Sudah yakinkah kita pada latihan yang sedang dijalankan? Bukan yakin karena mengikuti seorang guru atau sebuah metode, melainkan karena mulai melihat sendiri arah latihan itu. Sekarang ada begitu banyak cara mengajarkan meditasi sehingga pikiran mudah bimbang: hari ini mencoba yang satu, besok mencari yang lain. Padahal inti jalan tidak rumit. Jalan Mulia Berunsur Delapan berhimpun dalam sīla, samādhi, dan paññā—moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Ketiganya bukan tiga latihan yang berdiri sendiri. Tugas kita adalah membuat seluruh jalan ini hidup dan bekerja di dalam hati.
Ketika duduk bermeditasi, kita memejamkan mata agar perhatian tidak terus berlari ke luar. Kita kembali kepada napas, menempatkan perhatian dan sati di sana. Duduklah seolah-olah hanya kita seorang diri: untuk sementara lepaskan orang-orang, suara, urusan, dan segala sesuatu di sekitar. Ini bukan berarti menolak dunia, tetapi berhenti memberi makan kepada gangguan. Biarkan napas masuk dan keluar secara alami; jangan dipaksa panjang, pendek, halus, atau dalam. Tugas kita hanya mengetahui. Bila pikiran sangat kusut dan tidak mau tinggal bersama napas, tarik napas sedalam mungkin lalu hembuskan sampai tuntas, lakukan tiga kali, kemudian kembali mengamati napas biasa. Jika pikiran kacau lagi, lakukan lagi. Latihan berkembang melalui kesediaan untuk kembali, bukan melalui kemarahan kepada pikiran.
Ketika perhatian mulai terkumpul, napas menjadi semakin halus, perasaan mereda, tubuh terasa ringan, dan pikiran menyatu. Kadang-kadang napas terasa seakan-akan lenyap. Jangan takut dan jangan segera berpikir kita akan mati. Tubuh tetap bernapas, hanya saja pikiran telah menjadi begitu halus sehingga tidak lagi menangkap napas seperti sebelumnya. Pada saat itu, ketahuilah saja bahwa napas tidak terasa. Jadikan pengetahuan itu sebagai objek. Pengalaman tubuh terasa hilang, ringan, atau seperti duduk di ruang kosong bukanlah sesuatu yang perlu dikejar maupun ditakuti. Yang penting adalah kesadaran tetap teguh dan jernih.
Ketenangan seperti ini dapat menyejukkan pikiran untuk waktu yang lama. Kita keluar darinya bukan karena bosan atau terganggu, tetapi karena sudah cukup. Setelah itu pikiran terasa bersih dan siap menyelidiki pengalaman. Di sinilah terlihat bahwa sīla, samādhi, dan paññā saling menolong. Sīla menjaga tindakan dan memberi dasar bagi samādhi. Samādhi mengumpulkan tenaga batin sehingga kebijaksanaan dapat melihat dengan jelas. Kebijaksanaan memperkuat pengendalian diri dan memurnikan sīla. Mereka bergerak seperti satu lingkaran; ketika selaras, seluruh jalan menjadi satu kekuatan yang bekerja dalam setiap keadaan.
Namun samādhi dapat membawa manfaat maupun bahaya. Samādhi penyerapan atau jhāna dapat menghasilkan kedamaian dan kebahagiaan yang sangat dalam. Bahayanya bukan pada ketenangan itu sendiri, melainkan pada kemelekatan terhadapnya. Kita mungkin ingin terus tinggal di dalam kenikmatan itu dan tidak mau menyelidiki apa pun. Ketenangan seperti ini ibarat pisau yang telah diasah sangat tajam, tetapi tidak pernah digunakan. Seseorang dapat duduk berjam-jam dalam keadaan tenang, tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi dan mengira telah mencapai tujuan tertinggi. Ini samādhi yang keliru: ada ketenangan, tetapi tidak ada kesadaran yang memahami.
Samādhi yang benar selalu disertai sati dan pemahaman jernih, dari awal sampai akhir. Setelah pikiran cukup tenang, kita kembali melihat dan menyelidiki pengalaman. Inilah fungsi upacāra samādhi: pikiran memasuki ketenangan, lalu menggunakan ketenangan itu untuk memahami gerak kehidupan. Perenungan masih dapat berlangsung tanpa merusak kedamaian. Ini bukan pikiran yang mengembara, menebak-nebak, atau membangun cerita. Perhatian dengan sengaja mengambil pengalaman untuk diperiksa. Inilah kesadaran di dalam ketenangan dan ketenangan di dalam kesadaran. Kebijaksanaan lahir di sini.
Ketika mata melihat, telinga mendengar, tubuh bersentuhan, atau pikiran menerima suatu kesan, kita mengetahui sifat pengalaman itu tanpa segera mengikutinya. Kebijaksanaan tidak sibuk memilih: “Saya hanya mau bahagia dan tidak mau menderita.” Ia melihat munculnya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, lalu melepaskan keduanya. Berlatih dalam semua postur bukan hanya berarti sadar ketika duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring. Artinya, batin tetap mengetahui dengan jernih di tengah segala keadaan.
Ada kedamaian yang kasar dan ada kedamaian yang halus. Kedamaian dari konsentrasi masih terasa sebagai kebahagiaan; bila kita menggenggamnya, kita masih berada di dalam kelahiran dan perubahan. Kedamaian yang lahir dari kebijaksanaan tidak bergantung pada rasa bahagia. Ia mengetahui bahagia dan tidak bahagia sebagai keadaan yang datang dan pergi, tanpa melekat pada salah satunya. Tujuan latihan bukan sekadar menjadi tenang, tetapi memakai ketenangan untuk melihat kebenaran. Ketika kita tidak lagi mengejar yang menyenangkan atau melarikan diri dari yang tidak menyenangkan, batin berdiri di atas keduanya. Itulah kedamaian yang sesungguhnya.
~ Ajahn Chah
(CG)


