Ada satu kalimat yang diam-diam sering hidup di dalam batin kita: “Sedikit lagi.”
Sedikit lagi uangnya. Sedikit lagi suksesnya. Sedikit lagi pengakuannya. Sedikit lagi nyaman. Sedikit lagi sampai semuanya terasa aman.
Kita tidak pernah merasa menginginkan terlalu banyak. Kita hanya ingin sedikit lagi. Namun mungkin justru di situlah permainan batin yang paling halus. Karena ketika “sedikit lagi” itu akhirnya tiba, garis yang bernama cukup bergeser sedikit lebih jauh.
Dulu kita berpikir, “Kalau sudah sampai di sini, saya akan tenang.” Setelah sampai, ternyata muncul tempat lain yang harus dicapai. Dulu kita merasa jumlah tertentu sudah cukup. Ketika jumlah itu telah ada, batin mulai menghitung kemungkinan berikutnya.
Bukan karena apa yang kita miliki terlalu sedikit, tetapi karena keinginan mempunyai satu kebiasaan: ia pandai memindahkan garis akhir.
Karena itu, rasa cukup mungkin tidak pernah benar-benar ditemukan dengan terus menambahkan sesuatu dari luar. Persoalannya bukan selalu berapa banyak yang kita miliki, melainkan batin yang terus berkata, belum.
Dalam Dhammapada 204 terdapat sebuah kalimat sederhana:
Santuṭṭhi paramaṃ dhanaṃ.
Kepuasan adalah kekayaan tertinggi.
Santuṭṭhi bukan berarti kehilangan cita-cita. Bukan berarti berhenti bekerja, berhenti berkembang, atau tidak lagi berusaha melakukan sesuatu dengan baik. Kita masih boleh membangun, berkarya, merencanakan hari esok, dan berjalan sejauh yang mampu kita jalani.
Tetapi ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena ingin bertumbuh dan melakukan sesuatu karena merasa apa yang ada tidak pernah cukup. Yang pertama dapat berjalan dengan ringan. Yang kedua tidak pernah benar-benar sampai.
Santuṭṭhi adalah kemampuan untuk berada di tengah kehidupan dan menyadari, “Yang ada sekarang sudah cukup untuk membuat hati ini tidak merasa kekurangan.”
Mungkin besok kita masih akan menambah sesuatu. Tidak apa-apa. Tetapi kebahagiaan tidak perlu menunggu besok.
Inilah kekayaan yang aneh. Ia tidak bertambah ketika kita memperoleh semakin banyak. Ia justru mulai terasa ketika kebutuhan untuk terus menambah perlahan berkurang.
Barangkali kebebasan bukan ketika akhirnya kita memiliki cukup banyak sehingga tidak menginginkan apa-apa lagi. Barangkali kebebasan muncul ketika, di tengah segala sesuatu yang masih belum sempurna, batin tidak lagi berkata, “Sedikit lagi, baru saya bahagia.”
Ia hanya melihat apa yang ada. Dan menyadari bahwa untuk saat ini, tidak ada yang kurang.
Santuṭṭhi paramaṃ dhanaṃ.
Kepuasan adalah kekayaan tertinggi.
Cukup bukanlah sebuah angka yang suatu hari akan kita capai. Cukup adalah ketika batin berhenti memindahkan garisnya.
Tidak perlu menunggu sedikit lagi.
Tidak perlu memiliki sedikit lebih banyak.
Ketika hati mengenal cukup,
yang sederhana pun menjadi kekayaan.
(CG)


