Santuṭṭhiparamaṃ Dhanaṃ

Kepuasan Hati adalah Kekayaan Tertinggi

Ārogyaparamā lābhā,
santuṭṭhiparamaṃ dhanaṃ;
vissāsaparamā ñāti,
nibbānaṃ paramaṃ sukhaṃ.

Kesehatan adalah keuntungan yang tertinggi,
kepuasan hati adalah kekayaan yang tertinggi;
kepercayaan adalah kerabat yang terbaik,
Nibbāna adalah kebahagiaan yang tertinggi.

— Dhammapada 204

Ada kemiskinan yang tidak dapat diselesaikan dengan menambah harta. Kita mungkin memiliki lebih banyak, mencapai lebih tinggi, dikenal lebih luas, tetapi batin masih berbisik: belum cukup.

Belum cukup berhasil. Belum cukup dihargai. Belum cukup aman. Belum cukup memiliki.

Bila suara ini terus diikuti, tidak ada jumlah yang benar-benar dapat menyelesaikannya. Sebab masalahnya bukan terletak pada berapa banyak yang kita miliki, melainkan pada batin yang belum mengenal kata cukup.

Karena itulah Buddha mengatakan, santuṭṭhiparamaṃ dhanaṃ — kepuasan hati adalah kekayaan tertinggi.

Santuṭṭhi bukan berarti berhenti bekerja, berhenti berkembang, atau tidak mempunyai cita-cita. Seorang yang puas hati tetap dapat bekerja dengan tekun. Ia tetap dapat belajar, membangun sesuatu, merawat keluarga, dan melakukan yang terbaik. Yang berubah adalah tempat dari mana semua itu dilakukan.

Ia tidak lagi bekerja untuk membuktikan bahwa dirinya berharga. Ia tidak harus memiliki lebih banyak agar merasa utuh. Ia melakukan apa yang perlu dilakukan, tetapi kebahagiaannya tidak terus-menerus ditunda sampai sesuatu tercapai.

Di sinilah santuṭṭhi berbeda dengan menyerah.

Menyerah berkata, “Sudahlah, tidak perlu berusaha.” Santuṭṭhi berkata, “Aku akan berusaha sepenuh hati, tetapi apa yang ada saat ini pun sudah dapat kuterima.” Ada kebebasan yang sangat besar di sana.

Kita masih boleh mempunyai tujuan, tetapi tujuan tidak lagi menjadi syarat untuk berdamai dengan kehidupan. Kita masih boleh memperbaiki keadaan, tetapi tidak perlu membenci keadaan sekarang untuk melakukannya.

Sedikit demi sedikit, kita mulai melihat bahwa rasa cukup tidak datang ketika akhirnya kita memiliki semuanya. Rasa cukup muncul ketika batin berhenti menuntut kehidupan untuk selalu menjadi lebih dari apa yang sedang ada.

Mungkin inilah salah satu bentuk kekayaan yang paling sulit terlihat.

Memiliki makanan sederhana dan dapat menikmatinya. Memiliki tempat untuk beristirahat dan merasa cukup. Melihat tubuh masih dapat bernapas dan berjalan. Duduk bersama seseorang yang kita kasihi tanpa merasa harus mencari sesuatu yang lain.

Hal-hal biasa kembali menjadi berharga ketika batin tidak terus berlari. Santuṭṭhi membuat kehidupan sederhana terasa luas.

Bukan karena dunia memberikan kita semuanya, tetapi karena untuk sesaat kita berhenti meminta dunia mengisi sesuatu yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan di dalam hati.

Dan mungkin pada suatu hari kita akan mengerti mengapa Buddha menyebutnya kekayaan tertinggi: bukan karena kita akhirnya mempunyai banyak, melainkan karena kita tidak lagi merasa miskin di hadapan kehidupan.

Gāthā

Semoga aku bekerja tanpa diperbudak pencapaian,
memiliki tanpa takut kehilangan.
Yang datang, kuterima.
Yang pergi, kulepaskan.
Dan di tengah kehidupan yang terus berubah,
semoga hati ini belajar mengenal:
cukup.


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.