Ada ungkapan yang tidak berusaha tampak bijaksana. Ia hanya terdiri dari tiga bagian yang sangat biasa: 今, を, dan 生きる. Namun ketika diletakkan berdampingan, ketiganya seperti sebuah pintu kecil yang membuka ruang luas:
> **今を生きる — *ima o ikiru***
> **Menjalani saat ini. Hidup di dalam kini.**
Terjemahan bahasa Inggris pada gambar itu berbunyi Live in the present. Terjemahan tersebut tepat, tetapi bahasa Jepang aslinya terasa lebih lembut. Ia tidak harus terdengar sebagai perintah. Bentuknya lebih menyerupai arah hidup—sebuah ajakan tanpa suara untuk tidak absen dari kehidupan yang sedang berlangsung.
Apa arti ima o ikiru?
今 (ima) berarti “sekarang” atau “saat ini”. を (o) adalah partikel yang menandai sesuatu yang dijalani oleh kata kerja. 生きる (ikiru) berarti “hidup”, “menjalani hidup”, atau “berada sebagai makhluk yang hidup”.
Secara harfiah, ungkapan ini dapat dibaca sebagai “menghidupi sekarang”. Dalam bahasa Indonesia yang lebih alami, maknanya mendekati menjalani saat kini sepenuhnya.
Pilihan kata itu menarik. Kita biasanya membayangkan waktu sebagai jalan, lalu diri ini bergerak di atasnya: masa lalu tertinggal di belakang, masa depan menunggu di depan. Namun ima o ikiru seolah berkata bahwa “kini” bukan sekadar titik yang dilewati. Kini adalah tempat kehidupan mengambil bentuk. Tidak ada napas yang dapat dihirup kemarin, tidak ada tangan yang dapat menggenggam esok hari. Apa pun yang sungguh-sungguh dijalani, selalu terjadi di sini.
Bukan sekadar “nikmati hari ini”
Sekilas, ima o ikiru dapat terdengar seperti carpe diem: raihlah hari ini sebelum kesempatan berlalu. Akan tetapi, rasa Zen di dalamnya berbeda dari dorongan untuk mencari sebanyak mungkin pengalaman menyenangkan.
Menjalani kini bukan berarti membuat setiap hari luar biasa. Ia juga bukan alasan untuk mengabaikan akibat, tanggung jawab, atau rencana masa depan. Kehadiran tidak selalu tampak seperti minum teh di taman yang sunyi. Kadang-kadang ia berbentuk menunggu hasil pemeriksaan, menemani anak yang sedang demam, meminta maaf atas kata-kata yang melukai, atau menyelesaikan pekerjaan yang tidak menarik tetapi perlu dilakukan.
Zen tidak meminta kenyataan menjadi indah sebelum kita bersedia hadir. Ia mengundang kita menemui kenyataan sebagaimana adanya.
Di sinilah ungkapan sederhana ini bergaung dengan kepekaan Jepang terhadap 無常 (mujō), ketidak-kekalan. Bunga sakura terasa berharga bukan karena ia bertahan, melainkan karena kelopaknya akan jatuh. Semangkuk teh menjadi utuh bukan karena dapat diulang persis sama, melainkan karena pertemuan antara tangan, air, cangkir, dan tamu hanya terjadi sekali dalam bentuk itu.
Namun sebaiknya ungkapan ini tidak dijadikan romantisasi tentang bangsa Jepang, seolah setiap orang di sana selalu hidup tenang dan sadar penuh. Jepang modern pun mengenal ketergesaan, tekanan kerja, dan pikiran yang tercerai-berai. Ima o ikiru justru bermakna karena manusia mudah meninggalkan saat ini—di Jepang maupun di mana saja.
Dōgen dan waktu yang bukan sekadar jam
Kedalaman Zen yang paling dekat dengan ungkapan ini dapat ditemukan pada Eihei Dōgen, guru Zen Jepang abad ke-13 dan pendiri tradisi Sōtō di Jepang. Dalam salah satu bagian Shōbōgenzō yang ditulis pada 1240, ia membahas 有時 (uji), sebuah ungkapan yang ia baca secara kreatif sebagai “ada-waktu” atau being-time.
Dōgen menulis, dalam terjemahan ringkas:
> “Waktu itu sendiri adalah keberadaan; semua keberadaan adalah waktu.”
Ini lebih radikal daripada nasihat untuk berkonsentrasi pada hari ini. Bagi Dōgen, waktu bukan wadah kosong tempat makhluk muncul lalu menghilang. Gunung adalah waktu. Pohon adalah waktu. Tubuh yang menua, suara kendaraan di kejauhan, semangkuk nasi yang mulai dingin—semuanya adalah waktu yang sedang mengambil bentuk.
Karena itu, diri ini tidak sekadar “memiliki” waktu. Diri ini adalah waktu yang sedang hadir sebagai seorang manusia: duduk, berjalan, bekerja, mencintai, kehilangan, dan berubah.
Situs resmi Sōtō Zen menjelaskan bahwa diri dan segala sesuatu yang ada “di sini dan sekarang” tidak terpisah dari waktu. Praktik bukanlah jembatan menuju suatu keadaan suci di kemudian hari; tindakan yang dilakukan sepenuh hati pada saat ini adalah tempat Jalan terwujud.
Pandangan ini mengubah cara memahami kehadiran. Saat kini bukan potongan tipis yang harus dipisahkan dari masa lalu dan masa depan. Di dalam satu momen terdapat jejak yang tak terhitung banyaknya: makanan yang berasal dari tanah dan hujan, tubuh yang dibentuk oleh orang tua, bahasa yang diwariskan banyak generasi, serta pilihan-pilihan lama yang membawa kehidupan sampai ke sini. Masa depan pun sedang disentuh melalui apa yang dilakukan sekarang.
Hidup pada saat ini, dengan demikian, bukan hidup tanpa sejarah dan tanpa arah. Ia berarti tidak menyerahkan kehidupan kepada bayang-bayang sejarah ataupun khayalan tentang arah.
Shunryū Suzuki: kebebasan dari momen ke momen
Berabad-abad kemudian, Shunryū Suzuki—guru Sōtō Zen dari Jepang yang mendirikan San Francisco Zen Center—menyampaikan gagasan yang serupa dengan bahasa yang sangat langsung:
> “Rahasia seluruh ajaran Buddha adalah bagaimana hidup dalam setiap momen.”
Suzuki tidak bermaksud bahwa satu momen berdiri sendirian. Dalam ceramah yang sama, ia mengatakan bahwa setiap momen saling bergantung dengan masa lalu, masa depan, dan keberadaan lain. Kebebasan bukanlah memutus semua hubungan itu. Kebebasan hadir ketika kita tidak lagi terseret olehnya tanpa sadar.
Ia juga mengingatkan bahwa praktik selalu berpusat pada momen ini. Bila praktik pada momen ini baik, momen berikutnya menerima tanah yang baik pula. Masa depan tidak perlu ditarik paksa mendekat; ia sedang dibentuk oleh mutu kehadiran sekarang.
Dalam bahasa sehari-hari: ketika makan, makanlah. Ketika mendengarkan, jangan diam-diam menyusun jawaban. Ketika bekerja, biarkan satu tindakan selesai sebelum pikiran berlari menuju lima pekerjaan berikutnya. Kesungguhan tidak membutuhkan panggung besar. Ia tampak dalam cara sebuah pintu ditutup, pesan dibalas, obat diberikan, piring dicuci, dan seseorang dipandang ketika sedang berbicara.
Bagaimana ima o ikiru hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Hidup di masa kini tidak menuntut jadwal baru yang rumit. Ia lebih sering meminta kita kembali kepada apa yang sebenarnya sudah ada.
Pada pagi hari, tangan mungkin lebih dahulu mencari telepon sebelum tubuh benar-benar sadar telah bangun. Ima o ikiru dapat dimulai dengan satu jeda: merasakan telapak kaki menyentuh lantai, membuka tirai, melihat warna langit tanpa buru-buru memberinya nama. Hanya beberapa detik, tetapi kehidupan tidak lagi sepenuhnya dicuri oleh kebiasaan.
Dalam percakapan, hadir berarti membiarkan kalimat orang lain selesai. Tidak segera mengubah cerita mereka menjadi cerita tentang diri sendiri. Tidak menambal setiap kesedihan dengan nasihat. Kadang-kadang perhatian yang tidak tergesa-gesa adalah bentuk kasih yang paling jujur.
Di tengah pekerjaan yang padat, hidup pada saat ini bukan berarti bekerja lamban. Justru pikiran menjadi lebih utuh ketika tidak terus-menerus berpindah sebelum tubuh sempat menyelesaikan satu hal. Satu pasien yang sedang duduk di hadapan kita bukan nomor dalam antrean; pada momen itu, ia adalah seluruh perjumpaan yang perlu ditanggapi. Setelah pintu tertutup, barulah perjumpaan berikutnya dimulai.
Ketika marah atau cemas muncul, hadir bukan berarti menyukai perasaan itu. Cukup mengenali: dada sedang sesak, rahang mengeras, pikiran sedang menulis skenario buruk. Dengan melihatnya sebagai kejadian yang berlangsung sekarang, kita memperoleh sedikit ruang untuk tidak langsung bertindak dari dalam badai.
Bahkan merencanakan masa depan dapat menjadi praktik masa kini. Duduklah, hitunglah, buatlah janji, siapkanlah yang perlu disiapkan. Sesudah itu, kembalilah. Rencana yang sehat selesai sebagai sebuah tindakan; kecemasan mengulangnya tanpa akhir sambil menyamar sebagai persiapan.
Kini tidak selalu terasa damai
Ada kekeliruan halus dalam pembicaraan tentang “hidup di saat ini”: seolah-olah orang yang sungguh hadir akan selalu tenang. Padahal saat kini dapat berisi rasa takut, duka, bosan, atau sakit. Kehadiran bukan jenis perasaan tertentu. Ia adalah kesediaan untuk tidak berpaling dari apa yang benar-benar ada.
Jika kenangan lama muncul, kenangan itu sedang muncul sekarang. Jika kekhawatiran tentang esok datang, kekhawatiran itu sedang terasa sekarang. Keduanya tidak perlu diusir agar kita disebut hidup pada masa kini. Yang diperlukan adalah mengenalinya tanpa membiarkan seluruh kesadaran menjadi rumah permanen bagi mereka.
Kadang-kadang tindakan paling hadir adalah menangis. Kadang-kadang mencari pertolongan. Kadang-kadang mengatakan “cukup”, meninggalkan keadaan yang merusak, atau menyusun rencana panjang dengan sangat teliti. Zen bukan kepasrahan pasif. Kehadiran yang jernih justru memungkinkan tindakan yang tepat, karena kita melihat kenyataan tanpa terlalu banyak kabut dari keinginan dan ketakutan.
Kehidupan tidak menunggu kita tiba
Manusia sering hidup seolah kehidupan yang sesungguhnya akan dimulai setelah sesuatu selesai: setelah pekerjaan mereda, setelah tubuh lebih sehat, setelah anak-anak besar, setelah tabungan cukup, setelah hati tidak lagi gelisah. Tanpa terasa, masa penantian itu sendiri menjadi kehidupan.
Ima o ikiru tidak melarang harapan. Ia hanya membisikkan agar harapan tidak memakan hari yang sedang tersedia.
Saat ini mungkin belum sempurna, tetapi ia lengkap sebagai kenyataan. Di sinilah satu-satunya tempat untuk bernapas, memperbaiki kesalahan, menyentuh orang yang dikasihi, dan menanam sebab bagi hari esok. Kita tidak perlu menggenggam kini terlalu erat—sebab saat digenggam, ia sudah berubah. Cukup tidak meninggalkannya.
Mungkin itulah rasa terdalam dari 今を生きる: bukan menahan waktu agar berhenti, melainkan ikut mengalir tanpa kehilangan kehadiran. Mengetahui bahwa bunga akan gugur, lalu tetap melihatnya. Mengetahui percakapan akan berakhir, lalu sungguh-sungguh mendengarkan. Mengetahui hidup tidak dapat disimpan, lalu menjalaninya.
(CG)


