif. Ini justru keberanian untuk tinggal bersama kehidupan sebelum kita mengubahnya menjadi pendapat, penilaian, atau identitas. Kita berhenti sebentar dan mendengarkan. Napas masuk, napas keluar. Tubuh ada di sini. Bumi menopang kaki kita. Suara datang lalu menghilang. Untuk satu saat kita tidak perlu pergi ke mana-mana.

Dan mungkin di situlah kita mulai memahami mengapa pintu menuju Yang Tanpa Kematian dapat dikatakan selalu terbuka.

Bukan karena kita sudah mencapai sesuatu yang besar, melainkan karena setiap saat memberi kesempatan untuk tidak menggenggam apa yang sedang muncul. Setiap saat memberi kesempatan untuk mengetahui tanpa harus menjadi. Setiap saat memberi kemungkinan untuk berhenti menambahkan cerita pada kehidupan sebagaimana adanya.

Kita biasanya mencari kebebasan sebagai sesuatu yang akan kita miliki suatu hari nanti. Tetapi mungkin kebebasan mulai dikenal justru pada saat kita berhenti mencoba memiliki pengalaman tertentu. Kita mencari kedamaian, tetapi kedamaian mungkin lebih dekat ketika kita berhenti bertengkar dengan ketidakdamaian. Kita mencari jalan pulang, tetapi jalan itu mulai terlihat ketika kita berhenti berjalan menjauh dari saat ini.

Maka praktik tidak selalu berarti pergi semakin jauh.. Kadang-kadang praktik justru berarti berhenti. Berhenti sejenak dari kebutuhan untuk menjadi. Berhenti meminta kehidupan hadir dalam bentuk yang berbeda. Berhenti mencari pintu yang kita bayangkan berada di tempat lain. Lalu kembali kepada satu napas ini, satu langkah ini, satu pengalaman ini.

Pintu itu mungkin tidak pernah tertutup. Kitalah yang terlalu sering berlari melewatinya.

Gatha

Pintu tak pernah tertutup,
aku hanya terlalu jauh mencari.
Dalam napas yang datang dan pergi,
jalan pulang diam-diam hadir.

Tak perlu menjadi sesuatu,
tak perlu tiba di tempat lain.
Ketika hati berhenti berlari,
Yang Tanpa Kematian terasa begitu dekat.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.