“Jubah tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang seorang pelepas. Tinggal di rumah pun tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang duniawi. Jalan pelepasan sesungguhnya berlangsung di dalam hati.”
Ketika mendengar kata renunciation—pelepasan—kita mungkin segera membayangkan seseorang yang mengenakan jubah, mencukur rambutnya, meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan duniawi. Dalam tradisi Buddhis, kehidupan monastik memang merupakan bentuk pelepasan yang sangat nyata dan patut dihormati. Namun, ada satu pelepasan lain yang jauh lebih dalam dan tidak selalu terlihat dari luar: pelepasan yang terjadi di dalam hati.
Seseorang dapat meninggalkan rumah, tetapi tetap membawa keinginan untuk diakui, rasa iri, kemarahan, ketakutan, kebanggaan, dan berbagai bentuk kemelekatan ke mana pun ia pergi. Sebaliknya, seseorang dapat tetap hidup di tengah keluarga, bekerja, mencari nafkah, membesarkan anak, dan menjalankan berbagai tanggung jawab, tetapi perlahan-lahan belajar untuk tidak menggenggam kehidupan terlalu erat. Yang satu telah meninggalkan rumahnya. Yang lain sedang belajar meninggalkan kemelekatan di dalam dirinya. Dan pada akhirnya, Dhamma selalu membawa kita kembali ke tempat yang kedua ini: hati.
Pelepasan bukan berarti menolak kehidupan. Kita tidak melepaskan karena dunia ini buruk. Kita melepaskan karena menggenggam sesuatu yang terus berubah akan selalu melelahkan. Seekor burung bukan bebas karena langit tidak memiliki pohon. Ia bebas karena tidak lagi berada di dalam sangkar. Demikian pula seorang praktisi tidak perlu membenci dunia untuk menjadi bebas darinya. Yang dilepaskan bukan kehidupan, melainkan genggaman kita terhadap kehidupan.
Karena itu, persoalan sesungguhnya bukanlah berapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa kuat hati menggenggam apa yang dimiliki. Bukan apakah kita mempunyai kedudukan, melainkan apakah harga diri kita bergantung padanya. Bukan apakah kita menikmati kenyamanan, melainkan apakah kita gelisah ketika kenyamanan itu hilang. Bukan apakah kita dicintai, melainkan apakah kita membutuhkan cinta orang lain untuk merasa bahwa diri ini berharga. Kemelekatan sering kali tidak berada pada benda yang kita pegang. Ia berada pada cara hati memegangnya.
Dalam Buddhisme awal, kehidupan meninggalkan rumah disebut anagāriya—kehidupan tanpa rumah. Secara nyata ini menunjuk pada kehidupan monastik, meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk sepenuhnya menjalani jalan latihan. Tetapi semangat dari anagāriya juga dapat menjadi sebuah perenungan bagi kita yang masih hidup di tengah dunia: adakah hati ini mempunyai tempat yang terus-menerus dijadikannya sebagai rumah?
Mungkin rumah itu adalah uang. Mungkin reputasi. Mungkin pekerjaan. Mungkin seseorang yang kita cintai. Mungkin kesehatan, kecantikan, kecerdasan, pencapaian, atau pandangan orang lain terhadap kita. Bahkan pengalaman spiritual dan identitas sebagai “orang yang menjalankan Dhamma” pun dapat menjadi rumah baru bagi ego.
Hati terus berkata, “Selama ini masih ada, aku akan baik-baik saja.”
Namun segala sesuatu yang dapat kita jadikan tempat bergantung berada di bawah hukum yang sama: semuanya berubah.
Di sinilah makna homeless in the heart menjadi indah. Bukan hati yang kehilangan tempat pulang, bukan pula hati yang dingin dan tidak peduli. Justru sebaliknya. Ia adalah hati yang perlahan berhenti mencari keamanan mutlak pada sesuatu yang tidak mungkin dibuat tetap.
Kita masih dapat mencintai, tetapi tidak harus memiliki. Kita masih dapat bekerja keras, tetapi tidak harus menjadikan keberhasilan sebagai ukuran nilai diri. Kita dapat menikmati sesuatu yang indah tanpa menuntutnya untuk bertahan selamanya. Kita dapat merawat seseorang dengan sepenuh hati sambil memahami bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki siapa pun. Kita dapat menerima apa yang datang dan, ketika waktunya tiba, belajar membuka tangan terhadap apa yang pergi.
Pelepasan seperti ini jarang terlihat dramatis. Sering kali ia hadir dalam hal-hal yang sangat biasa. Tidak membalas ketika sebenarnya kita mampu membalas. Tidak memaksakan kata terakhir dalam sebuah pertengkaran. Mampu melihat orang lain berhasil tanpa merasa diri menjadi lebih kecil. Menerima kritik tanpa segera membangun benteng pembelaan. Menolong tanpa perlu diketahui. Mengakui kesalahan. Meletakkan telepon dan benar-benar hadir bagi orang di depan kita. Mengetahui kapan harus berhenti mengejar sesuatu dan berkata dengan tenang, “Ini sudah cukup.”
Itulah sebabnya pelepasan tidak hanya dilatih di ruang meditasi. Ia sedang dilatih ketika keinginan muncul di pusat perbelanjaan, ketika harga diri terusik di tempat kerja, ketika seseorang tidak memperlakukan kita sebagaimana yang kita harapkan, ketika rencana gagal, ketika kita kehilangan sesuatu, ketika dipuji, bahkan ketika kehidupan berjalan sangat baik. Setiap keadaan memperlihatkan satu pertanyaan yang sama: seberapa erat hati ini sedang menggenggam?
Semakin dalam praktik berjalan, semakin halus pula yang harus dilepaskan. Pada awalnya kita mungkin belajar melepaskan benda-benda tertentu. Kemudian kita menemukan bahwa jauh lebih sulit melepaskan pendapat. Lebih sulit lagi melepaskan kebutuhan untuk benar, kebutuhan untuk dihargai, kebutuhan untuk terlihat bijaksana, bahkan kebutuhan untuk merasa bahwa praktik kita sedang “maju.”
Ego ternyata dapat mengenakan pakaian apa saja. Ia dapat mengenakan jas mahal, tetapi ia juga dapat bersembunyi di balik kesederhanaan. Ia dapat bangga karena memiliki banyak, tetapi ia juga dapat bangga karena tidak memiliki apa-apa. Ia bahkan dapat menjadikan pelepasan sebagai identitas baru: “Aku adalah orang yang sudah tidak melekat.”
Dan sekali lagi kita harus melepaskannya.
Karena tujuan jalan ini bukan menjadi seseorang yang pandai melepaskan. Tujuannya adalah semakin sedikit yang perlu kita pertahankan sebagai “aku” dan “milikku.”
Mungkin tidak semua orang terpanggil untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga dan mengenakan jubah. Kehidupan monastik mempunyai kedudukan dan latihan yang khas yang tidak perlu kita kaburkan. Namun semangat pelepasan dapat tumbuh di hati siapa saja.
Seorang renunciant of the heart mungkin tetap hidup di kota yang ramai. Ia mempunyai keluarga, pekerjaan, tagihan yang harus dibayar, orang-orang yang harus dirawat, dan berbagai persoalan sehari-hari. Ia masih tertawa, menikmati makanan, merencanakan masa depan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan mencintai orang-orang di sekitarnya. Tidak ada yang luar biasa ketika melihatnya dari luar.
Tetapi perlahan-lahan ada sesuatu yang berubah di dalam.
Ia bekerja sungguh-sungguh tanpa menjadikan keberhasilan sebagai tempat berlindung. Ia mencintai tanpa terlalu banyak memiliki. Ia menikmati tanpa terus meminta lebih. Ketika berhasil, ia tidak terlalu mabuk olehnya. Ketika gagal, seluruh dirinya tidak ikut runtuh. Ketika sesuatu datang, ia menerimanya. Ketika sesuatu pergi, ia berduka bila memang ada duka, tetapi perlahan membuka tangannya kembali.
Mungkin inilah pelepasan yang paling dekat dengan kehidupan kita: bukan meninggalkan dunia, tetapi berhenti meminta dunia menjadi sesuatu yang dapat kita genggam selamanya.
Kita masih mempunyai rumah, tetapi tidak menjadikan apa pun sebagai tempat berlindung yang mutlak. Kita masih mempunyai nama, peran, pekerjaan, keluarga, pencapaian, dan cerita hidup, tetapi semakin sedikit yang harus dipertahankan untuk membuktikan siapa diri kita.
Dan sedikit demi sedikit, hati menjadi ringan.
Bukan karena kita tidak lagi memiliki apa-apa, tetapi karena kita tidak lagi harus memiliki semuanya.
Bukan karena kita berhenti mencintai dunia, tetapi karena kita mulai mampu mencintainya tanpa menggenggamnya.
(CG)


