Berlayar ke Lautan Tanpa Nama

Ketika kita mendengar frasa praktik Dhamma, pikiran langsung terbang kepada suatu praktik yang spesifik, mungkin penuh ritual atau kompleksitas. Namun praktik Ini sebenarnya bukan hal yang rumit ataupun dibuat ribet dan tidak perlu dibuat pusing. Ia adalah latihan untuk mendengarkan dan memahami batin sendiri: apa yang sedang dirasakan, apa yang muncul, bagaimana ia muncul, dan apa sesungguhnya yang tengah terjadi. Perlahan, kita belajar melihat batin sebagaimana adanya. 

Ini mengingatkan saya pada satu kata dalam bahasa Pali, opanayiko, salah satu kualitas Dhamma yang dibaca saat merenungkan Dhamma (Dhammanusati), yang dapat diartikan menuntun kedalam diri. Bagi saya, kata ini bagai menunjukkan suatu perjalanan ke dalam diri sendiri. Ini bagai berlayar menuju sebuah lautan yang sebenarnya telah ada sejak awal, tetapi selama ini tidak disadari keberadaannya.

Tidak ada sesuatu yang heroik atau spektakuler dalam perjalanan ini. Latihannya justru berlangsung dalam momen-momen biasa, belajar hadir bagi saat ini dan bagi diri sendiri. Melihat bagaimana gelombang bergerak di lautan batin. Belajar menjaga agar kapal tidak tenggelam atau tersapu ombak. Mungkin semua ini terdengar seperti permainan metafora, tetapi beginilah latihan yang sesungguhnya. Dan menjalaninya sungguh tidak mudah.

Kita telah begitu lama hidup dengan mengandalkan pikiran. Berpikir tentu bukan sesuatu yang salah. Memang begitulah sifat dan tugas pikiran. Namun, kita sering terperangkap di dalamnya, berputar-putar bersama pikiran, lalu tanpa sadar menambahkan lebih banyak pikiran ke dalam pusaran itu.

Pada awal menapaki jalan ini, semuanya sekilas tampak mudah. Kita belajar, membaca, kemudian mencoba memahaminya dengan berpikir. Namun, sekuat apa pun kita berpikir, pemahaman melalui pikiran saja bukanlah pemahaman yang dimaksud. Kita mungkin merasa telah mengerti, tetapi pengertian itu belum sungguh menyentuh batin.

Pemahaman yang sesungguhnya lahir dari pengalaman langsung. Ia dipahami oleh batin atau mungkin, secara sederhana, dapat kita sebut sebagai hati. Dhamma perlu dipahami dengan hati, bukan hanya dengan otak.

Sejujurnya, bagi saya, memahami sesuatu dengan pikiran terasa jauh lebih mudah. Sejak kecil, kita telah diajari di sekolah untuk memahami berbagai konsep, dari kata-kata hingga angka. Karena itu, menambahkan satu konsep baru bukanlah sesuatu yang terlalu rumit.

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui cara belajar yang sama seperti di sekolah. Dhamma tidak berhenti sebagai konsep. Ia menunjuk melampaui pemikiran, menuju batin, jauh ke dalam hati. Untuk memahaminya, kita perlu masuk dan melihat sendiri, menyelami batin, berlayar di lautan yang ada di dalam diri.

Lalu, bagaimana caranya berlayar di lautan tanpa nama ini?

Lautan itu terasa begitu asing, seperti sebuah tempat yang entah mengapa dirindukan, meskipun belum pernah benar-benar dikenal. Selama ini saya membaca dan memenuhi pikiran dengan berbagai konsep. Namun, ketika benar-benar berada di lautan ini, mengapa saya justru merasa gamang?

Di sinilah saya mulai menyadari bahwa ini adalah perjalanan hati, bukan perjalanan seorang pemikir. Rupanya, inilah yang selama ini coba ditunjukkan oleh buku-buku itu. Begini rupanya yang dirasa. 

Sepanjang hidup, kita dikelilingi oleh nama dan label, dijejali berbagai konsep dan informasi. Saya adalah ini. Saya melakukan itu. Saya harus begini. Saya tidak boleh begitu. Ini seperti ini; itu seperti itu. Hidup kita penuh dengan berbagai rumusan tentang siapa diri kita dan bagaimana segala sesuatu seharusnya.

Di manakah semua konsep itu berada? Di dalam pikiran. Ia menjadi bahan baku sekaligus hasil produksi pikiran. Ketika kita mulai berlayar ke dalam diri, konsep-konsep inilah yang terkadang justru mengaburkan pandangan.

Sebab lautan batin tidak memiliki nama ataupun konsep. Ia hadir sebagai sesuatu yang langsung dirasakan, jujur dan apa adanya. Kadang terasa nyaman, kadang terasa menyakitkan. Namun, begitulah ia hadir, seperti ombak yang datang lalu pergi. Ini lah rasanya berlayar kedalam diri. 

Di sini saya berada,

tanpa nama, tanpa perlu menjadi siapa-siapa.

Duduk hening di atas bahtera,

bersama ombak yang datang dan reda.

(DS/源隨心)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.