Kita hidup di dalam dunia yang berkondisi. Tubuh ini berkondisi. Perasaan berkondisi. Hubungan berkondisi. Cuaca hati, suasana pikiran, kesehatan, usia, pekerjaan, bahkan orang-orang yang kita cintai — semuanya terus berubah mengikuti sebab dan kondisi.
Kadang hidup terasa indah dan ringan. Kadang terasa begitu melelahkan dan menyesakkan. Ada hari ketika hati terasa penuh semangat, dan ada hari ketika bahkan bangun dari tempat tidur terasa berat. Memang beginilah sifat dari kehidupan yang berkondisi: tidak stabil, terus bergerak, terus berubah.
Namun penderitaan sering kali bukan semata karena perubahan itu sendiri, melainkan karena batin ingin mencari sesuatu yang tetap di dalam dunia yang memang tidak pernah bisa tetap.
Kita ingin tubuh tetap kuat. Hubungan tetap hangat. Perasaan tetap nyaman. Kehidupan tetap sesuai harapan. Tetapi semakin dalam kita mengamati, semakin kita menyadari bahwa tidak ada satu pun kondisi yang bisa benar-benar dipertahankan.
Dan justru di titik inilah, kebijaksanaan mulai tumbuh.
Bukan dengan melawan kehidupan. Bukan dengan menjadi dingin atau tidak peduli. Tetapi dengan perlahan belajar melihat bahwa ada sesuatu di dalam kesadaran ini yang tidak perlu ikut tenggelam bersama setiap perubahan.
Langit tetap luas, walaupun cuaca berubah.
Kesadaran dapat mengetahui kesedihan tanpa harus menjadi “orang yang hancur”. Kesadaran dapat mengetahui rasa takut tanpa harus sepenuhnya tenggelam di dalam ketakutan itu. Bahkan rasa kehilangan pun dapat dikenali sebagai pengalaman yang muncul dan berlalu di dalam batin.
Ini bukan penolakan terhadap emosi. Bukan mematikan rasa. Justru sebaliknya — kita mulai berani merasakan hidup dengan lebih penuh, karena kita tidak lagi terlalu takut pada perubahan.
Ketika hati tidak lagi terus-menerus menggenggam, hidup mulai terasa lebih ringan.
Kita masih mencintai, tetapi tidak sekeras dulu menggenggam. Kita masih bekerja, tetapi tidak sepenuhnya menjadikan keberhasilan sebagai identitas diri. Kita masih merasakan bahagia dan sedih, tetapi perlahan memahami bahwa semua itu hanyalah tamu yang datang dan pergi.
Ada kedamaian yang tidak bergantung pada apakah hari ini berjalan sesuai keinginan atau tidak.
Dan mungkin inilah yang dimaksud hidup melalui yang tak berkondisi di tengah dunia yang berkondisi.
Bukan melarikan diri dari kehidupan.
Bukan meninggalkan dunia.
Tetapi belajar tinggal di tengah perubahan dengan hati yang semakin bebas.
Karena dunia akan terus berubah. Tubuh akan menua. Orang-orang akan datang dan pergi. Pujian dan kritik akan tetap ada. Kadang hidup terasa indah, kadang terasa menyayat hati.
Namun di tengah semua itu, perlahan kita mulai menemukan keheningan yang tidak ikut lahir dan mati bersama setiap kondisi.
Dan dari sana, muncul kelembutan.
Kelembutan terhadap diri sendiri.
Kelembutan terhadap orang lain.
Kelembutan terhadap kehidupan apa adanya.
Biarlah dunia berubah sebagaimana adanya.
Biarlah hati belajar tidak menggenggam semuanya.
Di tengah yang lahir dan lenyap,
semoga kebijaksanaan tetap tinggal dalam keheningan.
(CG)


