“Ketika semua berubah dan tidak menetap, di manakah tempat untuk berpijak?”
“Siapa yang berpijak?”
Kita menghabiskan banyak bagian dari hidup untuk mencari pijakan. Kita mencarinya dalam kesehatan, pekerjaan, hubungan, harta, keluarga, reputasi, keyakinan, bahkan dalam praktik spiritual. Kita ingin menemukan sesuatu yang cukup kokoh untuk membuat hati berkata, “Sekarang aku aman.” Namun cepat atau lambat kehidupan memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu ingin kita lihat: tidak ada satu pun dari semua itu yang dapat dijanjikan akan tetap seperti sekarang.
Tubuh berubah, perasaan berubah, pikiran berubah. Orang yang kita cintai berubah. Hubungan berubah. Keadaan yang hari ini terasa aman dapat bergeser tanpa meminta izin. Bahkan diri yang sedang membaca tulisan ini bukanlah diri yang sama persis dengan beberapa tahun lalu. Inilah anicca—bukan sebagai teori yang perlu dipercayai, melainkan kenyataan yang terus berlangsung tepat di depan mata.
Masalahnya mungkin bukan karena kehidupan berubah. Masalahnya adalah kita menginginkan sesuatu yang berubah untuk tidak berubah. Kita ingin berdiri di tengah arus, tetapi menuntut agar air berhenti mengalir. Maka ketika satu pijakan mulai goyah, kita segera mencari pijakan berikutnya. Ketika tubuh tidak dapat diandalkan, kita mencari keamanan pada harta. Ketika harta terasa tidak cukup, kita mencarinya dalam hubungan, pencapaian, pandangan, atau identitas. Bentuknya berganti, tetapi gerakannya sama: aku harus menemukan sesuatu yang dapat menjamin keberadaanku.
Di sinilah pertanyaan “Di mana aku dapat berpijak?” dapat menjadi sangat menarik. Sebab Dhamma dapat membawa kita satu langkah lebih dalam: siapa sebenarnya yang ingin berpijak?
Jangan terlalu cepat menjawabnya dengan “tidak ada diri”. Itu hanya akan menjadi jawaban lain yang kita simpan di kepala. Lebih baik melihat langsung apa yang terjadi ketika kebutuhan akan pijakan muncul. Ada rasa takut, ada ketidakpastian, ada keinginan untuk mengendalikan, lalu di tengah semua itu muncul perasaan yang sangat kuat tentang “aku”: aku yang mungkin kehilangan, aku yang harus bertahan, aku yang harus aman, aku yang harus mengetahui apa yang akan terjadi.
Di titik inilah kita dapat mengenali jejak Māra. Bukan karena rasa takut itu jahat, dan bukan pula karena kita salah ketika menginginkan keamanan. Māra jauh lebih halus daripada itu. Ia bekerja ketika sebuah pengalaman yang sebenarnya sedang muncul dan berlalu mulai kita genggam sebagai “aku” dan “milikku”. Ketakutan bukan lagi sekadar ketakutan; ia menjadi aku takut. Ketidakpastian menjadi masa depanku terancam. Kehilangan menjadi sesuatu telah diambil dariku. Dari sana dunia segera terbagi menjadi aku yang harus dilindungi dan kehidupan yang harus dikendalikan.
Maka praktik bukanlah mencari pijakan spiritual yang lebih kuat untuk menggantikan pijakan duniawi. Bahkan Dhamma dapat kita jadikan pegangan baru bila kita tidak berhati-hati: aku harus mencapai keadaan tertentu, aku harus menjadi lebih tenang, aku harus terbebas dari penderitaan, aku harus menjadi seseorang yang sudah “mengerti”. Pencarian menjadi semakin halus, tetapi sang pencari tetap berdiri di tengahnya.
Barangkali inilah bagian yang paling tajam: selama kita terus bertanya “apa yang dapat kupegang?”, kita mungkin belum melihat tangan yang sedang menggenggam.
Sati membawa perhatian kembali ke sana. Ketika takut muncul, ketahui takut. Ketika keinginan untuk memastikan muncul, ketahui keinginan itu. Ketika batin ingin menggenggam sesuatu dan berkata “ini milikku, ini aku, ini tempat amanku”, lihat gerakan tersebut sebagaimana adanya. Tidak perlu dibenci, tidak perlu dihancurkan, bahkan tidak perlu segera dilepaskan. Karena keinginan untuk “segera melepaskan” pun dapat menjadi bentuk lain dari pengendalian. Cukup mengetahui dengan jernih. Apa yang muncul karena kondisi akan berubah ketika kondisinya berubah.
Kita tetap hidup secara wajar. Kita bekerja, membuat rencana, menjaga tubuh, menabung, mencintai orang-orang di sekitar kita, dan membangun kehidupan sebaik mungkin. Kebijaksanaan bukan berarti berhenti membuat pijakan praktis. Kebijaksanaan adalah mengetahui bahwa pijakan praktis bukanlah pijakan mutlak. Kita menggunakan apa yang tersedia tanpa meminta sesuatu yang tidak kekal untuk memberikan keamanan yang kekal.
Mungkin kebebasan tidak ditemukan ketika akhirnya kita memperoleh sesuatu yang tidak pernah berubah. Mungkin kebebasan mulai terasa ketika kebutuhan untuk menemukan sesuatu seperti itu mulai berhenti.
Maka ketika batin kembali bertanya, “Jika semuanya berubah, di mana aku harus berpijak?”, kita tidak perlu tergesa-gesa mencari jawabannya. Tinggallah sejenak bersama pertanyaan itu. Lihat rasa takut yang melahirkannya. Lihat keinginan untuk menggenggam. Lihat bagaimana “aku” terbentuk tepat di tengah keinginan untuk menjadi aman.
Lalu tanyakan sekali lagi:
Siapa yang berpijak?
Gāthā
Segala yang lahir akan berubah,
segala yang kugenggam akan berlalu.
Ketika hati mencari tempat untuk berpijak,
aku melihat tangan yang sedang menggenggam.
Tak perlu menghentikan arus kehidupan
cukup melihat, dan tidak hanyut bersamanya.
(CG)


