Ada saat-saat ketika rasa takut muncul bukan karena sesuatu yang benar-benar sedang terjadi, tetapi karena sesuatu yang kita bayangkan sedang terjadi. Seseorang berbicara sedikit berbeda, sebuah pesan tidak dibalas seperti biasanya, wajah seseorang tampak lebih dingin, atau kita merasa telah melakukan sesuatu yang kurang tepat. Dari sesuatu yang begitu kecil, pikiran dapat segera membangun sebuah cerita: Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah dia kecewa kepadaku? Apakah dia berpikir buruk tentangku?
Perasaannya bisa sangat nyata. Dada mengencang, hati menjadi tidak tenang, dan muncul dorongan untuk segera mencari kepastian. Kita ingin menjelaskan diri, memperbaiki keadaan, memastikan bahwa orang lain tidak salah memahami kita. Kadang kita bahkan mulai memeriksa diri sendiri berulang kali, mencari apa yang mungkin salah dalam diri kita.
Ketika Ketakutan Membawa Kita Meninggalkan Diri
Barangkali yang paling menyakitkan bukanlah rasa takut itu sendiri. Yang lebih menyakitkan adalah bagaimana, ketika rasa takut muncul, kita begitu mudah meninggalkan diri kita sendiri.
Kita segera berpihak kepada suara yang menghakimi. Kita percaya kepada pikiran yang berkata bahwa kita kurang baik, kurang benar, atau telah mengecewakan seseorang. Kita sibuk masuk ke dalam pikiran orang lain, mencoba menebak apa yang mereka pikirkan tentang kita, sampai lupa memperhatikan seseorang yang sebenarnya sedang membutuhkan perhatian kita saat itu: diri kita sendiri.
Mungkin karena itu latihan yang kita perlukan bukan selalu bagaimana menghilangkan rasa takut, melainkan bagaimana membawa rasa aman ke tempat di mana rasa takut muncul.
Bukan dengan meyakinkan diri bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Kita memang tidak selalu tahu apa yang dipikirkan orang lain. Bukan pula dengan mengganti setiap pikiran negatif dengan pikiran positif. Namun kita dapat belajar untuk tidak meninggalkan diri hanya karena sesuatu di dalam diri sedang terasa tidak nyaman.
Mettā yang Tidak Selalu Membutuhkan Kata-kata
Di sinilah latihan mettā bhāvanā menjadi sangat hidup.
Kita sering mengenal mettā melalui kalimat-kalimat: Semoga aku berbahagia. Semoga aku terbebas dari penderitaan. Semoga aku hidup dengan damai. Kalimat-kalimat ini dapat menjadi pintu masuk yang sangat baik. Tetapi seiring waktu, mettā tidak selalu membutuhkan kata-kata.
Kadang ia hadir hanya sebagai sebuah rasa.
Ada kelembutan yang muncul ketika kita menyadari bahwa diri ini sedang takut. Ada kehangatan yang tidak mencoba mengubah apa pun. Ada penerimaan yang membuat kita berhenti melawan pengalaman kita sendiri.
Kita mungkin masih merasakan sesak di dada. Pikiran mungkin masih ingin bercerita. Ketakutan belum tentu langsung pergi. Tetapi sekarang ketakutan itu tidak lagi sendirian. Ada sesuatu yang menemaninya.
Itulah mettā.
Bukan perintah agar rasa takut menghilang, melainkan kesediaan hati untuk berkata tanpa kata-kata: Kamu boleh berada di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu.
Tidak Semua yang Kita Rasakan Harus Dipercaya
Ketika batin mulai sedikit tenang, kita dapat melihat sesuatu yang sebelumnya sulit terlihat: perasaan kita memang nyata, tetapi cerita yang menyertainya belum tentu benar.
Kita sungguh merasakan takut. Tetapi belum tentu orang lain sedang menilai kita. Kita sungguh merasa telah melakukan sesuatu yang salah. Tetapi perasaan bersalah tidak selalu berarti kita bersalah. Pikiran dapat mengambil sebuah tatapan, nada suara, atau keheningan, kemudian mengisinya dengan cerita yang dibentuk oleh pengalaman masa lalu.
Kesadaran membuat kita mampu membedakan keduanya.
Kita tidak perlu menolak apa yang terasa. Namun kita juga tidak harus mempercayai setiap kesimpulan yang dibuat oleh pikiran.
Ada kebebasan kecil di antara keduanya.
Menjadi Tempat yang Aman bagi Diri Sendiri
Semakin sering kita berlatih seperti ini, perlahan hubungan kita dengan diri sendiri berubah. Ketika ketakutan datang, kita tidak lagi otomatis berlari keluar mencari kepastian. Kita belajar kembali ke tubuh, merasakan apa yang sedang terjadi, dan membiarkan hati melembut terhadap pengalaman itu.
Mungkin inilah salah satu bentuk terdalam dari mettā kepada diri sendiri: bukan selalu merasa baik tentang diri kita, melainkan tidak meninggalkan diri ketika kita sedang tidak baik-baik saja.
Kita tidak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu untuk pantas menerima kelembutan. Bahkan bagian diri yang takut, sensitif, mudah terluka, atau masih membawa kebiasaan lama pun dapat kita sambut dengan hati yang sama.
Dan menariknya, ketika kita semakin mampu memberi ruang kepada diri sendiri, kita juga menjadi lebih lapang terhadap orang lain. Kita tidak terlalu cepat membaca penolakan di dalam diam mereka. Tidak terlalu cepat melihat penghakiman di dalam wajah mereka. Kita memberi mereka ruang untuk menjadi sebagaimana adanya, karena kita tidak lagi begitu bergantung pada mereka untuk membuat batin kita merasa aman.
Hadir Bersama Diri
Pada akhirnya, mungkin latihan ini sangat sederhana. Ketika takut, kita hadir. Ketika hati mengencang, kita melembut. Ketika pikiran mulai mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita, kita tidak buru-buru mempercayainya. Dan ketika bagian diri yang lama kembali mencari rasa aman dari luar, kita perlahan belajar memberinya tempat untuk beristirahat di dalam.
Bukan dengan mengusir ketakutan. Bukan dengan menjadi seseorang yang tidak pernah terluka. Tetapi dengan membawa kesadaran, penerimaan, dan mettā tepat ke tempat di mana ketakutan itu muncul.
Mungkin rasa aman yang paling dalam bukanlah ketika dunia akhirnya memperlakukan kita sebagaimana yang kita inginkan. Rasa aman itu mulai tumbuh ketika, apa pun yang sedang terjadi di luar, kita tahu bagaimana caranya pulang dan hadir bersama diri.
Gāthā
Ketika takut mengetuk hati,
aku tidak perlu berlari.
Dengan mettā aku menemani,
dan perlahan, hati belajar kembali.
(CG)


