Kita sering berjumpa dengan Dhamma melalui seseorang. Mungkin melalui cara ia berbicara, ketenangan yang terpancar dari dirinya, atau ajaran yang terasa tepat menyentuh luka di dalam hati. Perlahan-lahan, tanpa disadari, sosok itu menjadi sangat dekat dengan keyakinan kita. Karena itu, ketika suatu hari kita melihat bahwa seorang pembawa ajaran tidak hidup sejalan dengan apa yang dibawanya, yang terasa retak bukan hanya kepercayaan kepada orang tersebut. Jalan itu sendiri seolah ikut berguncang.
Perasaan kecewa seperti ini tidak perlu disangkal. Kita tidak harus tergesa-gesa menyebutnya sebagai kurangnya keyakinan, apalagi memaksa diri untuk tetap percaya seolah tidak terjadi apa-apa. Namun kita juga perlu berhati-hati agar kekeliruan seseorang tidak merampas sesuatu yang jauh lebih luas dan berharga dari hidup kita: Dhamma yang telah menolong kita melihat penderitaan dan jalan keluarnya.
Di dalam Cunda Sutta, Sutta Nipāta 1.5, Cunda si pandai besi bertanya kepada Buddha tentang para petapa yang ada di dunia. Jawaban Buddha sangat terus terang. Beliau menyebut empat jenis: ia yang telah memenangkan Jalan, ia yang menjelaskan Jalan, ia yang hidup sesuai Jalan, dan ia yang merusak Jalan.
Yang pertama telah melampaui keraguan dan terbebas dari keserakahan. Yang kedua memahami Dhamma serta mampu menunjukkannya dengan jernih kepada orang lain. Yang ketiga hidup dengan pengendalian diri, perhatian penuh, dan perilaku yang tidak tercela. Namun ada pula jenis keempat: orang yang menciptakan tampilan seolah-olah menjalankan praktik yang baik, padahal ia ceroboh, menipu, tidak terkendali, dan hidup sebagai kepalsuan. Buddha menyebutnya sebagai perusak Jalan.
Bagian yang paling menyentuh justru muncul pada akhir sutta. Buddha mengatakan bahwa seorang umat awam yang terdidik dan memiliki kebijaksanaan dapat mengenali perbedaan itu. Ia memahami, “Tidak semuanya seperti dia.” Karena mampu membedakan yang rusak dari yang tidak rusak, serta yang tidak murni dari yang murni, keyakinannya tidak ikut musnah.
Ini bukan ajakan untuk membela yang keliru atau menutupi perbuatan yang tidak patut. Justru sebaliknya. Cunda Sutta meminta kita melihat dengan cukup jernih untuk mengatakan bahwa yang keliru memang keliru. Jubah, gelar, kefasihan berbicara, ketenaran, atau banyaknya pengikut tidak mengubah perbuatan yang tidak baik menjadi baik. Tetapi kejernihan yang sama juga mencegah kita menyeret semua orang ke dalam penilaian yang sama. Yang tidak murni tidak perlu diputihkan, sementara yang tulus tidak seharusnya ikut dihitamkan.
Di sinilah saddhā atau keyakinan perlu bertumbuh menjadi lebih dewasa. Keyakinan yang masih muda sering melekat pada pribadi: selama sosok yang kita kagumi tampak sempurna, kita merasa aman. Keyakinan yang dewasa tetap dapat menghormati seorang guru, tetapi tidak menyerahkan seluruh hidup batinnya kepada citra guru tersebut. Ia berakar pada ajaran yang diperiksa, dipraktikkan, dan dirasakan buahnya sendiri: apakah ini mengurangi keserakahan, kebencian, dan kebingungan di dalam diri?
Menjelang parinibbāna, Buddha tidak menunjuk satu pribadi sebagai pengganti-Nya. Dalam Mahāparinibbāna Sutta, DN 16, Beliau mengatakan bahwa Dhamma dan Vinaya yang telah diajarkan akan menjadi guru setelah kepergian-Nya. Beliau juga mengingatkan para siswa untuk menjadikan diri sendiri sebagai pulau perlindungan, dengan Dhamma sebagai perlindungan. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan guru atau komunitas. Kita tetap membutuhkan mereka. Namun seorang guru adalah penunjuk Jalan; ia bukan Jalan itu sendiri.
Demikian pula, berlindung kepada Saṅgha tidak berarti menganggap setiap orang yang mengenakan jubah pasti telah bebas dari kekotoran batin. Saṅgha sebagai Permata adalah komunitas para siswa mulia yang berlatih dengan baik, lurus, dan benar. Di dunia ini masih ada begitu banyak monastik yang menjalani kehidupan sederhana dengan niat yang bersih—menjaga Vinaya ketika tidak ada yang melihat, tekun berlatih tanpa sorotan, serta membimbing umat tanpa menjadikan diri mereka pusat pemujaan. Kehidupan mereka mungkin tidak ramai dibicarakan, tetapi justru melalui ketekunan sunyi seperti itulah Dhamma terus bernapas dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagaimana seorang umat awam dapat belajar membedakan? Ṭhāna Sutta, AN 4.192 memberi nasihat yang sangat membumi: kebajikan seseorang diketahui melalui kebersamaan, kemurniannya melalui cara ia berurusan dengan orang lain, ketahanannya saat menghadapi kesulitan, dan kebijaksanaannya melalui percakapan. Semua itu hanya dapat terlihat setelah waktu yang panjang, oleh orang yang memperhatikan dan mampu menimbang dengan jernih. Artinya, kita tidak perlu terburu-buru mengangkat seseorang hanya karena kesan pertama, kepandaian berbicara, pengalaman batin yang menakjubkan, atau popularitasnya.
Namun Cunda Sutta bukan hanya alat untuk menilai para monastik. Jika dibaca dengan sungguh-sungguh, ia juga menjadi cermin bagi kita sendiri. Setiap kali kita pandai membicarakan Dhamma tetapi enggan menjalankannya, kita sedang menjauh dari Jalan. Setiap kali ajaran dipakai untuk membangun citra, memenangkan perdebatan, menghakimi orang lain, atau memperoleh keuntungan pribadi, mungkin kita pun sedang merusak sebagian kecil Jalan itu di dalam kehidupan kita sendiri.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan sekadar, “Siapa yang masih dapat saya percaya?” Pertanyaan yang lebih dekat adalah, “Hari ini, apakah saya hidup menurut Jalan?” Apakah ucapan saya lebih jujur dan lembut? Apakah saya menjaga sila ketika tidak ada yang mengetahui? Apakah latihan membuat saya lebih rendah hati, atau justru merasa lebih suci daripada orang lain?
Dhammapada 165 mengingatkan bahwa kemurnian dan ketidakmurnian merupakan tanggung jawab masing-masing; tidak seorang pun dapat memurnikan orang lain. Kita tidak perlu memikul kamma buruk orang lain, tetapi kita juga tidak dapat meminjam kesucian seorang guru. Pada akhirnya, Dhamma harus menjadi cara kita memandang, berbicara, memilih, dan memperlakukan kehidupan.
Maka saat kepercayaan kepada seseorang goyah, kita boleh berhenti sejenak. Kita boleh merasa sedih dan menata kembali jarak dengan bijaksana. Kita dapat melihat kesalahan tanpa kebencian, tidak ikut menikmati atau menyebarkan hal-hal yang merendahkan martabat, serta tetap mendukung guru dan komunitas yang sungguh menjaga integritas. Welas asih tidak menghapus batas, dan kejernihan tidak harus berubah menjadi kebencian.
Seorang dalam perjalanan dapat tersesat. Seorang penunjuk dapat menunjuk ke arah yang salah. Namun selama kita masih mampu mengenali yang baik sebagai baik, menjaga sila, melatih batin, dan kembali kepada Dhamma, Jalan itu tidak hilang. Bahkan mungkin, dari luka terhadap keyakinan yang lama, lahir keyakinan baru yang tidak lagi mudah memuja dan tidak pula mudah membenci—keyakinan yang lebih tenang, lebih jernih, dan lebih bertanggung jawab.
Gāthā
Ketika seorang kehilangan arah,
semoga aku tidak meninggalkan Jalan.
Yang keliru kulihat tanpa amarah,
yang tulus kuhormati tanpa kemelekatan.
Kembali bernapas, menjaga sila
biarlah Dhamma hidup dalam langkah nyata.
(CG)


