Pelepasan yang Tidak Meninggalkan Dunia

Ada seorang pesulap terkenal bernama Bhadra. Ia hidup dari kemampuannya menciptakan berbagai penampakan yang mengagumkan. Orang-orang Magadha mengenalnya, membicarakannya, dan memberinya penghormatan. Seperti banyak keahlian lain, kemampuan itu sebenarnya netral. Namun, di tangan Bhadra, ia telah menjadi jalan untuk memperoleh keuntungan, perhatian, dan pengakuan.

Ketika mendengar bahwa Buddha dapat mengetahui pikiran orang lain, Bhadra ingin mengujinya. Ia mengundang Buddha bersama para anggota Saṅgha untuk menerima persembahan makanan. Di balik undangan yang tampak ramah itu tersimpan sebuah jebakan. Bhadra berpikir, jika Buddha menerima undangannya tanpa mengetahui niat buruk tersebut, ia dapat membuktikan kepada orang banyak bahwa pengetahuan Buddha tidaklah sempurna.

Buddha menerima undangan itu. Bukan karena tidak mengetahui rencana Bhadra, tetapi karena melihat bahwa di balik kesombongannya terdapat seseorang yang masih dapat dibimbing.

Ketika Ilusi Tidak Lagi Dapat Dikuasai

Bhadra lalu menciptakan sebuah halaman yang megah secara ajaib: pepohonan yang indah, singgasana, makanan, serta para pelayan. Semua kemewahan itu muncul di atas tempat pembuangan sampah. Dalam kisah selanjutnya, para dewa menampilkan tempat-tempat yang jauh lebih menakjubkan. Bhadra mulai menyadari bahwa kemampuan yang selama ini dibanggakannya ternyata tidak seberapa.

Ia mencoba membubarkan ilusi ciptaannya, tetapi tidak berhasil. Sesuatu yang semula ia anggap berada dalam kuasanya kini tidak lagi tunduk kepadanya.

Di balik kemegahan khas sūtra Mahāyāna, adegan ini menggambarkan pengalaman yang sangat manusiawi. Kita juga menciptakan banyak hal di dalam pikiran: gambaran mengenai siapa diri kita, penilaian orang terhadap kita, keberhasilan yang harus dipertahankan, atau kehidupan seperti apa yang seharusnya kita miliki. Mula-mula kita mengira semua itu dapat dikendalikan. Namun, setelah lama digenggam, justru kita yang dikendalikan olehnya.

Bhadra akhirnya menyesali niatnya. Ia tidak lagi mempersembahkan makanan untuk mempermalukan Buddha, tetapi mulai memberikannya dengan ketulusan. Tempat dan hidangan itu mungkin tercipta melalui ilusi, tetapi perubahan niat di dalam dirinya bukanlah sesuatu yang sia-sia. Sūtra ini menegaskan bahwa niat dan tindakan tetap membawa akibat.

Seperti Ilusi Bukan Berarti Tidak Ada

Buddha kemudian menjelaskan bahwa segala fenomena menyerupai ciptaan seorang pesulap. Sesuatu dapat terlihat, dialami, dan menimbulkan akibat, tetapi ketika diperiksa dengan mendalam, tidak ditemukan inti yang tetap dan berdiri sendiri di dalamnya. Segala sesuatu hadir karena sebab, kondisi, bagian-bagian, dan cara pikiran memberinya nama.

Inilah makna kekosongan dalam sūtra ini. Kosong bukan berarti dunia tidak ada, penderitaan tidak nyata, atau perbuatan kita tidak penting. Kosong berarti tidak ada sesuatu yang muncul dari dirinya sendiri dan bertahan tanpa bergantung pada apa pun.

Justru karena segala sesuatu tidak memiliki inti yang beku, perubahan dapat terjadi. Seorang yang semula berniat mempermalukan Buddha dapat mengakui kesalahannya. Kesombongan dapat berubah menjadi kerendahan hati. Kecakapan yang dahulu dipakai untuk menipu dapat diarahkan untuk menolong. Apabila watak manusia merupakan hakikat tetap yang tidak mungkin berubah, jalan latihan tidak akan memiliki arti.

Bhadra kemudian melihat Buddha hadir di berbagai tempat pada saat yang sama—di istana, di jalan, di alam dewa, bahkan pada bunga dan dedaunan. Ia pun bertanya: Buddha yang manakah yang sejati? Kepada Buddha yang mana persembahan seharusnya diberikan?

Pertanyaan itu membawanya melampaui kebiasaan memahami Buddha hanya sebagai satu bentuk tubuh yang berada di satu tempat. Buddha menjelaskan bahwa para Buddha tidak dapat dikenali semata-mata melalui rupa, suara, silsilah, atau ciri lahiriah. Dalam kesunyataan, tidak ada hakikat terpisah yang dapat digenggam sebagai “Buddha yang ini” dan “Buddha yang itu.”

Namun, Buddha tetap berbicara tentang manusia, kelahiran, kematian, penderitaan, dan pembebasan. Bahasa sehari-hari tidak ditolak. Ia digunakan sebagai upāya, cara terampil untuk membimbing makhluk. Kita memakai nama dan konsep agar dapat hidup serta berkomunikasi, sambil belajar untuk tidak menganggapnya sebagai kenyataan yang mutlak.

Jalan Bodhisattva di Tengah Kehidupan

Setelah kesombongannya runtuh, Bhadra membangkitkan bodhicitta. Ia tidak hanya ingin memperoleh ketenangan bagi dirinya sendiri, tetapi bertekad mencapai kebuddhaan demi menolong semua makhluk. Ia lalu bertanya bagaimana seorang bodhisattva seharusnya berlatih.

Jawaban Buddha disampaikan melalui puluhan kelompok ajaran. Bila diringkas, jalan itu mencakup menjaga bodhicitta, menjalankan disiplin, belajar dan mengajarkan Dharma tanpa kesombongan, mengembangkan meditasi tanpa melekat pada pengalaman meditasi, memahami kekosongan, serta melayani makhluk sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

Seorang bodhisattva tidak menjadikan Dharma sebagai alat untuk memperoleh nama, keuntungan, atau kedudukan. Ia belajar melihat kekurangan diri tanpa sibuk mengawasi kekurangan orang lain. Ia tidak meninggalkan seseorang hanya karena orang itu sulit dibimbing. Ia memberi bantuan tanpa terus menghitung penghargaan yang akan diterima.

Jalan ini tidak hanya berlangsung di ruang meditasi. Kesabaran diuji ketika berhadapan dengan orang yang tidak sesuai harapan kita. Kemurahan hati hadir ketika waktu, tenaga, pengetahuan, atau perhatian sungguh dibutuhkan. Kebijaksanaan bekerja ketika kita mampu melihat masalah dengan jernih tanpa segera membangun identitas sebagai orang yang paling benar, paling berjasa, atau paling menderita.

Pelepasan yang Tidak Meninggalkan Dunia

Pada akhir kisah, Buddha meramalkan bahwa pada masa yang sangat jauh Bhadra akan menjadi seorang Buddha bernama Vikurvāṇarāja, Raja Penampilan Magis. Kemampuan yang semula digunakan untuk memperoleh kekaguman tidak dimusnahkan. Ketika keserakahan dan kesombongan dilepaskan, kemampuan yang sama dapat menjadi sarana untuk membimbing makhluk.

Bhadra kemudian meminta ditahbiskan dan Maitreya menerimanya. Pada bagian inilah sūtra menyampaikan pengertian pelepasan yang sangat dalam. Menjalani hidup tanpa rumah bukan sekadar mengganti pakaian, mengikuti tata cara tertentu, atau mengambil jarak dari kehidupan. Tanda-tanda lahiriah dapat mendukung latihan, tetapi tidak dengan sendirinya membebaskan batin.

Pelepasan sejati adalah hidup tanpa kemelekatan, sambil tetap hadir di dunia untuk membantu makhluk lain.

Bagi umat awam, kalimat ini mempunyai arti yang dekat dengan keseharian. Kita tidak harus meninggalkan keluarga untuk berhenti merawat orang-orang yang kita cintai. Kita tidak harus meninggalkan pekerjaan untuk belajar agar harga diri tidak sepenuhnya bergantung pada pencapaian. Kita dapat memiliki rumah dan harta tanpa menjadikannya benteng identitas. Kita juga dapat menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh tanpa menganggap semuanya harus berjalan menurut kehendak kita.

Tidak melekat bukan berarti tidak peduli. Ketidakpedulian membuat kita menjauh ketika keadaan menjadi sulit. Pelepasan justru memberi ruang agar kita dapat hadir tanpa terlalu dibebani tuntutan bahwa orang lain harus membalas kebaikan, memahami kita, atau berubah sesuai keinginan kita.

Demikian pula, membantu makhluk bukan berarti merasa diri sebagai penyelamat. Kita melakukan apa yang dapat dilakukan, menyadari bahwa hasil muncul dari banyak sebab dan kondisi. Ada saatnya usaha kita berhasil, ada saatnya tidak. Kebijaksanaan menjaga agar kepedulian tidak berubah menjadi keinginan untuk mengendalikan.

Bhadra dahulu menciptakan ilusi agar orang lain memandang dirinya. Setelah bertemu Buddha, ia belajar melihat ilusi di dalam keinginannya sendiri untuk dipandang. Di situlah pelepasan bermula: bukan ketika dunia menghilang, melainkan ketika kita tidak lagi menuntut dunia menjadi penopang bagi gambaran tentang diri.

Kita tetap bekerja, mencintai, merawat, dan mengambil bagian dalam kehidupan. Namun, sedikit demi sedikit, genggaman dilonggarkan. Tangan yang tidak lagi sibuk menggenggam akan lebih leluasa menolong.

Gāthā

Di tengah dunia aku hadir,
tanpa menggenggam, tanpa menyingkir.
Yang datang kurawat dengan sadar,
yang berlalu kulepas dengan sabar.
Semoga tangan ini tetap terbuka,
meringankan sesama tanpa meminta apa-apa.

Artikel ini disusun berdasarkan The Prophecy for Bhadra the Illusionist (Bhadramāyākāravyākaraṇa), diterjemahkan oleh 84000: Translating the Words of the Buddha.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.