Ada sore ketika tidak terjadi apa-apa. Pekerjaan utama sudah selesai, tidak ada kabar buruk, dan tidak ada urusan yang benar-benar mendesak. Namun tangan tetap meraih ponsel. Kita membuka satu aplikasi, menutupnya, lalu membuka aplikasi lain. Bukan karena ada sesuatu yang dicari. Kita hanya tidak tahu harus berbuat apa ketika hidup sedang biasa-biasa saja.
Kegelisahan sering datang dengan penyamaran yang tampak wajar. Memeriksa pesan sekali lagi, mencari tontonan tetapi tidak pernah benar-benar menonton, menyusun rencana baru sebelum rencana lama dijalankan, atau membeli sesuatu hanya agar hari terasa sedikit berbeda. Tubuh mungkin tidak pergi ke mana-mana, tetapi di dalam diri selalu ada dorongan untuk berpindah.
Mungkin kita sudah terlalu terbiasa menganggap hidup sebagai sesuatu yang harus terus menarik. Jika tidak ada kemajuan, kejutan, pencapaian, atau cerita untuk dibagikan, hari terasa seperti tidak menghasilkan apa-apa. Kita lupa bahwa tidak semua waktu harus menjadi berkesan. Ada waktu yang hanya perlu dijalani.
Yang luar biasa memang menyenangkan, tetapi ia hanya datang sesekali. Yang membesarkan dan menopang kita justru hal-hal yang berulang: makanan yang hampir sama, jalan yang sudah berkali-kali dilewati, pekerjaan yang kembali menunggu, serta orang rumah yang mungkin menceritakan hal serupa untuk kesekian kalinya. Yang biasa tidak pandai menarik perhatian, tetapi di sanalah sebagian besar kehidupan berlangsung.
Merasa cukup dengan yang biasa bukan berarti berpura-pura bahwa semua pekerjaan rumah menyenangkan atau setiap hari harus disyukuri dengan penuh semangat. Ada rutinitas yang membosankan. Ada hari yang melelahkan. “Cukup” hanya berarti kita tidak menambahkan penolakan pada semuanya. Hari ini mungkin tidak istimewa, tetapi ia tidak gagal menjadi kehidupan.
Kemampuan ini dibangun melalui hal-hal kecil. Membiarkan lampu merah hanya menjadi lampu merah, tanpa buru-buru mencari hiburan. Menyelesaikan makan tanpa ditemani layar. Mendengarkan cerita anak yang sudah pernah kita dengar tanpa segera memotongnya. Membiarkan hari Minggu tidak berubah menjadi proyek perbaikan diri. Bukan tindakan besar, hanya kesediaan untuk tidak selalu menambahkan sesuatu.
Ketenangan tidak dapat diminta mendadak ketika tubuh akhirnya berhenti. Jika sepanjang hari setiap jeda segera diisi dan setiap kebosanan buru-buru disingkirkan, pikiran akan membawa kebiasaan itu ke mana pun kita duduk. Karena itu, hubungan kita dengan ketenangan sesungguhnya dibentuk di tengah antrean, perjalanan pulang, pekerjaan rumah, dan beberapa menit kosong yang biasanya ingin segera kita lewatkan.
Pada akhirnya, merasa cukup bukanlah kalimat untuk meyakinkan diri. Ia adalah kepercayaan bahwa suatu momen tidak perlu menjadi menarik agar layak dihuni. Tidak ada yang harus ditambahkan supaya hari ini sah. Kita boleh mempunyai cita-cita dan tetap bergerak maju, tetapi kita tidak perlu membuat kehidupan biasa terasa seperti ruang tunggu menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Sebab mungkin tidak ada kehidupan lain yang sedang kita tunggu. Inilah kehidupan itu—kadang ramai, kadang indah, dan lebih sering biasa saja. Dan yang biasa ini, ternyata, cukup.
Gāthā
Tak ada yang harus terjadi sekarang.
Hari ini boleh biasa saja.
Aku tidak sedang kehilangan kehidupan
kehidupan sedang berlangsung di sini.
(CG)


