Ini Bukan Pertandingan Gulat


“Do not wrestle your mind with your breath.
Do not wrestle your breath with your mind.
This is not a wrestling competition.”

Kadang tanpa sadar, kita duduk bermeditasi seperti sedang menghadapi sesuatu yang harus ditaklukkan. Napas harus tenang, pikiran harus diam, perhatian tidak boleh pergi ke mana-mana. Ketika pikiran mengembara, kita buru-buru menariknya kembali. Ketika napas terasa kasar, kita mencoba membuatnya lebih halus. Ketika pikiran masih ramai, kita menambah tenaga lagi: lebih fokus, lebih keras, lebih sungguh-sungguh. Lalu beberapa saat kemudian, yang muncul bukan ketenangan, tetapi kelelahan. Mungkin masalahnya bukan karena kita kurang berusaha. Kadang justru karena kita terlalu banyak berusaha.

Napas sebenarnya tidak meminta kita untuk terus-menerus mengaturnya. Ia sudah bernapas jauh sebelum kita duduk bermeditasi. Pikiran juga tidak perlu dibuat kosong terlebih dahulu supaya kita bisa hadir bersamanya. Yang perlu kita lakukan mungkin jauh lebih sederhana: mengetahui apa yang sedang terjadi. Napas panjang, tahu napas panjang. Napas pendek, tahu napas pendek. Napas terasa nyaman, kita tahu nyaman. Napas terasa tidak nyaman, kita juga tahu demikian. Pikiran tenang, tahu sedang tenang. Pikiran gelisah, tahu ada kegelisahan. Pikiran sedang memikirkan pekerjaan, keluarga, percakapan kemarin, atau hal kecil yang tidak penting sekalipun, kita cukup menyadari, “Oh, pikiran sedang pergi ke sana.”

Di sini ada perbedaan yang sangat halus antara membawa perhatian kembali dan menarik perhatian kembali dengan paksa. Membawa kembali terasa seperti memegang tangan seorang anak yang berjalan terlalu jauh, lalu mengajaknya pulang. Menarik dengan paksa terasa seperti menyeretnya sambil berkata, “Kamu harus diam sekarang.” Pikiran biasanya tahu bedanya. Semakin kita memperlakukannya sebagai sesuatu yang harus dikalahkan, semakin besar kemungkinan ia melawan. Kita ingin pikiran tenang, lalu muncul pikiran baru: “Kenapa belum tenang?” Kita ingin napas alami, lalu kita mengawasi setiap tarikan dan embusan sampai napas malah terasa kaku. Kita ingin meditasi berjalan baik, lalu sepanjang meditasi kita justru sibuk menilai apakah meditasi kita sudah cukup baik.

Mungkin pada titik seperti itu, yang kita perlukan bukan menambah usaha, tetapi sedikit mengendurkan genggaman. Biarkan napas bernapas. Biarkan pikiran menjadi pikiran. Kita tidak sedang berusaha memenangkan sesuatu. Meditasi bukan proyek untuk membuat batin sesuai dengan gambaran ideal kita. Ia lebih seperti belajar tinggal bersama kehidupan sebagaimana adanya, satu napas demi satu napas. Kadang tenang, kadang tidak. Kadang jernih, kadang berkabut. Kadang mudah, kadang seluruh isi kepala terasa seperti memutuskan untuk mengadakan rapat pada saat yang sama.

Yang sedang kita latih bukan kemampuan untuk selalu memiliki pikiran yang tenang. Yang sedang kita latih adalah kemampuan untuk mengetahui tanpa buru-buru bereaksi, hadir tanpa merasa harus mengontrol semuanya, dan tetap tinggal bahkan ketika pengalaman saat ini tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ketika pikiran pergi, tidak perlu memukulnya dengan napas. Ketika napas terasa tidak nyaman, tidak perlu memaksanya mengikuti keinginan pikiran. Cukup tahu, lalu kembali dengan lembut. Napas tetap bernapas, pikiran tetap bergerak, dan sedikit demi sedikit kita belajar bahwa hadir tidak selalu berarti mengendalikan. Kadang hadir justru berarti berhenti bergulat.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.