Berjalan Meski Dunia Berkata Tidak

Apakah penting apakah yang kita miliki sudah cukup? Apakah penting apakah mimpi-mimpi kita sudah cukup baik? Kita bisa terus mengejarnya, dan memilih untuk tidak menyerah.

Ada saatnya kita mempunyai sebuah tujuan yang begitu dekat dengan hati. Bukan sekadar karena ingin berhasil, bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada siapa pun, tetapi karena jauh di dalam diri, kita merasa bahwa apa yang sedang kita perjuangkan adalah sesuatu yang baik. Dan sesuatu yang baik tetap membutuhkan kerja keras.

Kita tetap harus bangun ketika lelah, belajar ketika belum mampu, mencoba kembali setelah gagal. Ada harga yang harus dibayar dalam bentuk waktu, tenaga, kesabaran, dan keberanian untuk berkali-kali memulai kembali. Jalan yang lahir dari hati yang tulus pun tidak selalu menjadi jalan yang mudah. Kadang-kadang justru sebaliknya.

Ada masa ketika hampir seluruh dunia seolah berkata, “Tidak.” Orang lain mungkin tidak memahami apa yang kita kerjakan. Mereka mempertanyakan pilihan kita, meremehkan usaha kita, atau mengatakan bahwa apa yang kita impikan terlalu sulit, terlalu idealis, bahkan sia-sia. Pintu demi pintu dapat tertutup. Rencana dapat berantakan. Apa yang kita harapkan mungkin tidak kunjung terjadi.

Pada saat seperti itu, mungkin yang perlu kita lakukan bukan langsung menyerah, tetapi kembali bertanya kepada diri sendiri: Dari mana sebenarnya perjalanan ini berasal? Apakah dari keinginan untuk menang? Dari kebutuhan untuk membuktikan bahwa aku benar? Dari ketakutan dianggap gagal? Atau karena sungguh ada sesuatu yang baik yang ingin kubawa ke dunia ini?

Pertanyaan itu penting, karena kegigihan dan keras kepala terkadang terlihat sangat mirip. Keras kepala berkata, “Aku harus berhasil karena aku tidak boleh kalah.” Keteguhan hati berkata, “Aku akan terus melakukan apa yang baik selama aku masih melihat bahwa ini benar dan bermanfaat.” Yang satu digerakkan oleh ego. Yang lain berakar pada hati.

Mungkin di sinilah kita belajar sebuah cara berbeda untuk bekerja keras: berjuang tanpa terbebani oleh perjuangan itu sendiri. Kita boleh memberikan seluruh kemampuan kita tanpa menuntut dunia memberikan hasil sesuai keinginan kita. Kita boleh mengetuk seratus pintu tanpa membenci kehidupan ketika sembilan puluh sembilan di antaranya tidak terbuka. Kita boleh mempunyai mimpi yang besar tanpa menjadikan mimpi itu batu besar yang harus kita pikul setiap hari.

Karena tujuan bukanlah beban yang harus kita bawa di punggung. Ia lebih seperti bintang yang menunjukkan arah. Kita tidak perlu menggenggam bintang itu. Kita hanya perlu tahu ke mana kita sedang berjalan.

Maka ketika dunia terasa melawan, kita tidak harus segera berhenti. Tetapi kita juga tidak perlu melawan dunia dengan kemarahan. Kita mendengarkan, memeriksa diri, belajar dari kritik, dan memperbaiki jalan bila memang ada yang salah. Lalu, bila setelah semua itu hati masih jernih dan kita masih melihat bahwa apa yang kita perjuangkan sungguh berakar pada kebaikan, kita berjalan lagi.

Pelan kalau perlu. Beristirahat ketika lelah. Bahkan sendirian kalau memang harus. Tetapi tidak kehilangan arah.

Ada perbedaan besar antara melepaskan keterikatan dan menyerah. Melepaskan bukan berarti berhenti peduli. Melepaskan berarti berhenti memaksa kehidupan mengikuti kehendak kita. Kita tetap menanam, tetap menyiram, tetap menjaga tanah dengan sebaik-baiknya, tetapi kita tidak menarik batang tanaman setiap pagi supaya ia tumbuh lebih cepat.

Kita melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, dengan sabar, dengan tekun, tetapi dengan hati yang tetap lembut. Mungkin suatu hari kita berhasil. Mungkin juga perjalanan membawa kita ke tempat yang sama sekali berbeda dari yang kita bayangkan. Tidak apa-apa. Sebab nilai sebuah perjalanan tidak hanya ditentukan oleh apakah kita akhirnya sampai pada tujuan. Ada sesuatu yang juga sedang dibentuk sepanjang jalan: orang seperti apa kita ketika menjalaninya.

Jika sebuah tujuan membuat kita semakin penuh kebencian, semakin keras, semakin egois, mungkin sudah waktunya memeriksa kembali arah. Tetapi bila perjuangan itu membuat kita semakin sabar, semakin berani, semakin jujur, semakin mampu mencintai, dan semakin ingin membawa sesuatu yang baik bagi kehidupan, mungkin perjalanan itu sendiri sudah mulai menghasilkan buah.

Jadi teruslah berjalan. Bukan karena dunia harus mengerti. Bukan karena kita harus menang. Bukan pula karena kita takut dianggap gagal. Berjalanlah karena setelah hati diperiksa dengan jernih, sesuatu di dalam diri masih berkata: Ini baik. Ini benar. Ini layak diperjuangkan.

Lakukan yang terbaik, tetapi jangan menjadikan hasil sebagai rantai di kaki. Ketika sebuah tujuan sungguh berakar pada kebaikan, kita tidak perlu mengejarnya dengan hati yang mengepal. Kita dapat bekerja keras, berjalan sangat jauh, dan tetap memiliki tangan yang terbuka.

Gāthā

Bernapas masuk, kutahu arah yang kutuju.
Bernapas keluar, kulepaskan beban untuk harus tiba.
Ketika jalan terbuka, aku berjalan.
Ketika jalan terjal, aku belajar.
Meski dunia belum memahami, aku tidak perlu melawan dunia.
Selama langkah ini berakar pada kebaikan, aku akan terus berjalan
dengan tekad yang kuat dan hati yang tetap lembut.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.