Pernahkah kita membuka sosmed, lalu tiba-tiba merasa ada saja yang kurang? Baru beberapa menit scroll, sepatu yang tadinya baik-baik saja mendadak terasa perlu diganti. “Eh, sepatu ini bagus. Baju itu juga lucu. Sepertinya saya butuh.” Padahal sebelum membuka hape, semuanya terasa cukup.
Yang muncul bukan hanya keinginan untuk berbelanja. Kadang kita melihat gambaran tentang hidup yang ideal, lalu mulai merasa, “Saya harus melakukan ini. Kalau tidak, berarti saya gagal atau bukan orang yang cukup baik.” Di waktu lain, algoritme menyajikan rentetan video yang membuat hati semakin pahit. Kita ikut berpikir, “Memang dasar pemerintah tak becus,” atau, “Memang hidup ini melelahkan sekali,” disusul segala macam sinisme lainnya.
Sekilas, reel semacam itu tampak lucu, apalagi ketika dibungkus dengan visual dan suara yang menghibur. Namun kalau diamati lebih dalam, setelah tawa itu ada rasa lelah, kesal, bahkan kebencian yang ikut tertinggal.
Akhirnya, hampir semuanya membawa pesan yang sama: masih ada yang kurang. Saya kurang. Barang saya kurang. Kehidupan saya kurang. Lingkungan saya kurang. Benar-benar tidak pernah cukup. Mungkin memang begitulah algoritme bekerja. Ia hidup dari keinginan penontonnya. Semakin kita menginginkan, membandingkan, marah, atau penasaran, semakin lama pula kita bertahan di sana.
Harus diakui, banyak juga akun yang baik dan menebarkan hal-hal positif. Postingan semacam itu berguna, terutama ketika kita sedang lelah, sedih, atau kehilangan motivasi. Anehnya, unggahan tentang belanjaan dan meme yang sinis sering terasa lebih menarik. Mungkin karena keduanya sama-sama membangkitkan sensasi yang kuat: yang satu membuat kita menginginkan sesuatu, sementara yang lain memberi tempat bagi kejengkelan. Keduanya membuat batin terus bergerak.
Saya rasa manusia memang mudah merasa tidak puas ketika keadaan sedang biasa-biasa saja. Saat tidak ada yang istimewa, kita mulai mencari apa yang kurang. Kita mengejar sensasi, bahkan ketika sensasi itu tidak sepenuhnya menyenangkan. Seolah hidup harus terasa sedap-sedapnya atau sekalian ngeri-ngeri sedap, agar kita merasa benar-benar hidup.
Namun jika dirasakan lebih dalam, semua ini terasa seperti jebakan. Kita bagai terjerat dalam rat race, berlari di sebuah labirin tanpa tahu ke mana arahnya. Kadang menemui jalan buntu, kadang menabrak dinding, lalu berputar lagi. Yang pasti, lama-lama pusing. Anehnya, kita sering menganggap inilah realitas kehidupan: terus berputar dalam labirin yang bentuknya pun tidak kita ketahui.
Apakah putaran itu membahagiakan atau justru melelahkan? Sejujurnya, lama-lama saya merasa lelah. Mengapa harus mengejar semuanya? Mau ke mana, sih? Sebenarnya saya sedang mencari apa?
Dari rasa lelah itu, muncul perasaan lain: cukup sudah. Hape diletakkan. Saya tidak membutuhkan semua itu. Sepatu saya sudah cukup. Berita itu membuat mumet. Reel-nya kok jutek, saya jadi ikut jutek. Begitu layar diletakkan, rasa lega perlahan kembali ke hati. Napas terasa lebih lapang. Pikiran yang tadinya riuh mulai hening dan kembali merasa cukup dengan apa adanya.
Di zaman yang dipenuhi informasi dan iklan dagangan yang datang silih berganti bagai cobaan hidup, kemampuan memperhatikan hati dan menyadari gerak pikiran menjadi semakin penting. Pelan-pelan kita belajar mengenali apa yang sungguh dibutuhkan, entah benda, suatu gagasan, maupun hiburan. Apakah semua itu meringankan hati atau justru memberatkannya?
Latihan kesadaran bukanlah sesuatu yang asing, apalagi hanya dapat dilakukan ketika duduk bermeditasi. Ia bisa dimulai dari hal yang sangat sehari-hari: membuka hape, lalu menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri. Keinginan tidak perlu dimusuhi, tetapi tidak semuanya harus dituruti. Kekesalan tidak perlu ditekan, tetapi kita pun tidak harus membiarkannya membawa kita ke mana-mana.
Ini bukan tentang menghindari hape atau meninggalkan sosmed, melainkan menjadi lebih sadar agar kita tidak begitu saja terbawa arus yang belum tentu baik bagi hati. Sesekali, kita bisa berhenti, meletakkan layar, dan kembali kepada satu hal yang tidak sedang menjual apa pun kepada kita: napas.
Bonusnya, kantong pun aman karena tidak kebablasan belanja. Haha.
Jadi, beginilah latihan yang sederhana dan merakyat : Berhenti. Sadari. Kembali ke napas.
Breathe. You have enough.
You are enough.
(DS/源隨心)


