Ada orang-orang yang ketika sedang berada di dalam badai, bukan hanya kesulitan menenangkan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha menarik orang lain masuk ke dalam badai itu. Mereka ingin orang lain ikut marah, ikut takut, ikut membenci, ikut memihak, atau ikut memikul kegelisahan yang sedang mereka rasakan. Ketika orang lain tidak bersedia masuk, kadang mereka mulai melemparkan tuduhan, memancing rasa bersalah, atau menciptakan konflik baru agar orang lain akhirnya terpaksa terlibat.
Dalam pandangan Buddhis, badai itu bukanlah orangnya. Badai adalah kondisi batin yang sedang muncul dan mengambil alih: kemarahan, ketakutan, kekecewaan, rasa malu, iri hati, luka, atau kebutuhan yang sangat kuat untuk merasa dimengerti dan dibenarkan. Ketika seseorang terseret oleh kondisi-kondisi ini, ia tidak lagi melihat keadaan sebagaimana adanya, tetapi melalui kabut penderitaannya sendiri.
Masalah menjadi lebih rumit ketika seseorang mulai melekat pada cerita tentang penderitaannya. “Aku benar.” “Dia salah.” “Kalau kamu tidak membelaku, berarti kamu melawanku.” Cerita ini kemudian terasa begitu nyata sampai ketidaksetujuan dianggap sebagai penolakan, batas dianggap sebagai pengkhianatan, dan diam dianggap sebagai penghinaan. Pikiran terus menambah cerita, dan badai yang awalnya kecil menjadi semakin besar.
Sering kali seseorang menarik orang lain ke dalam badai karena ia sedang mencari pembenaran. Jika orang lain ikut marah, kemarahannya terasa lebih benar. Jika orang lain ikut takut, ketakutannya terasa lebih masuk akal. Jika orang lain ikut membenci, ia merasa tidak sendirian. Tidak selalu karena ia berniat jahat. Bisa jadi ia memang belum tahu bagaimana duduk bersama penderitaannya sendiri. Ia belum mampu memegang rasa takut tanpa melemparkannya keluar, atau merasakan luka tanpa membuat orang lain ikut terluka.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa belas kasih tidak berarti ikut tenggelam. Kita dapat mendengarkan tanpa ikut membenci. Kita dapat memahami rasa sakit tanpa harus menyetujui semua cerita yang menyertainya. Kita dapat berkata dalam hati, “Aku melihat bahwa kamu sedang menderita, tetapi aku tidak perlu ikut marah untuk memahami kemarahanmu.”
Ada perbedaan besar antara hadir bagi seseorang dan terseret olehnya. Orang yang sedang tenggelam membutuhkan sesuatu yang kokoh untuk berpegangan. Jika kita ikut melompat ke dalam air tanpa pijakan, akhirnya dua orang sama-sama tenggelam.
Namun kita juga perlu berhati-hati agar tidak kemudian menjadikan orang itu sebagai musuh. Mudah sekali memberi cap: “Dia beracun,” “Dia memang selalu seperti itu,” atau “Dia sumber masalah.” Cara pandang yang lebih jernih adalah melihat, “Pada saat ini, orang ini sedang dikuasai oleh kondisi batin yang kuat.” Memahami sebab tidak berarti membenarkan perilakunya. Kita tetap boleh memasang batas, menjaga jarak, atau berkata tidak, tanpa harus menumbuhkan kebencian.
Ketika berhadapan dengan badai orang lain, hal pertama yang perlu dilakukan sering kali bukan menjawab, tetapi kembali kepada diri sendiri. Rasakan tubuh, sadari napas, beri ruang sebelum bereaksi. Badai orang lain sangat mudah membangunkan badai di dalam diri kita. Jika kita tidak sadar, kita akan menjawab dari luka, bukan dari kejernihan.
Tidak semua tuduhan perlu dibalas. Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan saat itu juga. Kadang kalimat sederhana sudah cukup: “Aku bersedia mendengarkan, tetapi aku tidak mau ikut menyerang orang lain.” Atau, “Kita bisa membicarakannya ketika suasana lebih tenang.” Batas yang sehat tidak membutuhkan penjelasan tanpa akhir.
Kita juga dapat belajar membedakan antara mengakui perasaan dan mempercayai seluruh cerita. “Aku mengerti kamu merasa dikhianati” berbeda dengan “Ya, orang itu memang jahat.” Kita bisa hadir bagi perasaan seseorang tanpa ikut memberi bahan bakar kepada kemarahan atau ketakutannya.
Ada kalanya menjaga jarak justru merupakan bentuk kebijaksanaan. Tidak semua orang harus diberi akses tanpa batas ke dalam hidup kita. Kadang belas kasih berarti tinggal dan mendengarkan. Kadang berarti diam. Kadang berarti pergi. Dan kadang kata yang paling penuh kasih adalah, “Tidak.”
Dalam ajaran Buddha ada gambaran tentang dua anak panah. Anak panah pertama adalah pengalaman yang tidak menyenangkan itu sendiri: tuduhan, konflik, atau badai yang dilemparkan kepada kita. Anak panah kedua adalah apa yang kita tambahkan: “Aku harus membuatnya mengerti.” “Aku harus menang.” “Dia sudah menghancurkan kedamaianku.”
Kita mungkin tidak dapat menghentikan badai orang lain. Tetapi kita masih dapat memilih untuk tidak membangun badai kedua di dalam diri sendiri.
Jalan tengah adalah tetap peduli tanpa ikut tenggelam, tegas tanpa membenci, memahami tanpa harus menyetujui, dan menjaga jarak tanpa permusuhan.
Kita mungkin tidak dapat menenangkan cuaca di dalam diri orang lain. Tetapi kita dapat belajar menjadi cukup luas, sehingga badai mereka tidak berubah menjadi iklim di dalam batin kita.
(CG)


