Berjuang Tanpa Menggenggam

Ada sebuah permainan yang bertanya, “How low can you go?” Tetapi dalam meditasi, kadang saya merasa permainannya sedikit berbeda: “How far can you let go?” Seberapa jauh kita bisa melepaskan? Pertanyaan ini terasa sederhana ketika kita sedang duduk diam. Kita belajar melepaskan pikiran yang datang, keinginan agar keadaan menjadi seperti yang kita mau, bahkan keinginan untuk mendapatkan pengalaman meditasi tertentu. Tetapi permainan yang sebenarnya mungkin baru dimulai ketika kita bangkit dari tempat duduk dan kembali ke kehidupan sehari-hari—ke dunia kerja, target, persaingan, pencapaian, uang, reputasi, dan segala sesuatu yang terasa begitu penting bagi kita.

Melepaskan tentu tidak berarti berhenti berusaha. Kita tetap boleh bekerja keras, mempunyai target, ingin berkembang, ingin menjadi lebih baik dalam apa yang kita kerjakan, bahkan ingin berhasil. Ambisi itu sendiri tidak selalu menjadi masalah. Yang mulai membebani adalah ketika hasil dari semua usaha itu perlahan berubah menjadi ukuran tentang siapa diri kita. Ketika berhasil, kita merasa diri kita berharga. Ketika gagal, bukan hanya rencana yang gagal—seolah-olah kita juga ikut menjadi sebuah kegagalan. Pujian membuat kita terbang, kritik membuat kita jatuh. Keberhasilan orang lain mulai terasa mengancam, dan tanpa sadar hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Mungkin di sinilah latihan melepaskan menjadi menarik. Kita tidak perlu keluar dari arena. Kita masih boleh masuk, berlari sekuat tenaga, belajar, memperbaiki diri, mengambil kesempatan, dan memberikan yang terbaik. Tetapi kita belajar untuk tidak menyerahkan kedamaian hati kepada papan skor. Menang, kita melanjutkan perjalanan. Kalah, kita belajar lalu melanjutkan perjalanan. Dipuji, kita mendengarnya. Dikritik, kita memeriksanya. Kesempatan datang, kita mengambilnya. Kesempatan berlalu, kita melepaskannya. Tidak semua yang datang harus dipertahankan, dan tidak semua yang pergi harus dikejar kembali.

Melepaskan bukan berarti tidak peduli terhadap hasil. Kita tentu masih berharap sesuatu berjalan dengan baik. Hanya saja kita mulai menyadari bahwa ada bagian yang dapat kita kerjakan dan ada bagian yang memang tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kita dapat mempersiapkan, menanam, merawat, dan memberikan seluruh kemampuan yang kita punya. Setelah itu, kehidupan mempunyai jalannya sendiri. Barangkali kedewasaan bukanlah ketika kita berhenti mempunyai keinginan, tetapi ketika kita mampu berkata, “Aku sungguh menginginkan ini, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkannya, tetapi kalau kehidupan berkata lain, aku akan tetap baik-baik saja.”

Yang lebih sulit mungkin adalah melepaskan perbandingan. Dunia memang kompetitif. Akan selalu ada seseorang yang lebih cepat, lebih dikenal, lebih kaya, lebih berbakat, atau tampaknya lebih berhasil. Kita tidak dapat menghentikan kenyataan itu. Tetapi kita dapat berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kehidupan kita sendiri. Keberhasilan seseorang tidak mengambil apa pun dari diri kita. Kita dapat melihat orang lain maju, mengakui bahwa mereka memang melakukan sesuatu dengan baik, bahkan ikut berbahagia untuk mereka, lalu kembali mengerjakan apa yang ada di depan kita.

Anehnya, ketika genggaman terhadap keberhasilan mulai berkurang, usaha kita tidak selalu menjadi lebih lemah. Kadang justru sebaliknya. Pikiran menjadi lebih jernih karena begitu banyak energi yang sebelumnya habis untuk takut kalah, takut tidak dianggap, membandingkan diri, mempertahankan citra, dan membayangkan apa yang dipikirkan orang lain sekarang dapat kembali kepada pekerjaan itu sendiri. Kita bekerja bukan karena terus-menerus harus membuktikan bahwa kita cukup baik. Kita bekerja karena pekerjaan itu memang layak dikerjakan dengan baik.

Maka mungkin “How far can you let go?” bukan hanya sebuah permainan di atas bantal meditasi. Permainan itu mengikuti kita ke kantor, ke rumah, ke dalam hubungan, ke rekening bank, ke media sosial, bahkan ke tempat-tempat di mana ambisi kita paling kuat. Seberapa jauh kita dapat bekerja tanpa menggenggam hasil? Seberapa jauh kita dapat berhasil tanpa membangun identitas dari keberhasilan? Seberapa jauh kita dapat gagal tanpa kehilangan diri? Seberapa jauh kita dapat menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, tetapi tetap mempunyai tangan yang cukup terbuka untuk melepaskannya ketika waktunya tiba?

Kita tidak harus memilih antara menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh atau melepaskan. Mungkin keduanya justru dapat berjalan bersama. Bekerja sepenuh hati, tetapi tidak menjadi keras. Berusaha sungguh-sungguh, tetapi tidak terus-menerus membuktikan diri. Berani masuk ke dalam persaingan, tetapi tidak kehilangan kebaikan hati. Menginginkan keberhasilan, tetapi tidak menjadikannya syarat untuk merasa cukup.

Dan mungkin pada akhirnya permainan hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita genggam.

Melainkan seberapa jauh kita bisa berjalan sambil tetap memiliki tangan yang terbuka.

Gāthā

Aku tetap berjalan,
namun tak harus menggenggam jalan.

Aku memberikan yang terbaik,
lalu membiarkan kehidupan menjawabnya.

Menang ataupun kalah,
datang ataupun pergi,
biarlah tangan ini tetap terbuka.

Bekerja sepenuh hati,
melepaskan sepenuh hati.

Di tengah dunia yang terus berlomba,
semoga langkah tetap teguh,
dan hati tetap ringan.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.