Kita telah membicarakan Kebenaran Mulia Pertama: dukkha, atau penderitaan. Ketika duduk dan memperhatikan tubuh serta pikiran, kita mulai melihatnya dengan lebih jelas. Perhatikan saja apa yang terjadi. Ketika pikiran yang menyenangkan muncul, kita merasa senang. Ketika kenikmatan jasmani hadir, kita ingin menikmatinya. Namun saat semua itu berlalu, sering kali kita ingin mendapatkannya kembali.
Sebaliknya, ketika rasa sakit atau pikiran negatif muncul, kita merasa tidak nyaman dan ingin menolaknya. Kita ingin menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan, mempertahankan apa yang menyenangkan, dan memperoleh sesuatu yang belum kita miliki. Perhatikan bagaimana pikiran bergerak seperti ini. Kita terus berusaha meraih, mempertahankan, atau menyingkirkan berbagai keadaan.
Kebenaran Mulia Kedua mengajak kita melihat keinginan yang muncul dalam pikiran: keinginan akan kenikmatan indria, keinginan untuk menjadi atau mencapai sesuatu, dan keinginan agar sesuatu lenyap. Kita dapat melihat bahwa keinginan-keinginan ini muncul bergantung pada kondisi. Ketika kondisi tertentu hadir, keinginan muncul. Ketika kondisi berubah, keinginan itu pun dapat berubah.
Kebenaran Mulia Ketiga adalah memahami bahwa apa yang muncul akan berlalu. Kita belajar mengenali berhentinya sesuatu: berhentinya dorongan untuk meraih, menolak, atau terus menjadi. Kita mulai memahami pelepasan. Dari pemahaman ini, kita mengembangkan Kebenaran Mulia Keempat, Jalan Mulia Berunsur Delapan: pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Dengan kata lain, ini adalah jalan kesadaran.
Namun, untuk menjadi sadar, kita perlu menggunakan cara yang terampil. Pada awalnya kita sering bingung. Kita membentuk gagasan tentang kesadaran, lalu berusaha menjadi sadar seolah-olah kesadaran adalah sesuatu yang harus kita peroleh, capai, atau kembangkan. Kita berpikir, “Aku harus menjadi lebih penuh perhatian. Aku harus mencapai keadaan tertentu.”
Tetapi saat kita berusaha menjadi sesuatu, kita mungkin tidak melihat pikiran yang sedang berusaha itu. Pikiran berkata, “Aku harus mencapai ini,” lalu kita mengikutinya. Keinginan untuk menjadi, keinginan untuk mencapai, dan keinginan untuk menyingkirkan sesuatu kembali menguasai kita. Jadi, alih-alih hanya menyadari apa yang sedang terjadi, kita sibuk berusaha menjadi orang yang sadar.
Latihan sederhana: “Melepas”
Bagi pikiran yang terus-menerus berpikir dan terobsesi pada berbagai hal, praktik melepas dapat sangat membantu. Kita dapat menyederhanakan latihan menjadi dua kata: “melepas, melepas.”
Kita tidak perlu terus mencari metode baru, mengejar pengalaman tertentu, mempelajari banyak hal sekaligus, atau mencoba menjadi ahli dalam segala sesuatu. Kita mungkin ingin membaca semua sutta, mempelajari Abhidhamma, bahasa Pali dan Sanskerta, Madhyamaka dan Prajñāpāramitā. Kita mungkin ingin menerima berbagai inisiasi, mendalami berbagai tradisi, menulis buku, atau dikenal sebagai orang yang sangat memahami Buddhisme.
Semua itu bisa menjadi keinginan untuk menjadi seseorang. Keinginan itu sendiri dapat membawa banyak tekanan dan penderitaan. Maka, ketika kita melihat pikiran sedang berusaha memahami, merencanakan, atau mencapai sesuatu, kita dapat berkata, “Melepas, melepas.” Bukan karena belajar itu buruk, melainkan karena kita sedang melihat dorongan untuk terus menambah dan mencapai.
Saya pernah menghabiskan kira-kira dua tahun dengan cara ini. Setiap kali mencoba memahami atau menguraikan sesuatu, saya berkata, “Melepas, melepas,” sampai keinginan itu mereda. Saya menyederhanakan latihan seperti ini agar kita tidak terseret ke dalam begitu banyak penderitaan.
Mungkin ada keinginan untuk menjadi Buddha pada zaman ini, Maitreya, yang memancarkan cinta ke seluruh dunia. Tetapi untuk saat ini, jadilah saja seperti seekor cacing tanah—tidak perlu menjadi tokoh besar. Cukup kenal dua kata: “Melepas, melepas.” Kita tidak perlu menjadi luar biasa. Kita hanya perlu belajar melihat apa yang sedang terjadi di dalam pikiran dan tidak selalu menuruti setiap dorongan.
Teguh dalam latihan, tanpa memaksa
Hal penting dalam meditasi adalah ketekunan dan keteguhan. Kita berlatih dengan tekad untuk memahami pembebasan. Ini bukan tentang menjadi sombong atau menganggap diri lebih baik. Kita hanya bertekad untuk tetap berlatih, bahkan ketika keadaan sulit.
Ingatlah Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Tetaplah bersama latihan. Lepaskan keputusasaan, kecemasan, rasa sakit, keraguan, serta segala sesuatu yang muncul dan berlalu—hal-hal yang biasanya kita genggam dan kita jadikan bagian dari diri kita.
Biarkan “melepas” menjadi pengingat yang terus muncul dalam pikiran, di mana pun kita berada. Pada mulanya, kita bahkan mungkin menjadi terobsesi dengan kata-kata itu. Tidak apa-apa untuk menyadari hal tersebut juga. Pikiran kita memang terbiasa terobsesi: memikirkan ini dan itu, khawatir, ragu, marah, menyimpan dendam, cemburu, takut, atau merasa tumpul dan bingung.
Kita terbiasa terpaku pada hal-hal yang menyakitkan dan membawa kesulitan dalam hidup. Masyarakat juga mengajari kita untuk memenuhi pikiran dengan gagasan, prasangka, penyesalan, bayangan tentang masa depan, dan harapan. Kita mengumpulkan banyak informasi dari buku, televisi, film, surat kabar, dan berbagai media.
Sebagian informasi bisa berguna. Tetapi kita perlu memperhatikan apa yang masuk ke dalam pikiran. Banyak hal yang ditampilkan media menarik sisi-sisi kasar dalam diri manusia—kekerasan, perang, korupsi, perilaku buruk, dan gosip. Semua itu memberi pengaruh pada pikiran. Jika pikiran sudah penuh dengan fakta, simbol, dan gagasan, lalu kita terus menambah muatannya, pikiran dapat menjadi sesak. Kita kemudian mencari pelarian untuk meredakan tekanan, lalu kembali mengisi pikiran. Itu menjadi lingkaran yang tidak berakhir.
Ketika kita tidak memahami sifat segala sesuatu, kita mudah dipengaruhi. Kita mungkin mengira harus mengikuti cara tertentu agar dianggap menarik, berhasil, atau benar. Kita dapat mulai meragukan nilai-nilai kita sendiri hanya karena gagasan yang sama terus diulang di sekitar kita. Kita pun merasa harus mengetahui banyak hal, memahami semuanya, dan meyakinkan orang lain tentang apa yang kita anggap benar.
Hal ini dapat terjadi bahkan dalam praktik Dhamma. Kita mendengar ceramah, membaca buku, lalu ingin segera memberi tahu orang lain tentang Buddhisme. Setelah retret, kita mungkin sangat bersemangat dan merasa semua orang perlu memahami apa yang baru kita pelajari. Namun, perhatikan juga dorongan untuk memengaruhi orang lain. Dalam meditasi, kita belajar melepas dorongan itu. Ketika waktunya tepat, tindakan yang bermanfaat dapat muncul dengan wajar, tanpa paksaan atau sikap agresif.
Jika seseorang berkata, “Bacalah buku ini, ikutilah kursus itu, pelajari Pali, pelajari Abhidhamma, sejarah Buddhisme, atau logika Buddhis,” kita dapat mendengarnya tanpa harus mengikuti setiap dorongan. Katakan dalam hati, “Melepas, melepas.” Jika kita memenuhi pikiran dengan konsep dan pendapat hanya sebagai tujuan pada dirinya sendiri, kita mungkin tidak sedang mempelajari hal yang paling penting. Gagasan yang tidak dapat diterapkan dalam latihan hanya menambah bahan untuk dipikirkan dan dapat mengurangi keyakinan kita pada praktik.
Kita perlu belajar mengosongkan pikiran dari kekacauan. Mengosongkan pikiran bukan berarti menjadi bodoh atau menolak kebijaksanaan. Kita belajar melihat apa yang tidak perlu digenggam, sehingga pikiran dapat menerima hal-hal yang benar-benar bermanfaat. Mengosongkan pikiran dari kekacauan membutuhkan kebijaksanaan.
Membersihkan pikiran dengan lembut
Dalam retret ini, saya memberi saran tentang cara-cara terampil. Mengulang kata “melepas” dapat menjadi salah satu cara yang terampil. Ketika sebuah pikiran muncul dan kita mengulang, “Melepas, melepas,” kita menyadari bahwa pikiran itu sedang muncul. Kita belajar melepaskan apa pun yang muncul.
Tetapi jangan memaksa pikiran itu pergi. Jika pikiran belum lenyap, jangan melawannya. Praktik melepas bukanlah perang melawan pikiran. Gunakanlah dengan lembut, tetapi dengan keteguhan.
Meditasi adalah latihan melepas yang terampil. Kita sengaja mengosongkan pikiran dari keterikatan dan kenegatifan agar dapat melihat kejernihannya. Kita membersihkan pikiran supaya dapat memahami apa yang patut kita kembangkan. Hormatilah pikiranmu. Perhatikan apa yang kamu masukkan ke dalamnya, sebagaimana kita menjaga rumah agar tetap bersih dan nyaman.
Jika memiliki rumah yang indah, kita tidak akan sengaja membawa semua kotoran dari jalan lalu menaruhnya di dalam. Kita memilih hal-hal yang membuat rumah menjadi segar dan menyenangkan. Dengan cara yang sama, kita perlu berhati-hati terhadap apa yang terus kita masukkan ke dalam pikiran.
Melihat pengalaman sebagai sesuatu yang berubah
Jika kita hendak mengidentifikasi diri dengan sesuatu, jangan terburu-buru mengidentifikasi diri dengan keadaan yang berubah-ubah. Selidikilah apa arti mengidentifikasi diri. Perhatikan pikiran dan ingatan, kesadaran indria, serta perasaan. Lihatlah dengan jelas bahwa semuanya adalah keadaan yang tidak kekal.
Arahkan kesadaran pada hal-hal yang bergerak lebih lambat, termasuk perubahan sensasi tubuh. Selidiki rasa sakit. Lihatlah bahwa rasa sakit adalah energi yang bergerak, suatu keadaan yang berubah. Ketika kita sedang kesakitan, secara emosional rasa itu mungkin tampak seolah-olah akan berlangsung selamanya. Namun, perasaan “ini akan berlangsung selamanya” hanyalah kesan yang dibentuk oleh emosi.
Lepaskan juga wawasan yang telah kita peroleh. Bahkan ketika kita merasa telah memahami semuanya dengan jelas, lepaskan pemahaman itu. Kemudian tanyakan, “Siapa yang melepas? Siapa aku? Siapa yang sedang melepas?” Cobalah mencari tahu siapa atau apa yang sedang melepas.
Jangan buru-buru menjawab pertanyaan itu. Biarkan keadaan tidak tahu muncul. Biarkan ketidakpastian itu hadir. Ketika kita tidak segera mengisinya dengan jawaban, pikiran dapat menjadi hening, kosong, dan tidak mengetahui. Kita membiarkan keadaan itu sebagaimana adanya.
Hidup sederhana dan bermoral
Saya terus menekankan pemahaman benar, sikap benar, dan niat yang benar untuk menyederhanakan hidup. Kita tidak perlu melibatkan diri dalam kegiatan rumit dan tidak bermanfaat. Kita tidak perlu hidup tanpa perhatian, memanfaatkan orang lain, atau kehilangan rasa hormat kepada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Jadikan sila sebagai pedoman. Kembangkan nekkhamma—kesediaan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat atau tidak perlu. Kemudian, secara batin, lepaskan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Ini bukan berarti kita membenci atau menolak keadaan-keadaan itu. Kita hanya belajar melepaskannya ketika menyadari bahwa kita sedang melekat padanya.
Saat menderita, tanyakan, “Mengapa aku menderita? Mengapa aku merasa sengsara?” Lihatlah dengan jujur: mungkin ada sesuatu yang sedang kita genggam.
Mungkin kita berpikir, “Aku tidak bahagia karena tidak ada yang mencintaiku.” Mungkin memang tidak ada orang yang mencintai kita seperti yang kita harapkan. Namun, penderitaan juga muncul dari keinginan agar orang lain mencintai kita. Bahkan ketika orang-orang mencintai kita, kita tetap dapat menderita jika menganggap mereka bertanggung jawab atas kebahagiaan atau penderitaan kita.
Seseorang berkata, “Kamu orang terbaik di dunia,” lalu kita melompat kegirangan. Orang lain berkata, “Kamu orang paling buruk yang pernah kutemui,” lalu kita merasa hancur. Lihatlah bagaimana pikiran bergantung pada pujian dan celaan. Belajarlah melepas kesedihan, dan belajarlah melepas kebahagiaan yang kita genggam.
Latihan ini tidak harus rumit. Jalani hidup dengan penuh kesadaran dan moralitas, serta miliki keyakinan dalam melepas.
Selama kita tidak memahami, kita merasa seperti korban yang tidak berdaya terhadap nasib. Ketidaktahuan membuat kita terjebak dalam lingkaran kelahiran dan kematian. Buddha mengajarkan jalan untuk memutus lingkaran itu: melalui kesadaran, dengan melihat siklus tersebut tanpa melekat padanya.
Kita belajar melepas siklus itu, melepas kelahiran dan kematian, melepas keinginan untuk terus menjadi. Melepas keinginan adalah mengembangkan Kebenaran Mulia Ketiga, dan pengembangan itu menuntun kita pada Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Artikel Dhamma Talk oleh Ajahn Sumedho dari buku Peace Is A Simple Step
Diterjemahkan dan diringkas dengan Chat GPT


