Setiap pagi kita merenungkan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Namun perenungan ini bukan dimaksudkan untuk memperbanyak pengetahuan tentang doktrin atau memperdebatkan filsafat Buddhis. Tujuannya jauh lebih dekat daripada itu. Perenungan ini mengajak kita kembali kepada pengalaman yang langsung dapat dikenali saat ini. Ketika merenungkan Buddha, kita tidak sedang membayangkan sosok sejarah atau patung yang dihormati. Kita sedang merenungkan kualitas batin yang murni, yang sadar, yang mengetahui. Kesadaran itu tidak bersifat pribadi. Saat kewaspadaan hadir sepenuhnya, tidak ada “aku” yang perlu dipertahankan. Yang ada hanyalah mengetahui.
Latihan ini selalu dimulai dari hari ini. Bukan dari kemarin, bukan pula dari besok. Kemarin hanyalah ingatan. Apa pun yang telah terjadi sudah menjadi kenangan yang muncul kembali hanya ketika dipanggil oleh pikiran. Cobalah mengingat suatu peristiwa yang terjadi kemarin. Ingatan itu muncul sesaat di dalam batin, lalu menghilang kembali. Dari pengalaman sederhana ini kita mulai melihat bahwa ingatan bukanlah diri kita. Ia hanyalah sebuah kondisi mental yang muncul dan lenyap. Kita tidak perlu menolaknya ataupun tenggelam di dalamnya. Bahkan kenangan dapat menjadi guru yang menunjukkan sifat batin yang selalu berubah.
Sebaliknya, besok adalah sesuatu yang belum diketahui. Pikiran selalu ingin mengisinya dengan rencana, harapan, kekhawatiran, atau berbagai ramalan. Namun sesungguhnya semua itu hanyalah bayangan. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Maka latihan bukanlah memaksakan kepastian, melainkan membuka hati kepada keadaan “tidak tahu”. Bukan ketidaktahuan yang bodoh, tetapi ketidaktahuan yang jujur, rendah hati, dan penuh kebijaksanaan.
Jika masa lalu adalah ingatan dan masa depan adalah sesuatu yang belum diketahui, maka saat ini adalah mengetahui. Inilah satu-satunya kenyataan yang benar-benar dapat dialami. Mengetahui tidak memerlukan penjelasan panjang. Kita tidak sedang memberi penilaian apakah pengalaman ini baik atau buruk, berhasil atau gagal. Kita hanya mengenali, “Beginilah adanya.” Inilah yang disebut melihat kenyataan sebagaimana adanya.
Kesadaran seperti ini mencakup segala sesuatu yang sedang dialami. Tubuh mungkin sedang sehat atau sakit. Mungkin terasa ringan atau lelah. Kita mungkin sedang gembira, sedih, percaya diri, bingung, bersemangat, putus asa, lapar, kenyang, kepanasan, atau kedinginan. Biasanya pikiran langsung bereaksi: ingin mempertahankan yang menyenangkan dan menolak yang tidak menyenangkan. Namun latihan mengajak kita berhenti sejenak. Sebelum menyukai atau membenci, lihatlah terlebih dahulu. “Inilah yang sedang terjadi.” Pengalaman tidak perlu segera diperbaiki. Ia hanya perlu dikenal sebagaimana adanya.
Pikiran sering kali merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian. Ia bertanya, “Apa yang akan terjadi besok? Bagaimana keadaan saya sepuluh tahun lagi? Bagaimana masa depan dunia?” Semua pertanyaan itu sebenarnya tidak memiliki jawaban yang dapat diketahui saat ini. Semuanya hanyalah spekulasi. Yang benar-benar dapat diketahui hanyalah bahwa kita tidak tahu. Mengakui “saya tidak tahu” bukanlah kekalahan intelektual. Sebaliknya, itulah bentuk kejujuran yang sangat mendalam. Daripada memenuhi batin dengan dugaan, kita belajar tinggal bersama kenyataan bahwa masa depan memang belum terbuka.
Demikian pula ketika orang bertanya tentang kematian. Apa yang terjadi setelah meninggal? Ke mana seseorang pergi? Pikiran ingin segera memperoleh kepastian. Namun jika kita benar-benar jujur, kita harus mengakui bahwa kita belum mengetahuinya. Apa pun teori atau keyakinan yang dimiliki, semuanya tetap merupakan pandangan mengenai sesuatu yang belum dialami. Yang dapat diketahui sekarang hanyalah bahwa kematian masih merupakan misteri. Dan justru keterbukaan terhadap misteri itu membuat batin menjadi rendah hati.
Sementara kita belum mengetahui kematian, kita dapat mengenali kehidupan. Tubuh ini sedang hidup. Ada napas yang bergerak. Ada kesadaran yang mengetahui. Ada mata yang melihat, telinga yang mendengar, hidung yang mencium, lidah yang mengecap, tubuh yang merasakan sentuhan. Tubuh ini dapat sehat, dapat sakit, dapat lelah, dan perlahan-lahan akan menua. Semua ini bukan kesalahan. Semua ini adalah sifat alami dari kehidupan yang sedang berlangsung.
Demikian pula dengan batin. Keinginan muncul lalu lenyap. Ketakutan muncul lalu lenyap. Harapan muncul lalu lenyap. Kemarahan, kesedihan, kegembiraan, kecemasan—semuanya mengikuti hukum yang sama. Tidak ada satu pun keadaan batin yang bertahan selamanya. Dengan memperhatikan proses muncul dan lenyap ini, kita mulai melihat bahwa pikiran bukanlah sesuatu yang tetap. Ia adalah aliran kondisi yang terus berubah.
Namun di tengah perubahan itu terdapat sesuatu yang berbeda. Ada kesadaran yang mengetahui perubahan tersebut. Kita dapat mengetahui awal munculnya kemarahan, mengetahui saat kemarahan memudar, dan mengetahui ketika batin kembali tenang. Yang datang dan pergi adalah kondisi batin. Yang mengetahui bukanlah kondisi itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan menjadi sang yang mengetahui.
Kadang-kadang pikiran menjadi sangat tenang sehingga hampir tidak ada lagi arus pemikiran. Sebagian orang takut terhadap keadaan ini. Mereka mengira keheningan berarti kehampaan yang kosong atau kehilangan diri. Padahal justru sebaliknya. Ketika pikiran berhenti sibuk, kesadaran tetap hadir. Kewaspadaan tetap hidup. Perhatian tetap bekerja. Yang hilang hanyalah kebiasaan berpikir tanpa henti. Dalam keheningan itu terdapat kejernihan, kecerdasan, dan kedamaian yang tidak bergantung pada pikiran.
Perhatikan juga pengalaman kagum atau takjub. Ketika rasa kagum muncul, untuk sesaat kita berhenti berusaha mengendalikan kehidupan. Kita tidak sedang memberi nama, menghakimi, atau menjelaskan. Kita hanya terbuka kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Ada rasa ingin tahu yang polos, kerendahan hati, dan kesediaan menerima bahwa tidak semuanya harus dipahami. Sikap batin seperti ini jauh lebih dekat kepada kebijaksanaan daripada usaha mengendalikan segala sesuatu.
Karena itu, jangan memandang pembebasan sebagai hadiah yang akan diperoleh suatu hari nanti setelah bertahun-tahun berlatih. Jika selalu diletakkan di masa depan, kita akan terus mengejarnya tetapi tidak pernah menyentuhnya. Kebebasan bukan berada di ujung waktu. Ia muncul setiap kali batin sadar tanpa melekat. Setiap kali ada mengetahui tanpa menggenggam, di situlah kedamaian hadir.
Maka latihan ini bukanlah perjalanan untuk menjadi seseorang yang istimewa. Bukan usaha menciptakan identitas baru sebagai orang yang tercerahkan. Latihan ini adalah kembali berulang kali kepada kesadaran yang sederhana, terbuka, dan jujur. Mengenali masa lalu sebagai ingatan. Mengenali masa depan sebagai sesuatu yang belum diketahui. Mengenali setiap keadaan tubuh dan batin hanya sebagai kondisi yang muncul dan lenyap. Lalu berdiam sebagai sang yang mengetahui—kesadaran yang hening, waspada, tidak melekat, dan selalu hadir di sini, saat ini.
~ Ajahn Sumedho
(CG)


