Bayangkan praktik Dhamma seperti sebuah lingkaran. Lingkaran tidak memiliki ujung. Kita terus berjalan mengelilinginya, hari demi hari, tanpa pernah berkata, “Hari ini saya libur dari praktik.” Bukan berarti setiap hari kita mampu berlatih dengan kekuatan yang sama. Ada hari ketika batin penuh semangat, ada hari ketika tubuh lelah dan perhatian mudah buyar. Tidak apa-apa. Yang penting adalah tetap melangkah. Berikan apa yang mampu kita berikan hari ini, tanpa membandingkannya dengan kemarin.
Seperti seseorang yang belajar berenang, yang terpenting bukan seberapa lama ia berada di dalam air, melainkan apakah gerakannya tetap benar. Demikian pula dalam praktik. Jika hari ini kita hanya mampu duduk bermeditasi lima menit, maka hadir sepenuhnya selama lima menit itu sudah merupakan latihan yang utuh. Di sepanjang hari, kembalilah sesering mungkin kepada napas, dan peliharalah niat untuk terus berlatih, meskipun hanya setipis sehelai benang.
Di dalam diri kita selalu ada banyak niat yang saling berebut perhatian. Mudah sekali niat untuk berlatih tersisih oleh keinginan-keinginan lain. Karena itu, jagalah agar selalu ada satu bagian dari batin yang tetap mengingat tujuan kita. Biarkan ada ruang kecil di dalam diri yang tidak hanyut oleh pikiran, emosi, atau keadaan. Ruang itulah yang terus mengingat: semua ini tidak kekal, tidak dapat memberi kepuasan yang sempurna, dan bukanlah diri yang dapat digenggam.
Kesadaran semacam ini bukanlah usaha untuk melawan pikiran atau menolak kehidupan. Ia hanya berdiri sedikit di luar arus, melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Ketika kemarahan muncul, ia mengetahui bahwa kemarahan akan berlalu. Ketika kebahagiaan datang, ia juga mengetahui bahwa kebahagiaan itu pun berubah. Dengan melihat seperti ini, kita tidak mudah terseret ke dalam dunia ciptaan pikiran sendiri.
Semakin sering kita mengingat tiga perenungan ini—ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa inti diri—semakin lemah cengkeraman keinginan-keinginan yang tidak bermanfaat. Bukan karena kita memaksa mereka pergi, tetapi karena kebijaksanaan perlahan-lahan membuatnya kehilangan tenaga.
Teruslah menjaga bentuk praktik ini. Tidak perlu mencari pengalaman yang luar biasa. Cukup kembali, lagi dan lagi. Menjaga napas. Menjaga perhatian. Menjaga hati yang mengetahui. Lingkaran itu mungkin tampak berulang tanpa akhir, tetapi justru karena kita tidak berhenti berjalan, suatu hari kita akan melampaui seluruh lingkaran itu. Dan ketika saat itu tiba, yang tersisa hanyalah kebebasan.
~ Ajahn Chah
(CG)


