Disusun dari percakapan Brother Chân Pháp Lưu bersama Ajahn Kovilo dan Ajahn Nisabho dalam program Clear Mountain Conversations. Bagian percakapan informal telah dihilangkan dan isi wawancara disusun kembali menjadi artikel tanpa mengubah pokok pandangan yang disampaikan.
Brother Chân Pháp Lưu—juga dikenal sebagai Brother Stream—merupakan salah satu murid monastik senior Zen Master Thích Nhất Hạnh dari latar belakang non-Vietnam. Ia menerima penahbisan pada 2003 dan Transmisi Lampu Dharma dari Thầy pada 2011. Dalam perjalanan monastiknya, ia ikut merintis gerakan Wake Up bagi kaum muda, Happy Farm di Plum Village, serta berbagai program mindfulness di sekolah. Kini ia menetap di Deer Park Monastery, California, membimbing retret berjalan dan mendaki, mendampingi para monastik muda, serta mengajarkan sutra dan Vinaya.
Di balik perjalanan panjang itu terdapat sebuah pencarian yang bermula jauh sebelum ia mengenal Plum Village. Kisahnya memperlihatkan bagaimana latihan Satipaṭṭhāna yang berakar pada khazanah Buddhisme awal dapat menemukan rumahnya di dalam sebuah komunitas Zen Mahāyāna; bagaimana kelembutan dan disiplin tidak harus saling meniadakan; serta bagaimana Dhamma baru sungguh hidup ketika ia diwujudkan dalam napas, hubungan, komunitas, dan tindakan sehari-hari.
Dari Keinginan Mengubah Dunia Menuju Keberanian Melihat ke Dalam
Brother Pháp Lưu tidak dibesarkan dalam keluarga dengan jalan spiritual tertentu. Setelah menyelesaikan kuliah, ia ingin keluar dari “gelembung Amerika” dan melihat dunia secara lebih langsung. Ketika tinggal di Madrid, ia bertemu seseorang yang banyak menghabiskan waktu di India dan memperkenalkannya pada kemungkinan hidup yang sama sekali berbeda: hidup yang diarahkan bukan terutama untuk memperoleh uang, status, atau ketenaran, melainkan untuk masuk ke dalam diri dan mengalami transformasi batin.
Pertemuan itu tidak serta-merta memberinya seorang guru atau jalan yang jelas. Ia mencoba hidup di berbagai komunitas, terlibat dalam gerakan antikapitalisme di Eropa, tinggal di sebuah squat di Paris, lalu bergabung dengan komunitas pertanian organik di Spanyol utara. Ada idealisme kuat dan keinginan tulus untuk mengubah arah masyarakat. Namun di balik semangat perlawanan itu, ia mulai melihat adanya kemarahan yang tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, kapitalisme, atau struktur sosial. Sebagian kemarahan itu berasal dari luka yang belum selesai di dalam dirinya sendiri—dari relasi dengan keluarga, orang tua, dan cara ia memandang dirinya.
Menjelang pergantian milenium pada tahun 2000, kemarahan itu menjadi semakin berat. Ia tidak ingin masuk ke dunia korporasi sebagaimana jalur pendidikan dan lingkungan sosialnya seolah telah mempersiapkannya, tetapi ia juga belum menemukan arah lain yang dapat sungguh menopang kehidupan. Pada masa itulah, ketika tinggal sementara bersama ibunya di Connecticut, ia menemukan sebuah wihara tidak jauh dari sana. Dari tempat itu ia memperoleh buklet kecil mengenai Empat Landasan Kesadaran Penuh, atau Satipaṭṭhāna, dengan teks berbahasa Inggris dan bahasa Mandarin modern pada halaman yang berhadapan.
Ia mulai mempraktikkan petunjuk di dalam sutra tersebut. Dibandingkan berbagai teori sosial dan filsafat yang pernah dibacanya, latihan ini terasa sangat langsung: menyadari napas, menyadari tubuh, dan mengalami sendiri apa yang berlangsung di dalam batin. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa sukacita dapat dibangkitkan dari dalam—tidak harus menunggu keadaan luar berubah atau memperoleh sesuatu yang baru.
Kesadaran sederhana itu menjadi titik balik. Selama ini hidup terasa seperti mengejar satu objek ke objek berikutnya: melihat sesuatu yang tampak menjanjikan kebahagiaan, berusaha meraihnya, lalu mendapati bahwa kepuasan yang dijanjikan tidak pernah benar-benar menetap. Melalui napas dan kehadiran pada tubuh, ia menemukan kemungkinan lain. Ia dapat merasa hidup kembali tanpa harus terus mencari sesuatu di luar dirinya. Pada saat itulah muncul keyakinan bahwa ia ingin menjadi seorang monastik.
Ketika Teks Menjadi Jalan yang Hidup
Pertemuan awal dengan Satipaṭṭhāna membawanya memasuki masa belajar yang sangat intensif. Pada tahun-tahun awal internet, situs Access to Insight membuka pintu menuju terjemahan-terjemahan Kanon Pāli. Ia mengenang rasa terima kasihnya kepada para penerjemah seperti Ṭhānissaro Bhikkhu dan Bhikkhu Bodhi. Terjemahan Majjhima Nikāya oleh Bhikkhu Bodhi bahkan menjadi seperti kitab yang selalu dibawanya dan dibaca berulang kali.
Ia kembali ke Dartmouth College dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, membaca sutta-sutta awal serta berbagai tulisan mengenai Buddhisme. Sifatnya yang ingin memahami segala sesuatu membuatnya menyelami Kanon Pāli dengan sangat serius, tetapi ia juga membaca literatur Mahāyāna. Pada masa itu ia sempat membayangkan bahwa jalan paling masuk akal adalah naik pesawat ke Thailand dan menjadi seorang bhikkhu. Ia belum mengenal Thích Nhất Hạnh secara mendalam dan belum mengetahui bagaimana seseorang dapat memasuki kehidupan monastik.
Suatu hari, ketika sedang bekerja di sebuah toko buku dan membaca sutra, beberapa monastik Plum Village masuk ke toko tersebut. Baginya, pemandangan itu terasa seolah-olah para bhikkhu baru saja melangkah keluar dari halaman sutra. Mereka memberitahukan bahwa ada Hari Kesadaran Penuh di pusat latihan yang tidak jauh dari sana. Pertemuan sederhana itu membuka sebuah pintu yang tidak pernah ia rencanakan.
Ketika kemudian mengunjungi Maple Forest Monastery di South Woodstock, Vermont, ia merasakan sesuatu yang selama ini dicari: sebuah keluarga spiritual. Thầy tidak sedang berada di sana, tetapi energi latihan komunitas membuat kehadiran dan ajarannya terasa nyata. Bagi Brother Pháp Lưu, ini menjadi salah satu ukuran penting sebuah tradisi. Seorang guru tidak hanya terlihat melalui kata-kata atau kepribadiannya, tetapi juga melalui cara murid-muridnya hidup, berlatih, dan memperlakukan satu sama lain. Sebagaimana semangat Ajahn Chah dapat dirasakan melalui para muridnya, ia merasakan semangat Thích Nhất Hạnh hidup di dalam komunitas itu.
Yang sangat menyentuhnya adalah sifat latihan Plum Village yang berupa undangan. Praktisi tidak diperintah untuk menikmati napas, melainkan diajak mencobanya: “Mungkin Anda ingin menikmati napas ini.” Perbedaannya tampak kecil, tetapi kualitas batin yang dibawanya sangat berbeda. Latihan tidak disampaikan sebagai paksaan, melainkan sebagai pintu yang boleh dimasuki dengan kebebasan dan rasa ingin tahu.
Menurut Brother Pháp Lưu, kelembutan ini tidak terpisah dari sejarah hidup Thầy. Plum Village tumbuh dari pengalaman perang, kekerasan, pengungsian, dan kehilangan di Vietnam. Jauh sebelum istilah trauma-informed dikenal luas, cara Thầy mengajar telah membawa kepekaan terhadap luka manusia. Praktik ditawarkan sedemikian rupa agar seseorang dapat mendekati penderitaannya tanpa kembali merasa ditekan atau dikuasai. Dhamma menjadi undangan untuk datang dan melihat secara langsung, bukan sistem perintah yang harus diterima secara buta.
Satipaṭṭhāna di dalam Rumah Zen Mahāyāna
Judul percakapan ini, Mahāyāna Satipaṭṭhāna: Thich Nhat Hanh’s Theravāda Bonafides, menunjuk pada salah satu kekhasan Plum Village: sebuah komunitas Zen Mahāyāna yang menjadikan ajaran-ajaran dasar Buddhisme awal sebagai inti latihan sehari-hari. Hal ini bukan pencampuran yang dilakukan secara sembarangan, melainkan tumbuh dari perjalanan sejarah Buddhisme Vietnam dan visi Thích Nhất Hạnh sendiri.
Di Vietnam, tradisi Mahāyāna merupakan arus utama, tetapi tradisi Theravāda juga hidup, terutama di wilayah selatan dan di antara komunitas Khmer. Sejak masa mudanya, Thích Nhất Hạnh berhubungan dengan praktisi dari berbagai aliran dan terlibat dalam upaya mempersatukan umat Buddha Vietnam. Visi itu tidak menghapus perbedaan, tetapi melihat bahwa komunitas-komunitas yang terpisah secara geografis dan historis tetap merupakan saudara-saudari dalam jalan Buddha.
Brother Pháp Lưu juga menyadari bahwa pemahaman modern mengenai “Buddhisme paling awal” tidak selalu netral. Sebagian sarjana kolonial pada masa lalu memilih bagian-bagian Kanon Pāli yang dianggap rasional dan ilmiah, kemudian mengabaikan unsur lain yang tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang agama yang modern. Dari proses itu lahir citra tentang Buddha yang sangat rasionalistis—sebuah citra yang kadang disebut “Buddhisme Protestan.” Karena itu, mengakui nilai besar teks Pāli tidak berarti harus menjadikannya senjata untuk merendahkan kanon atau tradisi lain. Kajian perbandingan antara Nikāya Pāli, Āgama berbahasa Tionghoa, dan sumber-sumber Tibet justru memperlihatkan bahwa setiap kanon memelihara bagian berharga dari jalan spiritual yang mendalam.
Sebelum menjadi monastik Plum Village, Brother Pháp Lưu pernah tinggal dan berlatih di pusat-pusat Kwan Um School of Zen, termasuk di New Haven dan Cambridge, serta mengikuti retret di Providence Zen Center. Bentuk latihan Zen terasa sangat alami baginya, seperti mengenakan sarung tangan yang pas. Namun ia tetap merindukan fondasi rinci dari Satipaṭṭhāna dan ajaran-ajaran Buddhisme awal.
Ketika menghadiri retret Plum Village dan mendengar Sister Chân Đức—Sister Annabel, salah satu murid monastik Barat paling senior Thầy—mengajarkan Satipaṭṭhāna, ia merasa menemukan jembatan yang selama ini dicari. Ia tidak perlu diam-diam mempraktikkan Satipaṭṭhāna di dalam bentuk Zen. Thầy telah mengintegrasikan keduanya secara terbuka dan organik.
Dalam Plum Village, enam belas latihan dalam Ānāpānasati Sutta—Sutra Kesadaran Penuh akan Napas—menjadi salah satu tulang punggung latihan. Para monastik muda mempelajari dan menghafalnya, bukan sebagai teori, tetapi sebagai pedoman untuk kembali kepada tubuh, menenangkan bentukan jasmani dan batin, membangkitkan sukacita, merawat perasaan, serta melihat sifat tidak kekal dari pengalaman. Satipaṭṭhāna pun tidak berhenti sebagai tema kajian. Ia kembali kepada hal paling dekat: langkah ini, napas ini, tubuh ini, dan apa yang sedang muncul dalam batin saat ini.
Sangha sebagai Tempat Belajar Menjadi Manusia
Jika latihan pribadi memberi fondasi, kehidupan Sangha menguji apakah pemahaman itu telah menyentuh hubungan kita. Bagi Brother Pháp Lưu, salah satu sumbangan penting Plum Village adalah kesungguhan dalam membangun komunitas. Para anggota Sangha banyak menghabiskan waktu bersama, bekerja bersama, makan bersama, mengambil keputusan bersama, dan secara teratur menciptakan ruang untuk mendengarkan satu sama lain.
Plum Village mengenal praktik Beginning Anew atau Memulai Kembali. Di dalamnya, anggota komunitas dapat menyampaikan penghargaan—yang sering disebut “menyiram bunga”—mengakui penyesalan, dan mengutarakan luka atau kesulitan dengan cara yang terarah. Ketika bertemu Ajahn Amaro dan Ajahn Pasanno pada sebuah pertemuan monastik Barat tahun 2008, Brother Pháp Lưu melihat bahwa di Abhayagiri juga terdapat bentuk pertemuan yang memiliki semangat serupa sebelum pembacaan Pāṭimokkha. Baginya, ini menunjukkan bahwa tradisi berbeda dapat menemukan cara masing-masing untuk menjaga keterbukaan dan keharmonisan.
Kehidupan Plum Village juga berpedoman pada Enam Keharmonisan, antara lain hidup dan berkumpul bersama secara harmonis, menjaga ucapan, berbagi sumber daya, menjalankan latihan etis, serta memelihara pandangan yang memungkinkan kebersamaan. Keharmonisan di sini bukan berarti semua orang selalu sepakat atau tidak pernah mengalami konflik. Keharmonisan adalah kesediaan untuk tetap hadir, melihat satu sama lain, dan tidak membiarkan kesulitan berubah menjadi jarak yang membeku.
Sebagian orang datang ke biara dengan gambaran ideal tentang seorang pertapa yang hidup sendiri di gua dan bermeditasi sampai tubuhnya runtuh. Brother Pháp Lưu sendiri pernah memiliki cita-cita serupa. Namun manusia adalah makhluk sosial. Buddha pun menghabiskan sebagian besar hidupnya di tengah komunitas, menerima tamu, mengajar, dan menangani berbagai persoalan Sangha. Kesunyian memiliki tempat yang penting, tetapi kemampuan hidup bersama juga merupakan latihan yang sangat dalam.
Hal ini menjadi semakin nyata ketika generasi yang melewati masa sekolah atau universitas saat pandemi mulai datang untuk menjalani kehidupan monastik. Sebagian dari mereka kehilangan tahun-tahun penting untuk belajar berelasi secara langsung. Banyak kebutuhan akan persahabatan, pendampingan, dan rasa memiliki telah dialihkan kepada komputer dan telepon pintar. Biara kemudian bukan hanya tempat untuk belajar bermeditasi, tetapi juga tempat untuk mempelajari kembali hal yang sangat mendasar: bagaimana hadir bersama manusia lain, menghadapi perbedaan, memperbaiki hubungan, dan tidak selalu menghindari orang yang membuat kita tidak nyaman.
Karena itu, kehidupan komunitas sering kali terasa lebih sulit daripada duduk sendirian membaca sutra. Namun justru di sanalah konsep-konsep tentang kesadaran penuh, welas asih, dan tanpa-aku diuji. Salah satu hal tersulit dalam kehidupan adalah belajar hidup bersama tanpa harus menunggu semua orang menjadi sesuai dengan keinginan kita. Keharmonisan tidak harus sempurna. Yang dibutuhkan adalah cukup perhatian dan kasih agar setiap orang merasakan bahwa ia mempunyai tempat di dalam komunitas.
Meditasi berpelukan di Plum Village merupakan salah satu contoh upaya Thầy menjawab kesulitan nyata dalam hubungan manusia. Praktik itu tidak dimaksudkan sebagai kebiasaan memeluk semua orang tanpa batas, melainkan sebagai latihan hadir sepenuhnya ketika kontak manusia berlangsung. Konteks, batas etis, budaya, serta energi yang muncul tetap perlu diperhatikan. Intinya bukan bentuk luarnya, melainkan kemampuan tradisi untuk tetap setia pada sila sambil menemukan cara yang bijaksana dan manusiawi dalam menjawab kebutuhan zaman.
Brother Pháp Lưu berhati-hati untuk tidak membuat perbandingan yang terlalu sederhana antara Plum Village dan Tradisi Hutan Thai. Dua wihara dalam tradisi yang sama pun dapat memiliki suasana yang sangat berbeda. Sebuah komunitas Theravāda dapat terasa hangat dan akrab, sementara yang lain terasa hampir seperti lingkungan militer. Demikian pula, Deer Park dan Plum Village di Prancis akan berkembang dengan warna masing-masing karena tanah, budaya, dan manusia yang menghuninya berbeda. Keindahan Dhamma justru terletak pada kemampuannya bertumbuh di tempat yang berlainan tanpa kehilangan akar.
Tidak Melekat Bahkan pada Gagasan Tanpa-Aku
Kehidupan komunitas juga memperlihatkan bahaya mengubah ajaran menjadi identitas. Seseorang dapat berbicara sangat fasih mengenai anattā atau tanpa-aku, tetapi tetap mempertahankan ego yang besar. Menurut Brother Pháp Lưu, tanpa-aku sebaiknya dipahami sebagai arah kontemplasi dan latihan batin: cara melihat dan melonggarkan kebiasaan menganggap pengalaman sebagai “aku”, “milikku”, dan “diriku.” Ia bukan slogan metafisis yang harus dipertahankan sebagai ideologi baru.
Jika kita melekat pada gagasan “tidak ada diri” secara dogmatis, ajaran yang semestinya membebaskan justru dapat menjadi sumber kekakuan. Kita mungkin menggunakan Dhamma untuk menyangkal kebutuhan psikologis, mengabaikan luka, atau merasa lebih tinggi daripada orang lain. Pikiran perlu dijaga tetap luas dan terbuka. Dhamma membebaskan kita bukan dengan memberikan konsep baru untuk digenggam, melainkan dengan membantu kita tidak terperangkap dalam pandangan apa pun.
Hal serupa berlaku terhadap identitas tradisi. Menjadi praktisi Mahāyāna atau Theravāda tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun tembok. Perbedaan bentuk latihan tetap nyata dan layak dihormati, tetapi ia tidak perlu berubah menjadi ukuran siapa yang paling murni atau paling dekat dengan Buddha. Pertemuan yang matang antarsilsilah tidak berusaha mencampur semuanya menjadi satu. Ia memungkinkan masing-masing tradisi berdiri dengan utuh, sekaligus cukup terbuka untuk mengenali kebijaksanaan pada yang lain.
Dari Buddhisme Terlibat menuju Buddhisme yang Diterapkan
Istilah Engaged Buddhism atau Buddhisme Terlibat sangat erat dikaitkan dengan Thích Nhất Hạnh. Namun pada tahun-tahun akhir masa mengajarnya, Thầy lebih menyukai istilah Applied Buddhism—Buddhisme Terapan. Pergeseran istilah ini penting karena “keterlibatan” terkadang disalahpahami hanya sebagai pergi keluar, berdemonstrasi, atau melawan kekuasaan. Aktivitas seperti itu dapat diperlukan, tetapi bila tidak berakar pada latihan, ia mudah digerakkan oleh kemarahan, kebutuhan akan pengaruh, atau luka pribadi yang tidak disadari.
Brother Pháp Lưu mengenali bahaya ini dari pengalamannya sendiri di dalam komunitas aktivis ketika masih muda. Sebuah gerakan dapat membawa aspirasi yang luhur, tetapi di dalamnya tetap dapat bekerja perebutan kuasa, dominasi, ego, dan berbagai dorongan tersembunyi. Karena itu, keterlibatan sosial tidak boleh menjadi pengganti latihan. Ia perlu lahir dari latihan.
Thầy tidak terutama ingin menambah jumlah orang yang menyebut diri Buddhis. Ia ingin mereka yang telah mengenal Buddhisme sungguh-sungguh mempraktikkannya. Ia juga menawarkan latihan kesadaran penuh kepada umat beragama lain agar mereka dapat kembali dan memperdalam akar tradisinya sendiri. Buddhisme Terapan berarti membawa latihan ke dalam kehidupan: ke sekolah, keluarga, pekerjaan, konflik sosial, dan penderitaan kolektif.
Brother Pháp Lưu mengenang sekelompok monastik yang ingin pergi dari Maple Forest Monastery ke Washington, D.C., untuk mengikuti demonstrasi perdamaian. Thầy tidak langsung melarang ataupun menyuruh mereka pergi. Ia bertanya, “Apakah kalian dapat berjalan dengan kokoh di wihara?” Pertanyaan itu mengembalikan perhatian pada sumber tindakan. Jika langkah di dalam wihara saja masih penuh kegelisahan dan kemarahan, energi apakah yang akan dibawa ke sebuah demonstrasi?
Buddhisme Terapan dimulai dari napas yang sadar dan langkah yang kokoh. Keberadaan sebuah wihara yang terus berlatih dari hari ke hari sudah menjadi sumbangan bagi kesadaran kolektif. Ketika seorang monastik menenangkan tubuh dan batinnya, pengaruhnya tidak berhenti pada individu itu sendiri. Ketenangan, kejernihan, dan non-kekerasan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya dan perlahan menyentuh komunitas yang lebih luas.
Ini tidak berarti berdiam diri di hadapan ketidakadilan. Para praktisi tetap berikrar untuk berdiri melawan ketidakadilan dan belajar melampaui rasa takut. Namun mereka perlu bertanya: benih apakah yang sedang disiram oleh tindakan ini? Apakah surat kepada seorang pemimpin ditulis dengan kebencian atau dengan ketegasan yang masih menyimpan kasih? Apakah sebuah protes mengurangi kekerasan atau tanpa disadari menambahkannya?
Thầy mendorong para praktisi menulis “surat cinta” kepada mereka yang memegang kekuasaan—bukan surat yang sentimental, tetapi kata-kata yang lahir dari keberanian untuk melihat kemanusiaan orang lain. Pada masa menjelang Perang Irak, ia menulis kepada Presiden George W. Bush dan mengingatkan bahwa orang-orang yang akan terbunuh juga merupakan saudara kita. Brother Pháp Lưu juga menceritakan bagaimana Thầy pernah menemui Senator John McCain, berdiri di hadapannya, dan berkata bahwa Amerika sedang memulai “Vietnam yang lain.” Setelah menyampaikan kalimat itu, Thầy pergi. Welas asih tidak selalu lunak dalam bentuk luarnya. Kadang-kadang ia harus berbicara dengan sangat tegas, tetapi ketegasan itu tidak lahir dari kebencian.
Kelahiran Kembali sebagai Kelanjutan yang Sedang Berlangsung
Pada bagian akhir percakapan, pembahasan bergerak menuju ikrar Bodhisattwa dan kehidupan yang melampaui satu kelahiran. Brother Pháp Lưu menjelaskannya melalui ajaran Thầy mengenai kelanjutan. Kita tidak perlu menunggu tubuh ini berhenti berfungsi untuk melihat bagaimana kelahiran kembali berlangsung. Setiap pikiran yang kita hasilkan, setiap kata yang kita ucapkan, dan setiap tindakan tubuh yang kita lakukan sedang diteruskan ke dunia. Itulah karma, dan itulah kelanjutan kita.
Cara kita hadir hari ini diwariskan kepada saudara, anak, murid, sahabat, dan siapa pun yang bersentuhan dengan kehidupan kita. Ikrar Bodhisattwa tidak hanya merupakan janji besar untuk suatu kehidupan di masa depan. Ikrar itu mengambil bentuk dalam cara kita mendengarkan seseorang hari ini, dalam kata yang kita pilih ketika marah, serta dalam kemampuan untuk tidak meneruskan kekerasan yang pernah diwariskan kepada kita.
Brother Pháp Lưu mengalami sendiri bentuk kelanjutan ini bersama Thầy. Transformasi di dalam dirinya bertumbuh melalui ceramah, tindakan, dan kehadiran gurunya. Ketika masih menjadi samanera, ia pernah mendengar Thầy berkata bahwa kadang-kadang seorang Bodhisattwa perlu berhenti bermanifestasi agar para muridnya sungguh-sungguh berlatih. Ia merasa cemas dan berharap Thầy tidak segera “berhenti bermanifestasi,” karena ia baru saja tiba dan masih ingin belajar. Ia kemudian memperoleh sekitar sepuluh tahun untuk berada dekat dengan Thầy. Bahkan setelah stroke membuat Thầy tidak lagi dapat mengajar dengan kata-kata seperti sebelumnya, transmisi itu tetap berlangsung melalui kehadiran dan caranya menjalani hari-hari.
Dari sudut pandang ini, kelahiran kembali bukan perpindahan sebuah inti diri yang tetap dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Kita tersusun dari matahari, hujan, tanah, bintang-bintang, budaya, bahasa, dan para leluhur. Semua itu terus bergerak dan berwujud kembali dalam bentuk-bentuk baru. Melihat kelanjutan berarti perlahan melepaskan anggapan bahwa “aku adalah tubuh ini” dan bahwa ada sesuatu yang sepenuhnya terpisah di dalam diri yang harus dipindahkan ke tempat lain.
Namun ajaran ini juga tidak meminta kita berpura-pura telah memahami seluruh misteri kehidupan dan kematian. Masih banyak hal yang belum dapat dijelaskan secara tuntas oleh pengetahuan manusia. Latihan Dhamma membantu kita mengenali keterbatasan persepsi dan pengetahuan, sehingga kita tidak mengganti dogma agama dengan dogma materialisme ilmiah. Di sinilah ungkapan Zen Master Seung Sahn menjadi relevan: only don’t know—cukup jangan tahu. Tidak tahu bukan berarti menolak penyelidikan, melainkan menjaga batin tetap terbuka dan tidak tergesa-gesa mengubah dugaan menjadi kepastian.
Tinggal Cukup Lama untuk Menemukan Kedalaman
Di ujung percakapan, Brother Pháp Lưu kembali pada keindahan berbagai tradisi Buddhis. Ia merasakan penghormatan mendalam ketika bertemu monastik dari Tradisi Hutan Thai, tradisi Tibet, Plum Village, dan berbagai aliran Mahāyāna lainnya. Keindahan tidak terletak pada membuat semua tradisi terlihat sama, melainkan pada kesungguhan para praktisi yang bertahan, menjalani latihan, dan masuk semakin dalam selama puluhan tahun.
Tantangan besar pada zaman ini adalah kecenderungan memperlakukan jalan spiritual seperti pusat perbelanjaan: mengambil sedikit dari satu tempat, berpindah ketika bosan, lalu mencari pengalaman baru di tempat lain. Ketika latihan mulai menyentuh bagian diri yang paling sulit, kita mudah menyimpulkan bahwa tradisi yang dipilih tidak cocok. Padahal, justru pada saat penderitaan terasa paling kuat, latihan mungkin sedang membuka lapisan yang selama ini tersembunyi.
Setiap tradisi memiliki Dhamma di dalamnya. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk tinggal cukup lama, membangun kepercayaan, menerima bimbingan, dan membiarkan latihan mengubah diri—bukan hanya mengumpulkan ajaran yang kita sukai. Satipaṭṭhāna mengembalikan kita kepada tubuh dan napas. Zen mengajak kita melepaskan konsep dan menyentuh pengalaman secara langsung. Kehidupan Sangha mengajarkan bahwa kebijaksanaan harus menjelma menjadi cara hidup bersama. Buddhisme Terapan mengingatkan bahwa kedamaian batin tidak terpisah dari penderitaan dunia. Sementara ajaran tentang kelanjutan memperlihatkan bahwa setiap pikiran, ucapan, dan tindakan kita sedang membentuk masa depan.
Pada akhirnya, jembatan antara Mahāyāna dan Theravāda tidak dibangun terutama melalui perdebatan tentang teks mana yang lebih tua atau tradisi mana yang lebih murni. Jembatan itu dibangun ketika seorang praktisi kembali kepada napas, mengenali penderitaan, merawat kemarahan, belajar hidup bersama, dan bertindak tanpa menambah kekerasan. Di sana, perbedaan tradisi tidak hilang, tetapi berhenti menjadi pemisah. Kita dapat bertemu sebagai saudara dan saudari dalam Dhamma—masing-masing menjaga jalan yang diwarisi, sambil menghormati kedalaman jalan yang ditempuh orang lain.
Sumber utama: Mahāyāna Satipaṭṭhāna: Thich Nhat Hanh’s Theravāda Bonafides | Brother Pháp Lưu Q&A, Clear Mountain Monastery.
Profil narasumber: Brother Chân Pháp Lưu, Deer Park Monastery.
(CG)


