Silakan duduk dengan nyaman, di mana pun Anda berada. Rilekskan tubuh dan hadirkan pikiran di saat ini. Untuk beberapa saat, Anda tidak perlu memikirkan apa pun. Izinkan suara genta menemani napas masuk dan napas keluar. Ketika genta berbunyi, tarik napas perlahan. Ketika suara genta memudar, hembuskan napas dan biarkan diri benar-benar hadir.

Mendengarkan suara genta, merasa lega dan melepaskan. Hati menjadi hening dan bening. Tiada lagi kekhawatiran. Berlatih melepaskan, menghentikan kecemasan. Mendengarkan secara mendalam hingga ke akarnya, belajar melihat kembali dengan pengertian dan penuh kasih.

Setiap bunyi sebenarnya dapat menjadi genta kesadaran yang mengajak kita kembali ke saat ini. Bukan hanya suara genta dari ruang meditasi, tetapi juga nada dering telepon, kicauan burung, atau suara apa pun di sekitar kita. Di tempat saya tinggal sekarang, di Thailand, ada banyak suara jangkrik dan kodok. Kadang-kadang kodoknya berbunyi seperti dua puluh empat jam sehari. Pada awalnya suara itu terasa sangat mengganggu, terutama ketika saya sedang beristirahat di kamar. Namun, lama-kelamaan saya terbiasa. Kodoknya tidak berubah; mereka tetap berbunyi seperti sebelumnya. Yang berubah adalah hubungan saya dengan suara tersebut. Kalau saya menyuruh kodok-kodok itu diam, tentu saja mereka tidak akan menurut. Jadi, apakah suara kodok benar-benar mengganggu? Ternyata jawabannya juga bergantung pada diri kita.

Malam ini saya ingin mengajak Anda melihat sebuah tema: tidak benar-benar salah. Kalimat ini bukan ajakan untuk mencari alasan, membenarkan kesalahan, atau membuat alibi supaya kita tidak kelihatan bersalah. Bukan pula untuk mengatakan bahwa apa pun yang kita lakukan selalu benar. Kalimat ini hanya membantu kita melihat kembali keputusan, ucapan, dan tindakan kita dari sudut pandang yang lebih luas. Barangkali sesuatu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Barangkali ada bagian yang belum kita lihat karena kita terlalu cepat memberikan kesimpulan.

Coba jawab satu pertanyaan ini di dalam hati. Seandainya Anda diberi kesempatan kembali ke masa lalu—bukan untuk mengubah seluruh hidup, tetapi hanya untuk mengubah satu keputusan—keputusan apakah yang ingin Anda ubah? Mungkin keputusan kemarin, minggu lalu, tahun lalu, lima tahun lalu, atau bahkan sepuluh tahun yang lalu. Biasanya kita tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan jawabannya. Ada saja satu keputusan yang segera muncul dalam ingatan dan membuat kita berkata, “Kalau saja waktu itu saya tidak memilih demikian.”

Ketika ingin mengubah sebuah keputusan, kita biasanya telah memberi label bahwa keputusan tersebut salah. Kalau tidak salah, mengapa ingin diubah? Secara logis memang demikian. Masalahnya, walaupun kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, pikiran tetap mengulang kejadian itu berkali-kali. “Itu keputusan yang salah. Seandainya saya bisa kembali, saya pasti akan mengubahnya.” Namun, siapa tahu, seandainya kita sungguh-sungguh dapat kembali dan mengambil keputusan yang berbeda, ketika tiba lagi di masa depan kita tetap akan menyebut keputusan baru itu salah. Kita mengubahnya sepuluh kali pun, mungkin sepuluh kali pula pikiran menemukan alasan untuk menyalahkannya. Kadang-kadang memang begitulah kebiasaan pikiran kita: segala sesuatu dijadikan serba salah.

Ada perbedaan yang sangat besar antara mengatakan, “Saya melakukan kesalahan,” dan mengatakan, “Saya adalah orang yang salah.” Kalimat pertama menunjuk pada suatu tindakan. Kita telah melakukan sesuatu yang ternyata kurang tepat, dan itu dapat dilihat, dipelajari, diperbaiki, atau tidak diulangi. Namun, kalimat kedua mengubah sebuah tindakan menjadi identitas. Karena pernah mengambil satu keputusan yang keliru, kita menyimpulkan, “Saya adalah orang yang selalu membuat keputusan salah. Saya memang orang yang tidak baik.” Tanpa disadari, kita membungkus seluruh diri dengan satu label yang lahir dari satu kejadian.

Bayangkan kita mengambil sepuluh keputusan. Sembilan di antaranya ternyata baik, sedangkan satu keputusan kita anggap salah. Anehnya, satu keputusan itu dapat mengalahkan sembilan keputusan lainnya. Kita lalu menilai seluruh diri hanya berdasarkan satu bagian kecil tersebut. Hal yang sama juga kita lakukan kepada orang lain. Seseorang mungkin telah sembilan kali berbuat baik kepada kita. Namun, ketika satu kali ia sedang kesal lalu berkata atau bertindak kasar, sembilan kebaikannya seolah-olah lenyap. Persahabatan yang telah berlangsung lama bahkan dapat berakhir karena satu kejadian. Sungguh menyedihkan apabila satu kesalahan membuat kita menderita selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidup.

Ada peribahasa yang mengatakan, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Namun, siapa tahu karena nila setitik, susu itu hanya berubah warna dan justru menjadi lebih menarik? Kita dapat belajar melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Ini bukan berarti kita mengabaikan perbuatan yang menyakitkan atau berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa. Kita hanya belajar agar tidak menjadikan satu perbuatan sebagai keseluruhan identitas seseorang. Keputusan yang keliru tidak berarti kita adalah manusia yang sepenuhnya keliru. Demikian pula, ketika orang lain melakukan kesalahan, kesalahan tersebut belum tentu mewakili seluruh dirinya.

Setiap orang memiliki benih kekerasan, kemarahan, dan kekejaman. Namun, kita tidak hanya mempunyai benih-benih itu. Di dalam diri kita juga terdapat benih kebaikan, pengertian, kelembutan, dan kasih. Kalau kita hanya melihat satu tindakan buruk lalu berkata, “Saya jahat. Saya kejam. Saya salah,” kita sedang mengabaikan begitu banyak bagian lain di dalam diri. Karena itu, ada sebuah latihan yang sederhana: katakanlah, “Saya benar setengah.” Kalimat ini sebaiknya kita tujukan kepada diri sendiri, bukan digunakan untuk berkata kepada orang lain, “Kamu hanya benar setengah,” karena itu mungkin malah mengundang pertengkaran.

“Saya benar setengah” berarti saya bersedia menyediakan ruang bagi kemungkinan bahwa ada sesuatu yang belum saya lihat. Dalam bahasa lain, kita bisa mengatakan, I’m partially correct atau I’m partially wrong. Saya benar sebagian dan mungkin keliru sebagian. Ketika saya mengakui bahwa saya hanya memegang separuhnya, saya menyediakan separuh ruang yang lain untuk mendengarkan dan memahami orang lain. Banyak pertengkaran terjadi karena kita berpegang pada pandangan, “Saya benar sepenuhnya dan kamu salah sepenuhnya.” Kalau masing-masing bersedia mengurangi sedikit kepastian terhadap pandangannya sendiri, barangkali akan muncul ruang untuk saling mengerti.

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana penilaian terhadap masa lalu hampir membuat saya mengambil keputusan yang kurang adil. Setiap tahun, komunitas kami di Plum Village Thailand membuka sebuah program latihan selama tiga bulan. Karena peserta akan tinggal cukup lama bersama komunitas, mereka perlu mengirimkan surat aspirasi, mendaftar, dan mengikuti wawancara. Kami ingin memastikan bahwa mereka sungguh-sungguh datang untuk berlatih dan mampu hidup bersama komunitas.

Pada suatu tahun, ada seseorang yang mendaftar. Ia pernah mengikuti program serupa dua tahun sebelumnya. Begitu melihat namanya, saya langsung teringat bahwa dahulu ia banyak mengeluh. Kamar dikomplain, makanan dikomplain, cara kami mengatur sampah juga dikomplain. Apa saja sepertinya dapat menjadi bahan keluhan. Dalam hati saya langsung berkata, “Maaf, orang ini tidak akan saya terima. Kalau datang lagi, nanti hanya akan menimbulkan banyak masalah.”

Saya tidak segera mengirimkan penolakan. Saya memberi waktu sekitar satu minggu, meskipun di dalam hati sebenarnya keputusan sudah hampir seratus persen diambil. Dua hari sebelum mengirimkan surel penolakan, saya berbicara dengan seorang brother, saudara monastik yang mengelola program bersama saya. Saya menjelaskan pengalaman kami dengan orang tersebut dan mengatakan bahwa menurut saya ia sebaiknya ditolak. Brother itu lalu bertanya, “Sudah kamu tolak?” Saya menjawab bahwa surelnya baru akan dikirim dua hari lagi. Ia kemudian meminta kesempatan untuk mewawancarai orang tersebut terlebih dahulu.

Setelah wawancara, brother itu berkata, “Orang ini baik. Setelah berbicara dengannya, saya merasa dia cukup bagus. Saya ingin menerimanya.” Sekarang keadaannya menjadi setengah-setengah: saya ingin menolak, sedangkan brother itu ingin menerima. Akhirnya saya berkata, “Baiklah, kita terima. Tetapi kalau nanti ada masalah, kamu yang mengurus.” Ia pun setuju.

Orang tersebut akhirnya datang mengikuti program. Ternyata, setelah satu bulan berlalu, ia sama sekali tidak mengajukan keluhan. Ia mengikuti jadwal dengan rajin, bekerja dengan baik, hadir tepat waktu, mengikuti kelas, dan mengerjakan jurnal sebagaimana diminta. Saya mulai berpikir, “Untung juga orang ini tidak jadi saya tolak.” Dua tahun sebelumnya ia memang banyak mengeluh, tetapi dalam dua tahun itu rupanya telah terjadi perubahan dalam dirinya.

Hal yang lebih mengejutkan terjadi ketika salah seorang peserta jatuh sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Orang yang dahulu saya anggap sebagai pembuat masalah ini dengan sukarela mengantar dan menemani temannya. Ia bahkan tinggal di rumah sakit selama empat atau lima hari untuk membantu merawatnya. Brother yang dahulu mewawancarainya tentu saja meledek saya, “Lihatlah orang yang kamu bilang suka mengeluh itu. Ia rajin, tidak membuat masalah, dan sekarang dengan sukarela menjaga temannya di rumah sakit.”

Saya merasa sangat bersyukur karena pada saat itu tidak langsung mengikuti penilaian saya sendiri. Seandainya ia benar-benar saya tolak hanya berdasarkan kejadian dua tahun sebelumnya, keputusan itu mungkin tidak adil baginya. Saya telah menggunakan satu titik di masa lalu sebagai gambaran utuh tentang dirinya pada masa kini. Padahal, dua tahun adalah waktu yang cukup panjang. Banyak hal dapat terjadi, dan seseorang dapat berubah.

Apakah penilaian awal saya sepenuhnya salah? Tidak juga. Informasi yang saya miliki memang berasal dari pengalaman nyata. Dua tahun sebelumnya, orang tersebut memang banyak mengeluh dan menimbulkan kesulitan bagi komunitas. Jadi, masa lalu boleh dijadikan referensi, tetapi sebaiknya hanya sebagai salah satu titik pertimbangan, bukan sebagai vonis yang menentukan seluruh masa depan seseorang. Masa lalu cukup menjadi guru. Ia tidak perlu dijadikan penjara.

Ketika melihat kembali kejadian itu dengan jujur, saya menyadari ada beberapa hal yang bekerja di dalam diri. Pertama, saya menggunakan informasi lama. Kedua, ada rasa takut akan direpotkan. Saya membayangkan bahwa kalau orang tersebut diterima, ia akan kembali mengeluh dan menambah pekerjaan saya. Namun, di tengah keyakinan itu masih ada sedikit keraguan: apakah tidak sebaiknya saya memberinya kesempatan? Keraguan kecil itulah yang membuat saya meminta pendapat brother yang bekerja bersama saya.

Meminta pandangan orang lain bukan berarti kita tidak mempunyai pendirian atau mudah berubah-ubah. Kadang-kadang kita membutuhkan mata lain untuk melihat bagian yang tidak terlihat oleh mata kita sendiri. Setelah keputusan diambil, kita tetap bertanggung jawab menjalankannya. Kalau ternyata peserta tersebut kembali banyak mengeluh, kami dapat mengajaknya duduk bersama dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Jadi, menerima seseorang tidak berarti kami kehilangan pilihan. Masih ada banyak hal yang dapat dilakukan jika masalah benar-benar muncul.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan kita. Ketika hendak mengambil keputusan, cobalah melihat informasi apa yang sedang kita gunakan. Apakah kita hanya memakai pengalaman lama? Adakah ketakutan, kemarahan, atau keengganan untuk direpotkan yang ikut memengaruhi pilihan kita? Adakah kemungkinan lain yang belum kita beri ruang? Setelah melihat semuanya dengan lebih jernih, kita tetap boleh mengatakan “ya” ataupun “tidak”. Keduanya dapat menjadi keputusan yang baik apabila diambil dengan kesadaran dan kedamaian.

Kalaupun kemudian kita merasa keputusan itu keliru, kita tidak perlu terus-menerus menyalahkan diri. Kita boleh berkata, “Barangkali keputusan ini memang kurang tepat, tetapi tidak benar-benar salah. Mungkin salahnya hanya setengah.” Setelah itu, lihatlah apa yang masih dapat dilakukan. Apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki, seseorang yang perlu diajak berbicara, atau tindakan yang dapat mengurangi akibat dari keputusan tersebut? Penyesalan tidak harus berubah menjadi hukuman seumur hidup. Ia dapat menjadi pintu menuju pengertian.

Karena itu, seandainya kita diberi kesempatan kembali ke masa lalu untuk mengubah satu hal, barangkali kita tidak perlu kembali sama sekali. Keputusan itu telah diambil oleh diri kita yang hidup pada waktu itu, dengan pemahaman, keadaan, ketakutan, dan informasi yang tersedia saat itu. Hari ini kita mungkin dapat melihatnya dengan lebih luas. Namun, keluasan pandangan hari ini juga tumbuh dari pengalaman yang dahulu kita anggap sebagai kesalahan.

Biarkan masa lalu menjadi guru, bukan hakim. Akuilah apa yang perlu diakui, perbaikilah apa yang masih dapat diperbaiki, lalu lepaskan kebutuhan untuk menjadikan satu keputusan sebagai identitas diri. Kita pernah melakukan kesalahan, tetapi kita bukanlah kesalahan itu. Kita adalah kehidupan yang terus bergerak, belajar, dan berubah. Seperti suara kodok yang tetap sama sementara hubungan kita dengannya berubah, barangkali masa lalu pun tidak harus dihapus. Yang dapat berubah adalah cara kita memandang, memahami, dan berdamai dengannya.

Tariklah napas perlahan dan kembali ke saat ini. Dengarkan suara genta hingga ke akarnya. Tidak perlu mengubah masa lalu. Cukup hadir, melihat kembali dengan jernih, lalu melangkah ke depan dengan lebih banyak pengertian dan kasih

Dari Dhamma talk “Tidak Benar Benar Salah” oleh Br. Pháp Tử ( Plum Village )


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.