Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai merasa asing terhadap banyak hal yang dulu dianggap penting oleh dunia. Keramaian terasa melelahkan. Percakapan yang berputar di sekitar tren, pencapaian, citra diri, atau usaha untuk terlihat “menarik” perlahan kehilangan daya tariknya. Bukan karena membenci orang lain, bukan pula karena merasa lebih baik dari siapa pun, melainkan karena batin mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: “Untuk apa semua ini sebenarnya?”
Di usia yang semakin matang, terutama setelah melewati berbagai pengalaman hidup, tanggung jawab, kehilangan, tekanan pekerjaan, dan perjumpaan dengan penderitaan manusia, seseorang kadang mulai melihat bahwa begitu banyak aktivitas dalam kehidupan modern sebenarnya dibangun di atas kebutuhan untuk terlihat berarti di mata orang lain. Banyak orang sibuk mengejar pengakuan, validasi, status, atau kesan bahwa hidup mereka menarik. Namun ketika dilihat lebih dalam, semua itu sering terasa cepat berlalu dan sulit benar-benar mengenyangkan hati.
Lalu muncullah jarak batin terhadap banyak hal yang sebelumnya dianggap normal. Nongkrong demi terlihat gaul terasa kosong. Mengikuti tren terasa melelahkan. Keinginan untuk tampil mengesankan mulai memudar. Bahkan kata “passion” pun mulai dipertanyakan. Apakah passion benar-benar sesuatu yang lahir dari hati yang tenang? Ataukah kadang ia hanya bentuk lain dari kegelisahan yang diberi nama indah? Sebuah dorongan terus-menerus untuk mengejar, membuktikan diri, dan merasa penting.
Namun kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal superfisial bukan berarti hidup menjadi hambar. Justru kadang di situlah kehidupan mulai terasa lebih nyata. Ketika kebutuhan untuk terus tampil mulai melemah, seseorang mulai mampu menikmati hal-hal sederhana dengan lebih dalam. Duduk diam tanpa harus sibuk. Menikmati pagi yang tenang. Percakapan yang tulus. Pekerjaan yang bermakna. Kehadiran orang-orang yang tidak menuntut kita menjadi siapa-siapa. Ada rasa lega ketika tidak lagi harus terus mengejar citra diri.
Mungkin ini bukan tentang kehilangan semangat hidup. Mungkin justru batin sedang perlahan lelah terhadap kehidupan yang terlalu penuh kebisingan. Dan dari kelelahan itu, muncul kerinduan akan sesuatu yang lebih jujur, lebih sederhana, dan lebih nyata.
Gāthā
Di tengah dunia yang ramai mengejar cahaya,
aku belajar duduk bersama keheningan.
Tidak semua yang berkilau memberi kedamaian,
dan tidak semua yang sederhana kehilangan makna.
Kadang hati baru mulai hidup,
ketika ia berhenti sibuk menjadi “seseorang.”
(CG)


