Biarkan Momen Ini Menjadi Cukup

Pikiran kita mempunyai kebiasaan yang sangat kuat untuk pergi dari saat ini. Tubuh sedang berada di sini, tetapi pikiran sudah berjalan ke mana-mana. Kita mengingat percakapan kemarin, memikirkan pekerjaan nanti siang, membayangkan apa yang akan terjadi minggu depan, atau kembali pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama berlalu. Bahkan ketika tidak ada persoalan besar, pikiran tetap dapat menemukan sesuatu untuk dipikirkan. Seolah-olah berada di sini saja tidak pernah cukup.

Kadang-kadang hanya diperlukan satu hal kecil untuk membawa kita sangat jauh. Sebuah pesan yang belum dibalas. Nada bicara seseorang yang terasa berbeda. Sebuah komentar yang kurang menyenangkan. Satu kesalahan kecil dalam pekerjaan. Dari sana pikiran mulai bercabang. “Mengapa dia berkata seperti itu?” “Apakah saya melakukan sesuatu yang salah?” “Jangan-jangan dia sedang marah kepada saya.” “Bagaimana kalau nanti keadaan menjadi lebih buruk?” Kenyataannya mungkin hanya satu kejadian kecil, tetapi di dalam pikiran sudah terbentuk sebuah dunia yang jauh lebih besar.

Inilah salah satu bentuk papañca, ketika pikiran terus berkembang, bercabang, dan membuat cerita di atas apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bukan berarti berpikir itu salah. Kita tentu membutuhkan pikiran untuk bekerja, merencanakan, belajar, dan mengambil keputusan. Tetapi ada perbedaan antara berpikir untuk menyelesaikan sesuatu dan terus berpikir karena kita tidak mampu melepaskannya. Yang pertama mempunyai arah dan dapat berhenti ketika tugasnya selesai. Yang kedua terus berputar, mengulang hal yang sama, menambahkan kemungkinan demi kemungkinan, sampai kita sendiri lelah.

Sering kali kita bahkan merasa bahwa dengan terus memikirkan sesuatu, kita sedang berusaha menyelesaikannya. Padahal tidak selalu demikian. Ada saatnya kita tidak sedang mencari jalan keluar; kita hanya sedang terperangkap di dalam cerita yang dibuat oleh pikiran. Tubuh mungkin sedang makan malam bersama keluarga, tetapi pikiran masih berada di tempat kerja. Kita sedang berjalan, tetapi tidak merasakan langkah kaki. Kita sedang minum teh, tetapi tidak benar-benar mengetahui rasa teh itu. Kehidupan sedang berlangsung, tetapi kita tidak sepenuhnya berada di sana.

Mengapa pikiran begitu mudah meninggalkan saat ini? Salah satu sebabnya adalah karena kita mempunyai perasaan bahwa momen ini belum cukup. Ada sesuatu yang masih harus selesai. Ada sesuatu yang belum kita miliki. Ada keadaan yang harus berubah terlebih dahulu. Kita berkata dalam hati, “Nanti kalau pekerjaan ini sudah selesai, saya akan lebih tenang.” “Nanti kalau anak-anak sudah lebih besar.” “Nanti kalau keadaan sudah lebih aman.” “Nanti kalau masalah ini sudah lewat.” Kita terus menunggu sebuah keadaan tertentu sebelum mengizinkan diri kita benar-benar beristirahat.

Tetapi setelah satu persoalan selesai, persoalan lain akan datang. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Jika kita menunggu semua keadaan menjadi sempurna sebelum merasa cukup, mungkin sepanjang hidup kita akan terus menunggu.

Di sinilah latihan santutthi, rasa cukup, menjadi sangat penting. Rasa cukup bukan berarti kita berhenti berusaha. Bukan berarti tidak mempunyai cita-cita, tidak merencanakan masa depan, atau membiarkan sesuatu yang perlu diperbaiki. Kita tetap bekerja, merawat keluarga, belajar, menabung, membuat rencana, dan melakukan apa yang perlu dilakukan. Tetapi di tengah semua itu, kita belajar untuk tidak terus-menerus menunda kehidupan.

Kita dapat mengingatkan diri sendiri, “Ada hal yang masih perlu dikerjakan, tetapi momen ini juga bagian dari hidup saya.” Kita boleh mempunyai tujuan, tetapi tidak harus hidup terus-menerus di dalam tujuan itu. Kita boleh menginginkan sesuatu, tetapi tidak harus mengatakan bahwa kita baru boleh bahagia setelah mendapatkannya.

Ketika rasa cukup mulai tumbuh, pikiran mempunyai tempat untuk beristirahat. Kita dapat duduk dan benar-benar duduk. Kita dapat makan dan benar-benar makan. Kita dapat berjalan dan mengetahui bahwa kita sedang berjalan. Kita dapat mendengarkan seseorang tanpa separuh pikiran sudah berada di percakapan berikutnya. Untuk beberapa saat, kita tidak perlu menjadi siapa-siapa dan tidak perlu mencapai apa-apa. Kita hanya hadir.

Rasa cukup juga membantu kita tinggal bersama apa pun yang sedang muncul dalam saat ini. Biasanya, ketika muncul kegelisahan, kita ingin segera menyingkirkannya. Ketika kesedihan datang, kita ingin cepat merasa lebih baik. Ketika bosan, tangan segera mencari telepon genggam. Ketika muncul ketidakpastian, pikiran mulai mencari jawaban ke mana-mana. Kita terbiasa meninggalkan momen ketika momen itu tidak sesuai dengan keinginan kita.

Tetapi latihan sati mengajak kita untuk mencoba sesuatu yang lebih lembut. Tidak perlu langsung pergi. Tinggallah sebentar. Jika kegelisahan sedang ada, kita tahu bahwa kegelisahan sedang ada. Jika hati sedang sedih, kita mengetahui kesedihan itu. Jika tubuh sedang lelah, kita merasakan kelelahan itu. Kita tidak perlu segera memperbaiki semuanya. Kita dapat bernapas bersama pengalaman tersebut dan memberi ruang baginya untuk hadir.

Demikian juga ketika sesuatu yang menyenangkan muncul. Kita belajar menikmatinya tanpa menggenggamnya. Hari ini mungkin terasa sangat damai. Kita menikmatinya, tetapi tidak perlu berkata, “Besok harus seperti ini lagi.” Seseorang memuji kita, kita menerima kehangatan itu, tetapi tidak perlu mencari pujian berikutnya. Meditasi hari ini terasa tenang, kita bersyukur, tetapi tidak perlu memaksa meditasi berikutnya menghasilkan pengalaman yang sama.

Karena ketika kita mulai menggenggam pengalaman yang menyenangkan, sesungguhnya pikiran sudah kembali meninggalkan saat ini. Ia mulai berpikir bagaimana mempertahankannya, bagaimana mengulanginya, bagaimana memastikan agar pengalaman itu tidak berakhir. Maka latihan bukan hanya belajar tinggal bersama sesuatu yang sulit. Kita juga belajar membiarkan sesuatu yang indah datang, dinikmati sepenuhnya, lalu berlalu ketika waktunya berlalu.

Ketika santutthi semakin tumbuh, kita mulai menyadari bahwa tidak setiap pikiran harus diikuti. Sebuah pikiran dapat muncul tanpa harus menjadi perjalanan panjang. Sebuah kekhawatiran dapat hadir tanpa harus menjadi sepuluh kemungkinan buruk. Sebuah ingatan dapat muncul tanpa harus kita masuki kembali. Kita cukup mengenalinya: “Ah, pikiran sedang berjalan lagi.” Lalu dengan lembut kita kembali kepada napas, kepada tubuh, kepada langkah kaki, kepada suara yang benar-benar sedang terdengar sekarang.

Kita tidak perlu memarahi pikiran karena ia berpikir. Pikiran memang mempunyai kebiasaan untuk bergerak. Latihan kita bukan membuat pikiran menjadi kosong, melainkan belajar untuk tidak mengikuti setiap ajakannya. Pikiran boleh datang. Pikiran boleh pergi. Kita dapat tetap tinggal di rumah.

Kadang-kadang satu tarikan napas sudah cukup untuk membawa kita pulang. Kita merasakan tubuh yang sedang duduk. Kita mengetahui napas sedang masuk dan keluar. Kita mendengar suara di sekitar. Kita menyadari kaki menyentuh bumi. Tiba-tiba kehidupan menjadi sederhana kembali. Persoalan mungkin masih ada, tetapi kita tidak harus menyelesaikan seluruh hidup kita dalam satu momen.

Kita hanya perlu hadir untuk momen ini.

Mungkin inilah hubungan yang sangat dekat antara santutthi dan sati. Ketika kita belajar merasa cukup, kita tidak terus-menerus mencari pengalaman berikutnya. Kita tidak terlalu cepat menolak apa yang sedang hadir dan tidak terlalu kuat menggenggam apa yang kita sukai. Ada ruang di dalam diri untuk membiarkan kehidupan datang sebagaimana adanya.

Dan di dalam ruang itu kita mulai melihat sesuatu yang sangat sederhana: kehidupan tidak sedang menunggu kita di masa depan. Kehidupan sedang berlangsung sekarang. Di dalam napas ini. Di dalam tubuh ini. Di dalam orang yang sedang duduk bersama kita. Di dalam suara hujan. Di dalam sinar pagi. Di dalam hari yang mungkin tampak sangat biasa.

Barangkali kehidupan kita tidak benar-benar kekurangan begitu banyak hal. Barangkali kita hanya terlalu sering tidak berada di sana ketika kehidupan sedang berlangsung.

Maka latihan kita adalah belajar pulang. Ketika pikiran kembali ke masa lalu, kita pulang. Ketika pikiran berlari ke masa depan, kita pulang. Ketika satu pikiran berkembang menjadi begitu banyak cerita, kita pulang. Ketika hati berkata, “Belum cukup,” kita berhenti sebentar, merasakan satu tarikan napas, dan berkata dengan lembut:

Untuk momen ini, ini sudah cukup.

Bukan berarti semua persoalan telah selesai. Bukan berarti kita tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dilakukan. Tetapi untuk satu napas ini, tidak ada tempat lain yang harus kita datangi.

Saat ini adalah rumah kita.

Dan semakin sering kita belajar pulang ke rumah ini, semakin kita mampu tinggal bersama kehidupan tanpa terus-menerus menggenggam apa yang datang atau melarikan diri dari apa yang tidak kita sukai.

Gāthā

Bernapas masuk, aku kembali.
Bernapas keluar, aku sudah di rumah.
Pikiran datang, aku mengetahuinya.
Pikiran pergi, aku tidak mengejarnya.
Yang datang, kubiarkan datang.
Yang berlalu, kubiarkan berlalu.
Untuk momen ini, ini sudah cukup.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.