Suatu siang di Sāvatthī, Anāthapiṇḍika berjalan hendak menemui Buddha. Namun ia tahu, saat itu bukan waktu yang tepat. Buddha sedang menyepi, demikian pula para bhikkhu. Ia tidak memaksakan keinginannya untuk berjumpa. Sebagai gantinya, ia membelokkan langkah menuju taman para pengembara dari kelompok lain.
Di sana suasananya jauh berbeda. Mereka sedang bercakap ramai tentang berbagai hal. Begitu melihat Anāthapiṇḍika datang, mereka saling meminta untuk diam. Mereka mengenalnya sebagai siswa Petapa Gotama, seorang umat awam yang menyukai keheningan. Setelah bertukar salam, mereka segera mengajukan pertanyaan yang hingga sekarang masih sering kita lemparkan kepada orang lain: “Apakah pandanganmu?”
Mula-mula mereka bertanya tentang pandangan Buddha, lalu pandangan para bhikkhu. Anāthapiṇḍika menjawab dengan rendah hati bahwa ia tidak mengetahui semuanya. Jawaban ini patut diperhatikan. Ia adalah penyokong besar Saṅgha dan telah lama dekat dengan Buddha, tetapi tidak merasa harus berbicara seolah-olah menguasai seluruh ajaran. Ketika akhirnya diminta menjelaskan pandangannya sendiri, ia justru mempersilakan para pengembara berbicara lebih dahulu.
Satu demi satu mereka menyatakan pendirian: dunia kekal atau tidak kekal, terbatas atau tidak terbatas, jiwa sama dengan badan atau berbeda darinya, serta berbagai kemungkinan tentang keberadaan Tathāgata setelah kematian. Masing-masing menutup pernyataannya dengan nada yang akrab bagi kita: hanya inilah yang benar; yang lain salah.
Anāthapiṇḍika tidak terjebak membantah isi kesepuluh pandangan itu satu per satu. Ia melihat lebih dalam, ke tempat sebuah pandangan dilahirkan. Pandangan muncul karena perhatian yang tidak bijaksana atau karena perkataan orang lain. Ia dibentuk oleh sebab dan kondisi, dikehendaki, disusun, lalu bergantung pada berbagai sebab yang mendahuluinya. Karena terkondisi, ia tidak kekal. Dan apa yang tidak kekal tidak dapat dijadikan tempat berlindung tanpa membawa dukkha. Ketika seseorang menggenggam pandangannya, kata Anāthapiṇḍika, sesungguhnya ia sedang menggenggam dukkha itu sendiri.
Inilah ketajaman Kiṁdiṭṭhika Sutta. Masalahnya bukan semata-mata apakah suatu pendapat benar atau salah. Masalah yang lebih dekat adalah apa yang dilakukan batin terhadap pendapat tersebut. Sebuah gagasan dapat berubah menjadi identitas: “Ini pandanganku; karena itu, inilah aku.” Sejak saat itu, bantahan terhadap gagasan terasa seperti serangan terhadap diri. Tubuh menegang, suara meninggi, dan kemampuan mendengar menghilang. Kita tidak lagi sedang mencari kebenaran; kita sedang menjaga sebuah benteng bernama “aku.”
Ketika para pengembara balik bertanya, Anāthapiṇḍika menjawab: apa pun yang muncul karena kondisi adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal adalah dukkha; dan apa yang merupakan dukkha bukan milikku, bukan aku, bukan diriku. Mereka segera menemukan celah: bukankah ia juga sedang melekat pada suatu pandangan?
Jawabannya memperlihatkan perbedaan antara pandangan yang digenggam dan pandangan yang menuntun pada pelepasan. Anāthapiṇḍika tidak berhenti pada rumusan. Setelah melihat dengan kebijaksanaan bahwa segala yang terkondisi bukan milikku, bukan aku, bukan diriku, ia juga mengenali jalan keluar darinya. Pandangan benar bukanlah rumah baru bagi identitas. Ia lebih menyerupai jendela yang dibuka agar kita melihat rumah yang selama ini mengurung kita. Kita memerlukannya untuk melihat arah, tetapi tidak perlu memahat nama kita pada bingkainya.
Karena itu, sutta ini tidak mengajarkan bahwa semua pandangan sama saja, atau bahwa seorang praktisi harus menjadi acuh dan tidak mempunyai pendirian. Buddha sendiri memuji jawaban Anāthapiṇḍika. Yang diajarkan adalah hubungan yang bijaksana dengan pandangan: menggunakannya untuk memahami dukkha dan pembebasan dari dukkha, bukan untuk memperbesar rasa diri.
Latihan ini terasa sangat dekat pada zaman ketika setiap layar meminta kita segera berpihak. Kita membaca satu unggahan, mendengar satu tokoh, mengikuti satu kelompok, lalu tanpa disadari menyerap cara pandangnya. Tidak lama kemudian kita berkata, “Memang begitulah kenyataannya.” Padahal mungkin yang sedang berbicara adalah ketakutan, luka lama, kebutuhan untuk diterima, atau gema dari kalimat yang terlalu sering kita dengar.
Sebelum membela suatu pandangan, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya: dari kondisi apa pikiran ini muncul? Apakah saya telah melihatnya dengan jernih, atau hanya mengulang suara orang lain? Apa yang terjadi di tubuh ketika pendapat ini dipersoalkan? Apakah pandangan ini mengurangi keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin—atau justru memberinya makanan?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tanda kelemahan. Di sanalah keberanian Dhamma bekerja: keberanian untuk membiarkan kebenaran mengoreksi kita, dan membiarkan apa yang dahulu kita yakini berubah ketika sebab dan pemahaman berubah. Barangkali kebijaksanaan bukan terutama kemampuan memenangkan perdebatan. Barangkali ia tampak dalam batin yang mampu melihat dengan terang, bertindak dengan teguh, namun tidak perlu menggenggam apa pun sebagai “aku.”
Sumber utama: Aṅguttara Nikāya 10.93, Kiṁdiṭṭhika Sutta—terjemahan Bhikkhu Sujato dan versi bahasa Indonesia DhammaCitta berdasarkan terjemahan Bhikkhu Bodhi.
(CG)


