Kita sering berbicara tentang meditasi dari sisi teknik. Bagaimana posisi duduk yang benar, bagaimana mengikuti napas, bagaimana kembali ketika pikiran mengembara, berapa lama sebaiknya duduk, mata terbuka atau tertutup, memperhatikan napas di hidung atau di perut. Semua itu memang berguna. Teknik memberi kita sebuah struktur untuk berlatih. Tetapi semakin lama saya berlatih, semakin terasa bahwa kualitas meditasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita lakukan ketika duduk. Jauh lebih dalam dari itu, meditasi sangat dipengaruhi oleh sikap batin yang kita bawa ke dalamnya.
Dua orang bisa menggunakan teknik yang sama, mengikuti napas yang sama, duduk selama tiga puluh menit yang sama, tetapi mengalami meditasi yang sangat berbeda. Yang satu duduk dengan rasa ingin tahu, sabar, terbuka, dan tidak terlalu menuntut. Yang lain duduk dengan pikiran, “Saya harus tenang. Saya tidak boleh berpikir. Hari ini harus lebih dalam daripada kemarin.” Secara teknis keduanya melakukan hal yang sama, tetapi secara batin mereka sedang melakukan sesuatu yang sangat berbeda.
Di sinilah patience, acceptance, non-judging, non-striving, dan letting go menjadi sangat penting. Bukan sebagai teori tambahan tentang mindfulness, tetapi sebagai cara kita berhubungan dengan pengalaman. Ketika pikiran muncul, apakah kita langsung menganggapnya gangguan? Ketika gelisah datang, apakah kita segera ingin membuangnya? Ketika meditasi terasa biasa saja, apakah kita kecewa karena tidak mendapatkan pengalaman yang “lebih spiritual”? Kadang yang membuat meditasi melelahkan bukan banyaknya pikiran, tetapi sikap kita yang terus menolak kenyataan bahwa pikiran sedang banyak.
Dan sikap seperti ini sebenarnya tidak mulai terbentuk ketika kita duduk di atas bantal meditasi. Ia dibentuk oleh bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kalau sepanjang hari kita selalu terburu-buru, sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai rencana, mudah menghakimi diri sendiri, selalu merasa harus mencapai sesuatu, maka tidak aneh kalau semua kebiasaan itu ikut masuk ketika kita bermeditasi. Tubuh memang duduk diam, tetapi batin masih membawa pola kehidupan yang sama: harus lebih baik, harus cepat, harus berhasil.
Karena itu latihan meditasi sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum kita duduk. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana dan kita belajar tidak langsung bereaksi, itu juga latihan. Ketika harus menunggu dan kita belajar tidak terus-menerus melawan keadaan, itu latihan patience. Ketika melakukan kesalahan dan tidak segera menghukum diri sendiri, itu latihan non-judging. Ketika sesuatu yang kita sukai berakhir dan kita belajar membiarkannya pergi, di situlah letting go mulai mempunyai akar.
Lalu ketika kita duduk bermeditasi, kita tidak perlu menciptakan sikap-sikap tersebut dari nol. Kita hanya melanjutkan sesuatu yang sudah kita latih sepanjang hari.
Dan hubungan ini berjalan ke dua arah. Cara kita hidup memengaruhi cara kita bermeditasi, sementara cara kita bermeditasi perlahan mengubah cara kita hidup. Kita menjadi sedikit lebih mampu berhenti sebelum bereaksi, sedikit lebih nyaman dengan ketidakpastian, sedikit lebih sabar terhadap diri sendiri, dan sedikit kurang sibuk membuat setiap pengalaman menjadi seperti yang kita inginkan.
Mungkin karena itu meditasi bukan hanya tentang bagaimana kita mengikuti napas.
Meditasi adalah tentang bagaimana kita berhubungan dengan kehidupan.
Teknik memberi kita tempat untuk duduk. Tetapi mental attitude menentukan bagaimana kita duduk di dalam kehidupan itu sendiri.
Gatha
Bernapas, aku tidak perlu menjadi apa-apa.
Hadir, aku tidak perlu sampai ke mana-mana.
Yang datang, kubiarkan datang.
Yang pergi, kubiarkan pergi.
Aku belajar duduk bersama kehidupan,
sebagaimana kehidupan adanya.
(CG)


