Sweeping the Floor, Sweeping the Mind

Jika kita bahkan tidak mampu menyapu tanah di bawah kaki dengan sepenuh hati, bagaimana kita hendak menyapu kekusutan di dalam batin?

Dalam Zen, praktik tidak selesai ketika lonceng meditasi berbunyi. Barangkali justru setelah kita bangkit dari bantal meditasi, praktik yang sesungguhnya mulai diuji. Sebuah sapu berada di tangan, sayuran menunggu dipotong, mangkuk perlu dicuci, lantai perlu dibersihkan, dan pekerjaan yang sama seperti kemarin kembali meminta perhatian kita. Di sinilah samu hadir: praktik melalui pekerjaan sehari-hari.

Di biara Zen, samu dapat berupa menyapu halaman, mencuci mangkuk, membersihkan toilet, memotong sayuran, membawa kayu bakar, merawat kebun, mengepel lantai, atau memperbaiki sesuatu yang rusak. Tidak ada yang istimewa di dalamnya. Tidak ada pekerjaan yang perlu diberi hiasan spiritual agar menjadi bermakna. Yang ada hanyalah sesuatu yang perlu dilakukan, lalu kita melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, bekerja bukanlah jeda dari praktik. Bekerja adalah praktik. Setelah zazen selesai, seorang praktisi tidak meninggalkan meditasi untuk kembali kepada kehidupan biasa. Ia hanya berpindah dari satu bentuk latihan ke bentuk lainnya. Dari duduk diam menuju dapur, dari keheningan menuju suara pisau di atas talenan, dari mengamati batin menuju menggosok sebuah mangkuk sampai bersih.

Kita sering membayangkan kehidupan Zen sebagai keheningan, dupa, lonceng, aula kayu tua, dan seorang guru bijaksana yang mengucapkan kalimat mendalam di bawah pohon pinus. Padahal kehidupan di sebuah biara juga dipenuhi suara ember, air mengalir, beras yang dicuci, sapu yang bergesekan dengan lantai, panci yang harus digosok, dan seseorang yang membersihkan toilet. Ada yang membawa kompos, ada yang mencabut rumput, ada yang memotong sayuran selama satu jam. Bukan karena pekerjaan itu menyimpan rahasia mistis, tetapi karena orang perlu makan, halaman perlu dibersihkan, dan kehidupan perlu dirawat.

Justru dalam hal-hal seperti itulah Zen menjadi sangat jujur.

Ketika duduk di atas bantal meditasi, kita masih dapat memiliki gambaran tentang diri sebagai seorang praktisi yang tekun. Tetapi ketika harus membersihkan sesuatu yang kotor, mengerjakan pekerjaan yang membosankan, atau mengulangi tugas yang kemarin baru saja dilakukan, gambaran itu mulai retak. Pikiran berkata, “Mengapa aku lagi? Bukankah ada pekerjaan yang lebih penting? Sampai kapan harus melakukan ini?”

Di situlah samu mulai menunjukkan sesuatu tentang diri kita.

Pikiran yang tergesa-gesa terlihat pada mangkuk yang dicuci setengah hati. Ketidaksabaran terlihat pada pekerjaan yang ingin segera diselesaikan. Kesombongan muncul ketika kita merasa pekerjaan tertentu terlalu rendah untuk dilakukan. Ketidakpedulian tampak pada sudut lantai yang sengaja dilewati. Kita bahkan tidak perlu mencari keadaan batin yang tersembunyi. Cara kita memegang sapu, mencuci piring, atau menutup sebuah pintu sudah dapat memperlihatkan bagaimana kita sedang berhubungan dengan kehidupan.

Shunryū Suzuki pernah menggunakan gambaran tentang membakar diri sepenuhnya seperti api unggun yang baik, tanpa meninggalkan jejak diri. Ada sesuatu yang sangat indah dalam gambaran ini. Melakukan sesuatu sepenuhnya berarti tidak terus-menerus berdiri di samping pengalaman sambil mengomentarinya. Kita tidak mencuci mangkuk sambil menunggu pekerjaan selesai. Kita tidak menyapu agar menjadi lebih tenang. Kita tidak melakukan pekerjaan sederhana agar dapat merasa rendah hati. Kita hanya menyapu.

Dōgen membawa pemahaman ini sampai ke dapur biara. Ia memberikan perhatian yang sangat rinci terhadap cara beras dicuci, bagaimana air digunakan, bagaimana makanan disiapkan, dan bagaimana peralatan diperlakukan. Baginya, Jalan tidak hanya hadir di aula meditasi. Jika Jalan itu nyata, ia harus dapat ditemukan juga di dalam panci nasi, mangkuk, sendok, dan air cucian. Peralatan bahkan dianjurkan untuk diperlakukan dengan perhatian seperti kita menjaga mata sendiri.

Maka ketika mencuci beras, cucilah beras. Ketika mengeringkan mangkuk, keringkanlah mangkuk. Ketika meletakkan sendok, letakkanlah dengan utuh. Bukan karena mangkuk atau sendok menjadi benda suci, melainkan karena kehidupan tidak pernah hadir di tempat lain selain di sini. Tangan ini, air ini, mangkuk ini, gerakan ini—jika kita terus mencari kehidupan yang lebih mendalam di tempat lain, mungkin justru inilah yang selama ini kita lewatkan.

Kadang kita mengalami hal ini tanpa menyebutnya Zen. Kita sedang memasak, membersihkan rumah, berkebun, memperbaiki sesuatu, atau menulis. Tanpa disadari beberapa jam berlalu. Tidak ada usaha untuk menjadi hening. Tidak ada pikiran, “Aku sedang melakukan praktik mindfulness.” Kita hanya tidak terpecah. Pekerjaan sedang berlangsung dan untuk beberapa saat cerita tentang aku yang sedang mengerjakan sesuatu menjadi lebih sunyi.

Barangkali inilah makna sederhana dari ajaran yang sering diringkas sebagai, “Perhatian. Perhatian. Perhatian.” Bukan perhatian yang tegang dan memaksa, melainkan kesediaan untuk benar-benar berada bersama apa yang sedang dilakukan. Wajah di hadapan kita, langkah yang sedang diambil, bawang di bawah pisau, pesan yang sedang ditulis, atau lantai di bawah kaki—semuanya cukup menjadi tempat latihan.

Karena itu samu tidak membutuhkan tembok biara. Biara itu dapat berupa dapur kita sendiri. Kamar mandi. Meja kerja. Bak cuci yang penuh piring. Antrean supermarket. Pesan yang sebenarnya enggan kita balas. Bahkan lantai yang kembali berdebu meskipun kemarin baru saja dibersihkan.

Kita juga tidak perlu meromantisasi semuanya. Pekerjaan kadang memang membosankan. Tubuh dapat lelah, punggung dapat sakit, dan pikiran dapat terus mengeluh. Samu tidak meminta kita menyukai setiap pekerjaan. Ia hanya mengundang kita untuk melihat apakah kita mampu menjumpai apa yang sedang ada tanpa terus-menerus melarikan diri ke dalam penolakan, keluhan, atau cerita tentang diri sendiri.

Inilah mengapa samu bukan sekadar “mindfulness saat bekerja”. Ia bukan teknik produktivitas agar kita menjadi lebih tenang dan efisien. Ia bahkan bukan cara untuk membuat pekerjaan rumah terasa menyenangkan. Samu menunjuk pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: runtuhnya batas yang kita buat sendiri antara praktik dan kehidupan.

Kita sering menunggu keadaan yang tepat untuk berlatih. Ketika suasana lebih tenang. Ketika pekerjaan berkurang. Ketika berada di tempat retret. Ketika batin sudah tidak terlalu kacau. Namun kehidupan tidak menunggu semua kondisi itu terpenuhi. Debu sudah berada di lantai. Mangkuk sudah kotor. Pekerjaan sudah berada di depan kita.

Maka menyapulah.

Bukan setelah memahami Zen. Bukan setelah pikiran menjadi tenang. Bukan setelah kehidupan menjadi lebih sederhana. Menyapu saja apa yang memang perlu disapu. Dan ketika selesai, letakkan sapu itu kembali pada tempatnya. Itu pun bagian dari praktik.

Ada sesuatu yang sangat sederhana sekaligus mendalam dalam pengulangan ini. Debu kembali, maka kita menyapu lagi. Mangkuk kembali kotor, maka kita mencucinya lagi. Pikiran kembali mengeluh, maka kita mengetahui bahwa pikiran sedang mengeluh dan tetap melakukan apa yang perlu dilakukan. Tidak ada kemenangan terakhir atas debu. Tidak ada mangkuk yang selamanya bersih. Tidak ada kehidupan yang suatu hari akhirnya selesai dibereskan.

Namun mungkin justru di sanalah kebijaksanaan mulai tumbuh.

Samu tidak membawa kita keluar dari kehidupan sehari-hari untuk menemukan sesuatu yang lebih suci. Ia mengembalikan kita sepenuhnya kepada kehidupan yang sudah ada. Perlahan kita melihat bahwa tidak pernah ada tembok yang benar-benar memisahkan meditasi dan bekerja, keheningan dan aktivitas, praktik dan kehidupan.

Biara yang sesungguhnya mungkin memang tidak memiliki dinding.

Ia adalah dapur tempat kita berdiri pagi ini. Meja tempat kita bekerja. Lantai yang kembali berdebu. Mangkuk yang menunggu dicuci. Tangan yang sedang melakukan apa yang perlu dilakukan.

Tidak diperlukan keadaan khusus. Hanya pekerjaan ini. Hanya momen ini. Dan perhatian yang tidak pergi ke mana-mana.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.