Ada satu suara yang begitu akrab dalam kehidupan sehingga kita jarang mempertanyakannya: “Aku harus.” Aku harus berhasil, harus menjadi lebih baik, harus mencapai sesuatu, harus menjaga apa yang sudah dicapai, harus mempersiapkan masa depan. Tidak ada yang keliru dengan bekerja keras, mempunyai tujuan, atau menjalankan tanggung jawab. Namun Dhamma mengajak kita melihat sedikit lebih dalam: bukan hanya apa yang sedang kita lakukan, tetapi dari mana gerakan itu berasal. Sebab terkadang di balik usaha yang tampak sangat wajar, ada batin yang diam-diam terus berusaha membangun, mengukur, dan mempertahankan “aku”.
Dalam ajaran Buddha kita menemukan istilah ahaṅkāra, mamaṅkāra, dan mānānusaya. Ahaṅkāra menunjuk pada pembentukan “aku”, mamaṅkāra pada pembentukan “milikku”, sedangkan mānānusaya adalah kecenderungan laten dari māna yang membuat batin terus melihat dirinya melalui ukuran dan perbandingan. Kita mungkin membayangkan māna hanya sebagai kesombongan, padahal ia jauh lebih halus. “Aku lebih baik”, “aku lebih buruk”, bahkan “aku sama dengan dia” masih bergerak di sekitar satu pusat yang sama: aku. Seperti ada penggaris tersembunyi di dalam batin yang terus bertanya, “Aku berada di mana? Sudah cukupkah aku? Bagaimana aku dibandingkan dengan yang lain?”
Dari sini kehidupan dengan mudah berubah menjadi proyek pembentukan diri. Kita membangun gambaran mengenai siapa diri kita dan siapa yang seharusnya kita menjadi: orang yang berhasil, orang yang baik, orang yang bertanggung jawab, orang yang berguna, bahkan seorang praktisi Dhamma yang baik. Secara konvensional semua identitas ini dapat memiliki fungsi. Masalah mulai muncul ketika batin menggenggamnya. Kita tidak lagi sekadar melakukan pekerjaan dengan baik; kita membutuhkan keberhasilan itu untuk mengukuhkan siapa “aku”. Kita tidak lagi sekadar mempunyai sesuatu; sesuatu itu mulai menjadi “milikku” dan bagian dari diri yang harus dipertahankan.
Karena itu hal-hal sederhana dalam kehidupan dapat membawa beban yang jauh lebih besar daripada kelihatannya. Jumlah pelanggan menurun, jabatan berubah, usaha tidak berkembang seperti yang diharapkan, seseorang tidak menghargai kita, atau pendapat kita ditolak. Yang terguncang terkadang bukan hanya keadaan luar. Ada sesuatu di dalam yang merasa terancam karena tanpa disadari pekerjaan itu telah menjadi pekerjaanku, pencapaian itu menjadi keberhasilanku, pandangan itu menjadi pandanganku, dan penghargaan orang lain menjadi bagian dari gambaran mengenai siapa aku.
Pola yang sama dapat mengikuti kita ke mana saja. Seorang anak mengejar nilai, orang dewasa mengejar karier, kemudian mengejar kestabilan finansial, pengakuan, kenyamanan, atau posisi tertentu. Ketika satu tujuan tercapai, batin segera menemukan sesuatu yang berikutnya. Bahkan ketika seseorang mulai berlatih Dhamma, mesin lama itu belum tentu berhenti. Ia hanya berganti pakaian: “Aku harus lebih mindful. Meditasiku harus lebih dalam. Aku seharusnya tidak marah. Aku harus menjadi lebih bijaksana.” Dunia spiritual pun dapat menjadi tempat baru bagi “aku” untuk menyempurnakan dirinya.
Di sinilah bhava-taṇhā, kehausan untuk menjadi, menjadi sangat relevan. Kita bukan hanya menginginkan benda atau pengalaman; kita juga terus ingin menjadi. Menjadi lebih berhasil, lebih aman, lebih dihargai, lebih baik, lebih tenang, lebih spiritual. Dan setiap “menjadi” diam-diam membawa janji bahwa setelah sampai di sana kita akhirnya akan merasa cukup. Namun pengalaman menunjukkan sesuatu yang lain. Satu pencapaian selesai, pencapaian berikutnya muncul. Satu kekhawatiran teratasi, batin menemukan kekhawatiran baru. Garis akhir terus bergeser karena yang sebenarnya mencari kepuasan bukanlah targetnya, melainkan gerakan batin yang memang terbiasa mengatakan, “Belum cukup.”
Melihat hal ini bukan berarti kita kemudian harus membuang cita-cita, berhenti membuat rencana, atau hidup tanpa arah. Itu hanya akan menjadi “harus” yang baru: aku harus berhenti berambisi, aku harus tidak melekat, aku harus bisa menerima semuanya. Mesin yang sama tetap berjalan dengan nama yang berbeda. Jalan Dhamma lebih halus daripada itu. Kita belajar mengetahui gerakannya tanpa segera menurutinya maupun memusuhinya. Ketika keinginan menjadi muncul, kita mengetahui, “Ini bhava.” Ketika sesuatu berubah menjadi “milikku” dan mulai digenggam, kita mengetahuinya. Ketika batin mulai membandingkan diri, kita mengenali māna. Tidak perlu buru-buru membuat identitas baru sebagai orang yang sudah bebas dari semua itu.
Semakin jernih pengamatan, semakin terlihat bahwa “aku” yang terasa begitu padat sebenarnya terus dibentuk dari saat ke saat. Pikiran muncul, perasaan berubah, keadaan berganti, keberhasilan datang dan pergi, pujian berubah menjadi kritik, yang dimiliki suatu hari harus dilepaskan. Semua adalah saṅkhāra, muncul karena kondisi dan berubah ketika kondisi berubah. Dari pengertian inilah genggaman perlahan dapat melonggar. Bukan karena kita memerintahkan diri untuk melepaskan, tetapi karena kita mulai melihat bahwa tidak ada sesuatu di sana yang benar-benar dapat dipertahankan sebagai “aku” dan “milikku”.
Kita tetap dapat bekerja dengan sungguh-sungguh, membuat perencanaan, merawat keluarga, membangun sesuatu, belajar, dan berkembang. Namun kualitas batinnya berbeda. Kita dapat melakukan sesuatu tanpa menjadikannya ukuran keberadaan diri. Kita dapat mempunyai tujuan tanpa menggantungkan kedamaian pada tercapai atau tidaknya tujuan itu. Kita dapat berhasil tanpa harus membangun “aku yang berhasil”, dan mengalami kegagalan tanpa harus membangun “aku yang gagal”. Ada pekerjaan yang perlu dilakukan, maka kita melakukannya. Ada sesuatu yang perlu dilepaskan, maka ketika waktunya tiba kita belajar melepaskannya.
Barangkali kebebasan tidak ditemukan ketika akhirnya kita berhasil menjadi seseorang yang sempurna. Mungkin justru sebaliknya. Kebebasan mulai terasa ketika kebutuhan untuk terus-menerus menjadi seseorang mulai kehilangan cengkeramannya. Hidup tetap berjalan, pekerjaan tetap dilakukan, rencana tetap dibuat, tetapi di tengah semuanya ada ruang yang tidak lagi sibuk membuktikan: “Inilah aku. Inilah milikku. Inilah nilai diriku.”
Dan di ruang itulah pertanyaan “Aku harus menjadi apa?” perlahan kehilangan kepentingannya. Yang tersisa jauh lebih sederhana: mengetahui apa yang sedang hadir, melakukan apa yang memang perlu dilakukan, lalu tidak menggenggamnya lebih lama daripada yang diperlukan.
Gatha
Ketika “aku” mulai dibentuk,
semoga aku melihatnya.
Ketika “milikku” mulai digenggam,
semoga aku mengenalinya.
Ketika batin mulai mengukur diri,
semoga aku tidak ikut terseret.
Datang sebagaimana ia datang,
berlalu sebagaimana ia berlalu.
Tak perlu menjadi siapa-siapa,
untuk hadir sepenuhnya di sini.
(CG)


