Di Tengah Arus, Tetap Sadar Memilih

Ada kalanya kita sebenarnya sudah tahu apa yang terasa benar bagi kita, tetapi suara di sekitar begitu ramai sehingga kita mulai meragukan pilihan sendiri. Semua orang melakukannya. Semua orang menganggapnya biasa. Semua orang berkata tidak apa-apa. Lalu perlahan, kita tergoda untuk ikut saja, bukan karena benar-benar ingin, tetapi karena takut dianggap berbeda.

Tekanan seperti ini tidak selalu datang dalam bentuk paksaan. Kadang justru hadir sangat halus. Sebuah candaan, ajakan, komentar, atau rasa tidak nyaman ketika kita menjadi satu-satunya orang yang memilih berbeda. Kita ingin diterima. Kita tidak ingin membuat suasana menjadi canggung. Kita ingin tetap menjadi bagian dari kelompok.

Di titik seperti inilah salah satu perenungan yang diajarkan Sang Buddha terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

Kammassakomhi, kammadāyādo, kammayoni, kammabandhu, kammapaṭisaraṇo. Yaṃ kammaṃ karissāmi, kalyāṇaṃ vā pāpakaṃ vā, tassa dāyādo bhavissāmi.

Aku adalah pemilik kamma-ku, pewaris kamma-ku, lahir dari kamma-ku, berhubungan dengan kamma-ku, dan kamma adalah tempatku bersandar. Apa pun kamma yang kulakukan, baik ataupun buruk, akulah yang akan menjadi pewarisnya.

Perenungan ini bukan tentang menjadi keras kepala atau selalu berbeda dari orang lain. Bukan pula tentang merasa diri lebih benar. Justru sebaliknya. Ia mengingatkan kita untuk tidak menyerahkan tanggung jawab atas pilihan kita kepada suara di luar diri.

Ketika sebuah keputusan dibuat hanya karena “semua orang juga begitu”, akibatnya tetap tidak berpindah kepada “semua orang”. Setiap orang tetap mewarisi tindakannya sendiri.

Teman mungkin mengajak bergosip. Lingkungan kerja mungkin menganggap sedikit ketidakjujuran sebagai hal biasa. Dalam suatu kelompok, mungkin ada kebiasaan tertentu yang sebenarnya membuat batin kita tidak nyaman. Kita boleh mendengarkan, mempertimbangkan, bahkan memahami mengapa orang lain memilih demikian. Tetapi pada akhirnya, pilihan yang kita lakukan tetap menjadi bagian dari kamma kita sendiri.

Di sinilah keberanian untuk berbeda menemukan tempatnya.

Berbeda tidak selalu berarti melawan. Kita tidak perlu membuktikan bahwa orang lain salah. Kita tidak perlu membuat pernyataan besar atau menunjukkan bahwa pilihan kita lebih luhur. Kadang cukup dengan tidak ikut.

Tidak ikut membicarakan seseorang ketika percakapan mulai berubah menjadi gosip. Tidak ikut melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sila hanya karena takut dianggap aneh. Tidak ikut menyebarkan kemarahan hanya karena semua orang sedang marah.

Ada kekuatan yang tenang dalam kemampuan untuk berkata, “Ini mungkin pilihan mereka, tetapi bukan pilihan yang ingin saya tanam dalam hidup saya.”

Karena pada akhirnya, kamma bukan sekadar persoalan tentang sesuatu yang akan terjadi jauh di masa depan. Kamma sedang membentuk kita sekarang. Setiap kali kita mengikuti suatu niat, kita sedang memperkuat kecenderungan tertentu dalam batin. Kejujuran yang terus dipilih membuat kejujuran semakin alami. Kebencian yang terus diberi ruang membuat kebencian semakin mudah muncul. Demikian pula kemurahan hati, kelembutan, kesabaran, atau keserakahan.

Sedikit demi sedikit, pilihan menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi kecenderungan. Dan kecenderungan membentuk cara kita menjalani kehidupan.

Karena itu, perenungan tentang kamma sebenarnya memberikan kebebasan yang besar. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang lain. Kita juga tidak dapat selalu memilih lingkungan tempat kita berada. Namun di tengah semua pengaruh itu, masih ada satu ruang kecil yang tetap menjadi tanggung jawab kita: bagaimana kita merespons.

Di ruang itulah kebebasan berada.

Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk tidak harus mengikuti setiap arus yang datang.

Kadang kita berjalan bersama orang banyak. Kadang pilihan kita sama dengan mereka. Tidak ada masalah dengan itu. Tetapi ketika arus mulai membawa kita ke arah yang tidak selaras dengan nilai yang ingin kita jaga, kita boleh berhenti. Kita boleh melihat kembali. Kita boleh memilih arah yang berbeda tanpa harus membenci mereka yang berjalan ke arah lain.

Mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan dalam praktik Dhamma: mampu hidup di tengah dunia tanpa harus menolak dunia, tetapi juga tanpa menyerahkan batin sepenuhnya kepada dunia.

Ketika tekanan datang, kita dapat kembali mengingat dengan sederhana:

Kammassakomhi — aku adalah pemilik kamma-ku.

Bukan untuk menakut-nakuti diri dengan akibat, tetapi untuk mengingat bahwa hidup ini benar-benar sedang kita bentuk melalui pilihan-pilihan kecil.

Kita tidak harus selalu mengikuti arus.

Kita juga tidak harus selalu melawannya.

Cukup melihat dengan jernih, lalu memilih dengan sadar.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.