Pernahkah kita bertahan di sebuah tempat, hubungan, atau percakapan hanya karena takut ditinggalkan? Kita mengangguk ketika hati sebenarnya ingin berkata tidak. Kita mengecilkan kebutuhan sendiri agar tidak dianggap merepotkan. Kita terus berusaha menjadi sosok yang disukai, sampai perlahan lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri.
Kutipan dalam gambar mengingatkan bahwa ketika rasa takut akan kesendirian mulai mereda, kita tidak lagi mudah dibujuk untuk mengkhianati diri hanya demi merasa diterima. Mungkin lawan dari kesepian bukan selalu hadirnya orang lain. Kadang, ia bermula saat kita berhenti meninggalkan diri sendiri—saat kita pulang, dengan lembut, kepada hati yang selama ini menunggu untuk didengarkan.
Kesendirian bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun
Manusia tetap membutuhkan hubungan, persahabatan, keluarga, dan rasa memiliki. Belajar nyaman dengan diri sendiri bukan ajakan untuk menutup pintu bagi orang lain. Kita boleh merindukan kehangatan dan tetap belajar berdiri di dalam diri sendiri. Kita boleh mencintai seseorang tanpa menjadikan penerimaan mereka sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.
Ada saatnya kita berkata “ya” karena sungguh ingin memberi. Ada pula saatnya kita berkata “tidak” karena sedang menjaga batas, tenaga, atau ketenangan batin. Perbedaannya sering terasa di dalam: apakah tindakan itu lahir dari kepedulian yang jernih, atau dari ketakutan bahwa kita tidak akan disukai bila menjadi diri sendiri?
Pulang kepada diri bukan berarti semua jawaban langsung ditemukan. Barangkali ia hanya dimulai dengan berhenti sejenak sebelum menjawab, menyadari tubuh yang lelah, mengakui rasa sedih tanpa menghakimi, atau berani mengatakan, “Aku perlu waktu.” Langkah-langkah kecil semacam itu mengajari kita bahwa perasaan dan kebutuhan kita layak didengar.
Cinta kepada diri dalam ajaran Buddha
Dalam ajaran Buddha, merawat diri bukan berarti memuja ego atau menganggap diri lebih penting daripada makhluk lain. Ia lebih dekat dengan menjaga kehidupan dan batin agar tidak terus-menerus disakiti oleh ketidaksadaran, kebencian, atau tindakan yang tidak bijaksana.
Dhammapada 157 menyampaikan, “Jika seseorang menganggap dirinya berharga, hendaklah ia menjaga dirinya dengan sungguh-sungguh.” Ayat 166 juga mengingatkan agar seseorang tidak mengabaikan kesejahteraannya sendiri demi orang lain. Pesan ini bukan pembenaran untuk bersikap egois. Ia mengajak kita melihat bahwa kebaikan yang berkelanjutan perlu berakar pada kebijaksanaan dan perhatian—termasuk perhatian kepada diri sendiri. (Dhammapada 157, 166)
Dalam Sedakasutta (SN 47.19), Buddha menggunakan gambaran dua pemain akrobat yang harus menjaga keseimbangan di atas sebuah tiang. Dengan menjaga diri, seseorang menjaga orang lain; dan dengan menjaga orang lain melalui sikap tanpa menyakiti, cinta kasih, serta kepedulian, ia juga menjaga dirinya. Merawat diri dan merawat sesama bukan dua jalan yang saling meniadakan. Keduanya saling menopang.
Maka, cinta diri dalam laku Buddhis dapat berarti menjaga ucapan agar tidak melukai, memilih tindakan yang membawa manfaat, mengenali kapan tubuh dan batin membutuhkan istirahat, serta melatih perhatian supaya tidak terseret oleh rasa takut. Bukan karena kita harus selalu mendahulukan diri, melainkan karena batin yang dirawat lebih mampu hadir bagi kehidupan.
Tidak lagi mengkhianati diri
Mungkin kita tidak selalu bisa memilih siapa yang memahami kita. Kita juga tidak bisa menghindari setiap perpisahan atau rasa sepi. Namun, sedikit demi sedikit, kita dapat belajar untuk tidak meninggalkan diri sendiri di tengah semuanya.
Kita bisa mendengar suara batin tanpa langsung menuruti setiap keinginan; melihat ketakutan tanpa membiarkannya mengambil semua keputusan; dan mengasihi diri tanpa menutup mata terhadap hal-hal yang perlu kita ubah. Welas asih bukan berkata bahwa kita selalu benar. Welas asih adalah berani melihat diri dengan jujur, lalu tetap memperlakukan diri dengan kelembutan.
Pada akhirnya, pulang kepada diri sendiri bukan perjalanan menuju kesempurnaan. Ia adalah latihan untuk hadir: bernapas, mendengarkan, menjaga batas yang sehat, meminta bantuan saat perlu, dan memilih hubungan yang tidak meminta kita menghapus diri. Dari rumah batin yang lebih teduh itu, kita dapat menjumpai orang lain bukan hanya karena takut sendirian, tetapi karena ada kasih yang ingin dibagikan.
Semoga aku belajar tinggal di dalam hatiku,
menjaganya dengan jernih dan lembut.
Semoga kasih yang tumbuh di sana
menjadi ruang aman bagi diriku dan sesama.
(CG)


