Salah satu belenggu (saṃyojana) yang disebut Buddha adalah sīlabbata-parāmāsa. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai “keterikatan pada sila dan ritual.” Dalam berbagai tradisi Buddhis, istilah ini dijelaskan dengan penekanan yang sedikit berbeda. Ada yang lebih menyoroti kemelekatan pada ritual atau praktik lahiriah sebagai jalan menuju pembebasan.
Dalam pemahaman yang menjadi dasar tulisan ini, kata sīla tidak hanya dipahami sebagai sila, tetapi juga sebagai kebiasaan atau pola latihan yang membentuk kehidupan. Karena itu, sīlabbata-parāmāsa bukan sekadar kemelekatan pada ritual atau aturan, melainkan kemelekatan batin terhadap praktik itu sendiri—terutama ketika praktik tersebut berubah menjadi identitas diri.
Dengan demikian, istilah ini bukan berarti Buddha mengajarkan agar kita tidak perlu serius menjaga sila. Justru sebaliknya, sila adalah bagian penting dari Jalan yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Yang perlu dilepaskan bukanlah silanya, melainkan rasa “aku” yang dibangun di sekitarnya.
Ketika menjaga sila terasa sulit, kita mulai melihat bagaimana batin menciptakan berbagai alasan, pembenaran, dan pengecualian agar kita dapat melanggarnya. Dari sanalah latihan yang sesungguhnya dimulai.
Namun ada jebakan yang lebih halus. Sila dapat berubah menjadi identitas. Kita mulai membangun gambaran tentang diri sendiri: “Aku adalah orang yang menjaga sila.” Lalu tanpa sadar muncul perbandingan: “Aku lebih disiplin daripada mereka.” Atau sebaliknya, ada yang membangun identitas lain: “Aku sudah melampaui aturan. Aku tidak lagi membutuhkan sila.” Walaupun tampak berlawanan, keduanya berakar pada hal yang sama, yaitu keakuan.
Buddha tidak mengajarkan agar kita meninggalkan sila, melainkan agar kita berhenti membangun diri di atas sila. Kita tetap menjaga sila dengan sepenuh hati, tetapi tidak menjadikannya sebagai sumber harga diri, kebanggaan, atau ukuran untuk membandingkan diri dengan orang lain. Sila adalah penopang jalan, bukan identitas.
Di sisi lain, sila juga bukan tujuan akhir. Ia adalah bagian dari Jalan, tetapi bukan keseluruhan Jalan. Kita membutuhkan sila untuk memurnikan batin dan menopang berkembangnya kebijaksanaan, namun kebebasan sejati melampaui semua konsep tentang “aku yang menjaga sila.”
Barangkali cara paling indah memandang sila adalah seperti obat. Kita meminumnya bukan agar menjadi pasien yang lebih baik daripada orang lain, tetapi karena kita tahu batin ini masih memiliki penyakit yang perlu disembuhkan. Kita cukup terus meminum obat kita sendiri, tanpa sibuk melihat apakah orang lain sedang meminumnya atau tidak.
Ketika identitas dilepaskan, sila tidak kehilangan nilainya. Justru sebaliknya, sila dijalankan dengan lebih murni—bukan demi menjadi seseorang, melainkan sebagai ungkapan kebijaksanaan dan welas asih yang terus bertumbuh di dalam batin.
(CG)


