Ceramah Dhamma oleh Dharma Teacher Venerable Chân Pháp Niệm dari Thai Plum Village dalam peringatan International Day of Peace 2023 yang diselenggarakan oleh International Buddhist Studies College (IBSC), Mahachulalongkornrajavidyalaya University (MCU).

Menjadi Kedamaian, Bukan Sekadar Membicarakannya

Dalam tradisi Plum Village, sebuah sesi berbagi Dhamma biasanya diawali dengan tiga bunyi genta. Suara genta dipandang sebagai suara Buddha yang memanggil kita pulang—pulang kepada tubuh, napas, dan saat ini. Ketika mendengarkannya, kita tidak perlu mengejar pikiran tentang masa lalu ataupun terseret oleh kecemasan mengenai masa depan. Kita hanya perlu kembali dan menyadari:

> Bernapas masuk, saya menyadari napas masuk. 
> Bernapas keluar, saya menyadari napas keluar.

Kedamaian bukanlah gagasan yang hanya perlu dibicarakan. Kedamaian harus dapat disentuh dalam setiap napas dan diwujudkan melalui cara kita hadir. Ketika tubuh dan pikiran bersatu, kita sungguh-sungguh berada di sini dan saat ini. Di sanalah kedamaian mulai menjadi pengalaman nyata.

Menjadi damai jauh lebih penting daripada sekadar berbicara tentang perdamaian. Bila napas kita tenang, tubuh mengendur, dan pikiran tidak lagi dikuasai ketakutan atau kemarahan, kita sedang menghadirkan kedamaian bagi diri sendiri sekaligus bagi dunia.

Jika Hidup Tinggal Delapan Menit

Bayangkan kita diberi tahu bahwa hidup hanya tersisa delapan menit. Apa yang akan kita lakukan? Apa yang benar-benar penting untuk diucapkan? Siapa yang ingin kita peluk, maafkan, atau hubungi? Apakah kita masih akan mempertahankan kemarahan, kesombongan, dan pertengkaran yang selama ini memenuhi pikiran?

Pertanyaan ini merupakan sebuah pokok meditasi yang mendalam. Kesadaran bahwa kehidupan tidak kekal menolong kita membedakan hal yang sungguh bermakna dari hal yang selama ini hanya menghabiskan tenaga. Dalam waktu yang sangat singkat pun kita masih dapat berpikir, berbicara, dan bertindak dengan cara yang melahirkan cinta, sukacita, serta kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi.

Kita biasanya hidup seolah-olah masih mempunyai waktu yang sangat panjang. Karena merasa hari esok pasti tersedia, kita menunda untuk meminta maaf, menyatakan cinta, atau memperbaiki hubungan. Kita juga dapat menghabiskan hidup untuk mengumpulkan pengetahuan—bahkan pengetahuan Buddhis—tanpa sungguh-sungguh mempraktikkannya.

Namun, Dhamma bukan sekadar sesuatu untuk dipelajari dan disimpan di dalam pikiran. Dhamma harus menjadi latihan yang hidup. Menyadari ketidakkekalan berarti memahami apa yang paling berharga: kedamaian, kebebasan, pengertian, dan cinta kasih. Jika ada sesuatu yang perlu kita sampaikan atau lakukan bagi orang yang kita cintai, waktu terbaik untuk melakukannya adalah sekarang.

Sang Buddha mengingatkan bahwa kehidupan berlangsung hanya sepanjang satu napas masuk dan satu napas keluar. Bukan seratus tahun, delapan puluh tahun, satu hari, atau bahkan satu jam. Kehidupan hanya tersedia dalam napas yang sedang terjadi. Pertanyaannya bukan semata-mata berapa lama kita hidup, melainkan apakah kita dapat menjadikan satu napas itu sebuah keajaiban.

Ketika satu tarikan dan embusan napas dijalani dengan relaksasi, sukacita, kedamaian, dan kebebasan, pada saat itu kita benar-benar hidup. Kita terbebas, setidaknya untuk sesaat, dari rasa takut, amarah, frustrasi, kecemburuan, dan keputusasaan. Itulah pengalaman kedamaian yang nyata.

Penderitaan Dunia Ada di Dalam Diri Kita

Berita tentang kekerasan, bencana, dan hilangnya begitu banyak kehidupan dapat mengguncang batin. Kita mungkin terbiasa memandangnya sebagai sesuatu yang terjadi “di sana”, jauh dari kehidupan pribadi kita. Namun, meditasi mengajak kita melihat lebih dalam: penderitaan itu tidak benar-benar terpisah dari kita.

Ketika mendengar ada orang yang terluka atau meninggal, kita dapat duduk dengan tenang dan menyalakan cahaya kesadaran. Kita bernapas bagi mereka, berjalan bagi mereka, makan bagi mereka, dan menjalani kehidupan ini dengan penuh perhatian bagi mereka yang tidak lagi memiliki kesempatan tersebut. Dengan cara demikian, kita tidak tenggelam dalam keputusasaan. Kita membiarkan penderitaan membuka hati, lalu mengubahnya menjadi energi kepedulian dan tindakan yang bijaksana.

Kekerasan bukan hanya persoalan pelaku yang tampak di layar. Benih kekerasan, ketakutan, dan keputusasaan juga terdapat dalam kesadaran pribadi maupun kolektif. Jika kita hanya mengutuk seorang pelaku sebagai manusia yang sepenuhnya terpisah dari diri kita, kita belum menyentuh wawasan mengenai nonself atau tanpa-diri, interbeing atau saling-menjadi, kekosongan, serta sebab-musabab yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda).

Melihat dengan wawasan saling-menjadi berarti berani bertanya: kondisi keluarga, masyarakat, pendidikan, media, cara konsumsi, dan bentuk kekerasan apa yang ikut membentuk seseorang? Pertanyaan ini bukan untuk membenarkan tindakannya. Tujuannya adalah memahami akar penderitaan agar kita dapat mencegahnya dan menanggapinya dengan tepat.

Langkah pertama adalah mengakui penderitaan. Inilah semangat Kebenaran Mulia Pertama: tidak menyangkal, melarikan diri, atau menutupinya. Kita dapat berlatih:

> Bernapas masuk, saya menyadari penderitaan di dalam diri saya dan di dunia. 
> Bernapas keluar, saya menerima, merangkul, dan menenangkan penderitaan itu.

Latihan ini selaras dengan latihan ketujuh dan kedelapan dalam Ānāpānasati Sutta: menyadari bentukan mental dan menenangkan bentukan mental. Kita tidak memerangi rasa takut atau kesedihan, tetapi mengenalinya dengan penuh kasih dan memberinya ruang untuk menjadi tenang.

Tidak Tenggelam dalam Penderitaan

Sang Buddha tidak hanya berbicara tentang penderitaan. Setiap saat juga merupakan pemberian kehidupan. Penderitaan memang ada, tetapi sukacita, kebahagiaan, dan berbagai kondisi yang menopang kehidupan juga tersedia. Perhatian penuh membantu kita melihat keduanya dengan jernih sehingga kita tidak menolak penderitaan, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya.

Setiap pagi, kita dapat menyadari bahwa kita masih hidup. Napas masih mengalir, jantung masih berdetak, dan orang yang kita kasihi mungkin masih berada di sisi kita. Bahkan suara dengkur yang biasanya mengganggu dapat menjadi kabar baik: orang itu masih bernapas dan masih hadir bersama kita.

Sayangnya, hal pertama yang sering kita lakukan setelah bangun adalah meraih telepon genggam. Pikiran segera dipenuhi pesan, pekerjaan, berita, dan rencana. Kita melewatkan keajaiban sederhana bahwa kehidupan telah diberikan sekali lagi pada pagi itu.

Sebuah latihan yang sangat konkret adalah meletakkan telepon di luar kamar tidur. Ketika bangun, berikan beberapa saat untuk tersenyum, merasakan napas, dan menyadari tubuh. Praktik sederhana ini dapat memulihkan kesehatan, kejernihan, dan kedamaian. Kebahagiaan tidak selalu memerlukan keadaan luar biasa. Ketika menyikat gigi, kita dapat bersyukur karena masih mempunyai gigi untuk disikat dan tidak sedang mengalami sakit gigi. Ketika berjalan, kita dapat bersukacita karena kaki masih mampu menyentuh bumi.

Perhatian penuh membuat kita peka terhadap kondisi-kondisi kebahagiaan yang selama ini sudah ada. Kita tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Sukacita yang sederhana justru memberi tenaga untuk menghadapi penderitaan dengan lebih stabil.

Meditasi Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Meditasi tidak terbatas pada ruang meditasi atau aula Buddha. Kita dapat berlatih di kamar mandi, di toilet, di kendaraan, ketika memasak, menyikat gigi, bekerja, atau makan bersama keluarga. Segala sesuatu dapat menjadi pintu Dhamma apabila dilakukan dalam kesadaran.

Saat melakukan perjalanan, misalnya, kita dapat menikmati kebersamaan dan menyanyikan lagu latihan:

> Kebahagiaan ada di sini dan saat ini. 
> Aku telah melepaskan kekhawatiranku. 
> Tidak perlu pergi ke mana pun, tidak perlu melakukan apa pun.

Perjalanan itu sendiri dapat menjadi meditasi yang bergerak. Tujuan latihan bukanlah melarikan diri dari kenyataan, melainkan menghadirkan kedamaian ke dalam setiap kegiatan. Sarapan, mandi, mengemudi, bekerja, dan menyapu lantai semuanya dapat menjadi latihan apabila tubuh dan pikiran hadir bersama.

Ketika bangun dan melihat orang yang kita kasihi, kita dapat berkata, “Aku tahu engkau ada di sini, dan kehadiranmu membuatku bahagia.” Kalimat sederhana itu merupakan hadiah. Ketidakkekalan mengingatkan kita agar tidak menunggu sampai seseorang pergi untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya.

“Aku Telah Tiba, Aku Sudah di Rumah”

Dalam Plum Village terdapat latihan gāthā, “Aku telah tiba, aku sudah di rumah.” Kalimat ini berarti kita berhenti berlari. Kita tidak lagi terus-menerus mencari kebahagiaan di masa depan atau membayangkan bahwa diri kita belum cukup sampai mencapai sesuatu yang lain.

Kita sering menyerupai gelombang yang mencari air. Gelombang merasa harus pergi ke suatu tempat untuk menemukan air, padahal dirinya sendiri terbuat dari air. Begitu menyadari hakikatnya, gelombang dapat berhenti mencari dan menikmati keberadaannya sebagai gelombang.

Demikian pula, kita sering mengira pencerahan baru akan tercapai sepuluh, lima belas, atau puluhan tahun lagi. Padahal, pencerahan dapat dimulai sekarang: tercerahkan terhadap kenyataan bahwa kita masih bernapas; bahwa tubuh ini hidup; bahwa bumi masih menopang langkah kita; dan bahwa kondisi kebahagiaan telah tersedia.

Ketika seratus persen hadir bersama napas masuk dan napas keluar, kita sedang menyentuh kebebasan. Ketika berjalan dan sungguh-sungguh merasakan telapak kaki menyentuh tanah, tanpa dikuasai penyesalan masa lalu maupun rencana masa depan, kita sedang menyentuh kedamaian. Itulah pencerahan yang dapat dialami di sini dan saat ini.

Buddha Dhamma sesungguhnya sederhana, seperti menikmati secangkir teh atau kopi dengan sepenuh hati. Kitalah yang sering membuatnya rumit.

Kedamaian Dunia Dimulai dari Kedamaian Diri

Kita tidak dapat sepenuhnya bahagia ketika dunia dilanda penderitaan. Pada saat yang sama, dunia tidak dapat menjadi damai apabila manusia tidak memiliki kedamaian di dalam dirinya.

Dalam Vimalakīrti Nirdeśa Sūtra, Vimalakīrti mengatakan bahwa karena semua makhluk sedang sakit, ia pun sakit. Pernyataan ini menunjukkan bahwa penderitaan pribadi dan penderitaan dunia tidak terpisah. Kita saling memengaruhi dan saling membentuk.

“Sakit” di sini juga berarti terperangkap dalam ketamakan, kebencian, ketidaktahuan, dan diskriminasi. Ketika melihat diri dan dunia sebagai dua keberadaan yang terpisah, kita terus menciptakan perang, kerusakan, keputusasaan, dan penderitaan—bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta Ibu Bumi.

Dunia dibentuk oleh kesadaran pribadi dan kolektif, lalu dunia yang telah terbentuk itu kembali memengaruhi kita. Benih kekerasan di dalam kesadaran terus disiram melalui apa yang kita tonton, baca, dengarkan, dan konsumsi. Karena itu, setiap pilihan pribadi mempunyai dimensi kolektif.

Thích Nhất Hạnh mengajarkan, “Kedamaian di dunia dimulai dari kedamaian di dalam diri.” Apabila setiap orang hidup dengan penuh perhatian, kesehatan dan rasa berkecukupan akan bertumbuh, dan kedamaian menjadi lebih mungkin.

Mulailah dengan sebuah senyum. Banyak orang mampu tersenyum kepada pelanggan karena pekerjaannya menuntut demikian, tetapi tidak mampu tersenyum kepada dirinya sendiri ketika pulang. Padahal, diri kitalah yang pertama-tama membutuhkan cinta. Jika kita tidak dapat tersenyum dan bersikap lembut kepada diri sendiri, akan sulit bagi kita untuk memberikan cinta yang sehat kepada orang lain.

Bernapas untuk Merelaksasi Tubuh dan Pikiran

Perhatian penuh membantu kita mengenali ketegangan, stres, amarah, keputusasaan, dan ketakutan. Kita perlu berhenti sejenak, duduk, dan merangkul apa yang sedang terjadi. Sang Buddha memberikan latihan yang sangat konkret:

> Bernapas masuk, saya menyadari ketegangan di dalam tubuh dan pikiran. 
> Bernapas keluar, saya melepaskan dan merelaksasikan ketegangan itu.

Napas keluar secara alami membantu otot mengendur. Karena itu, ketika menerima suntikan, kita biasanya diminta mengembuskan napas agar tubuh tidak menegang. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tekanan muncul, jangan segera bereaksi. Sadari tubuh, bernapaslah, lalu izinkan ketegangan dilepaskan.

Tubuh yang terus berada dalam keadaan tertekan kehilangan kemampuan untuk memulihkan diri dengan baik. Sebaliknya, relaksasi yang penuh kesadaran menciptakan kondisi yang mendukung kesehatan dan kejernihan batin. Ketika tubuh lebih damai, tindakan kita pun dapat lahir dari kestabilan, bukan kepanikan.

Ibu Bumi dan Wawasan Saling-Menjadi

Tanpa-diri bukanlah teori abstrak. Kita ada karena matahari, udara, air, tanah, tumbuhan, hewan, leluhur, keluarga, dan masyarakat. Kita tidak dapat berdiri sendiri. “Karena ini ada, itu ada; karena ini muncul, itu muncul.” Inilah prinsip sebab-musabab yang saling bergantungan.

Krisis iklim, mencairnya gletser, pencemaran sungai, dan pemanasan global bukanlah masalah yang sepenuhnya berada di luar diri kita. Semuanya merupakan manifestasi fisik dari cara hidup kolektif: cara kita memproduksi, mengonsumsi, bepergian, serta mengeksploitasi sumber daya.

Tidak ada peristiwa yang muncul tanpa sebab dan kondisi. Bila Ibu Bumi tidak sehat, kita pun tidak sehat. Kerusakan ekologis mencerminkan karma individu dan kolektif, termasuk kebiasaan konsumsi berlebihan. Kita perlu bangun dan menyentuh kenyataan saling-menjadi agar dapat hidup secara bertanggung jawab.

Manusia bukan pusat alam semesta. Bahkan dalam sejarah bumi, manusia merupakan spesies yang sangat muda. Kita tidak dapat hidup tanpa unsur-unsur bukan-manusia—tumbuhan, hewan, mineral, air, tanah, serta matahari. Menghancurkan unsur-unsur itu berarti menghancurkan diri sendiri.

Kesadaran ini juga berlaku terhadap kekerasan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Cara kita berpikir, berbicara, bertindak, menghibur diri, dan mengonsumsi media ikut membentuk dunia tempat anak-anak bertumbuh. Menonton kekerasan tanpa kesadaran, misalnya, dapat menyiram benih kekerasan di dalam kesadaran kolektif. Tidak ada tindakan yang sepenuhnya berdiri sendiri.

Berhenti Sebelum Bertindak

Kita dapat bernapas dan berjalan dengan cara yang menenangkan ketakutan, amarah, serta frustrasi—di rumah, tempat kerja, vihara, kereta, atau mobil. Kedamaian dan kestabilan batin bukanlah alasan untuk pasif. Justru keduanya adalah landasan bagi tindakan yang tepat.

Ketika tidak damai, jangan terburu-buru berbicara atau mengambil keputusan. Semakin panik kita bertindak, semakin besar kemungkinan kita menambah penderitaan. Ada ungkapan populer, “Jangan hanya duduk; lakukan sesuatu.” Thích Nhất Hạnh membaliknya menjadi, “Jangan hanya melakukan sesuatu; duduklah.”

Duduk bukan berarti tidak peduli. Duduk berarti berhenti, bernapas, melihat dengan jernih, dan memulihkan kestabilan. Sesudah itu, kita dapat bertindak tanpa dikuasai kebencian dan ketakutan.

Lima Latihan Berkesadaran sebagai Jalan Damai

Lima Latihan Berkesadaran merupakan ungkapan konkret Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Latihan ini berakar pada Pandangan Benar, wawasan saling-menjadi, dan cinta sejati yang mampu mengikis diskriminasi, ketakutan, serta keputusasaan.

Latihan tersebut bukan hanya untuk umat awam. Para monastik pun dapat terus menggunakannya sebagai pedoman universal. Dalam Plum Village, Lima Latihan Berkesadaran dipandang sebagai jalan persaudaraan, pengertian, cinta kasih, serta perlindungan bagi manusia dan planet ini.

Praktik Buddhis bukanlah usaha melarikan diri ke surga. Kita berlatih untuk menumbuhkan pengertian dan cinta kasih, belajar menanggapi penderitaan dengan terampil, serta mengubahnya menjadi kedamaian, kebebasan, sukacita, dan kebahagiaan.

Ketika kemarahan, kebencian, ketamakan, dan salah pengertian mereda, kita dapat merasakan kesejukan batin. Kesejukan itulah cita rasa Nibbāna. Nibbāna bukan semata-mata tujuan jauh setelah kematian; ia dapat disentuh pada saat api batin tidak lagi membakar kita.

1. Menghormati Kehidupan

Latihan pertama adalah komitmen untuk melindungi kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, dan mineral melalui wawasan saling-menjadi dan belas kasih. Kita tidak dapat melindungi kehidupan tanpa menyadari tanpa-diri, sebab manusia tidak mungkin ada tanpa unsur-unsur bukan-manusia.

Mencintai berarti melindungi: melindungi diri, keluarga, masyarakat, spesies lain, dan Ibu Bumi. Kita bukan makhluk yang berdiri di luar bumi. Kita adalah bumi itu sendiri. Selain ibu biologis, kita memiliki Ibu Bumi dan Bapa Matahari. Tanpa tanah, air, udara, dan cahaya matahari, tubuh ini tidak mungkin ada.

Kontemplasi atas ketidakkekalan, tanpa-diri, dan saling-menjadi membantu kita mengubah fanatisme, dogmatisme, serta kemelekatan pada pandangan. Bahkan anggapan bahwa “tubuh ini adalah diriku yang terpisah” perlu dilihat kembali. Tubuh ini terbuat dari seluruh alam semesta.

2. Kebahagiaan Sejati

Latihan kedua mengajak kita mempraktikkan kemurahan hati, keadilan sosial, tidak mencuri, dan tidak mengeksploitasi. Sumber daya Ibu Bumi sangat besar, tetapi tetap memiliki batas. Ketamakan akan uang, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan mendorong manusia mengeksploitasi bumi secara berlebihan.

Kita menderita karena melekat pada gagasan tertentu tentang kebahagiaan: “Aku hanya akan bahagia jika memiliki ini, mencapai itu, atau dipandang seperti itu.” Padahal, kebahagiaan sejati tidak terutama bergantung pada kekayaan, gelar, ketenaran, atau kekuasaan. Kebahagiaan dapat disentuh saat bernapas, berjalan, makan, serta hadir bersama orang yang kita kasihi.

Kebahagiaan sangat dipengaruhi cara pandang. Kadang-kadang kita tidak perlu mengubah seluruh keadaan hidup; kita perlu mengubah cara melihatnya. Ketika mampu hadir sepenuhnya bagi keluarga, kehadiran itu sendiri merupakan kemurahan hati. Banyak orang terlalu sibuk sampai tidak mempunyai waktu bagi dirinya, anak-anaknya, atau pasangannya. Memberikan waktu dan perhatian adalah hadiah yang amat berharga.

3. Cinta Sejati

Latihan ketiga menumbuhkan tanggung jawab dan melindungi keamanan serta keutuhan individu, pasangan, keluarga, dan masyarakat. Cinta sejati tidak sekadar mengikuti dorongan keinginan. Ia mengandung pengertian, rasa hormat, tanggung jawab, dan tekad untuk tidak menimbulkan penderitaan.

Ketika hubungan dijalani dengan perhatian penuh, kita belajar menjaga tubuh dan batin diri sendiri sekaligus orang lain. Cinta tidak mengambil atau menguasai. Cinta menciptakan rasa aman dan membantu setiap pihak bertumbuh.

4. Ucapan Penuh Kasih dan Mendengarkan Secara Mendalam

Banyak penderitaan lahir dari persepsi keliru. Kita salah memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia. Karena itu, bermeditasi berarti belajar duduk dan mendengarkan secara mendalam. Kita meninjau kembali persepsi sambil bertanya, “Apakah saya yakin?” Bahkan ketika merasa yakin, kita perlu memeriksanya sekali lagi.

Ucapan yang penuh kasih dan kemampuan mendengarkan dengan belas kasih dapat menyembuhkan luka serta mendamaikan konflik. Mendengarkan bukan berarti langsung menyetujui semua hal. Mendengarkan berarti memberi ruang agar penderitaan dapat diungkapkan tanpa segera menghakimi atau membalas.

Karena persepsi selalu dipengaruhi pengalaman, luka, harapan, dan prasangka kita, kerendahan hati sangat dibutuhkan. Jangan terlalu cepat menganggap pandangan sendiri sebagai kebenaran mutlak.

5. Nutrisi dan Penyembuhan

Latihan kelima mengajak kita mengonsumsi secara berkesadaran. Konsumsi bukan hanya makanan dan minuman, melainkan juga kesan indria, kehendak terdalam, serta kesadaran individual dan kolektif—empat jenis nutrisi yang dijelaskan dalam ajaran Buddha.

Apa yang kita tonton, baca, dengarkan, dan percakapkan setiap hari dapat menyiram benih kedamaian atau justru kekerasan. Makanan yang kita pilih juga berdampak pada tubuh, masyarakat, makhluk lain, dan bumi. Karena itu, pertanyaan pentingnya adalah: Apa yang sedang saya konsumsi? Benih apa yang sedang saya siram?

Konsumsi yang penuh perhatian membawa nutrisi dan penyembuhan bagi tubuh serta batin pribadi, sekaligus bagi kesadaran kolektif dan Ibu Bumi. Kita menjadi apa yang kita konsumsi.

Pulang kepada Satu Napas

Jalan perdamaian tidak harus dimulai dari tindakan besar. Ia dimulai dari kemampuan berhenti, bernapas, dan mengenali apa yang berlangsung di dalam diri. Dari sana kita belajar merangkul penderitaan, menyentuh kondisi kebahagiaan, berbicara dengan kasih, mendengarkan secara mendalam, serta mengonsumsi secara bertanggung jawab.

Setiap napas damai merupakan sumbangan bagi dunia. Setiap langkah yang stabil mengurangi kepanikan dalam kesadaran kolektif. Setiap senyum kepada diri sendiri menumbuhkan kemampuan untuk mencintai orang lain. Setiap keputusan untuk tidak menyiram benih kebencian membantu mencegah kekerasan.

Kita tidak perlu menunggu dunia menjadi damai untuk mulai berlatih. Dunia memerlukan kita untuk menjadi damai sekarang. Ketika kembali kepada napas dan sungguh-sungguh hadir, kita menemukan bahwa kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan tidak berada di tempat yang jauh. Semuanya dapat disentuh di sini, dalam satu napas masuk dan satu napas keluar.

Dan ketika saatnya tiba untuk melepaskan—melepaskan rencana, pandangan, atau bahkan materi ceramah yang belum sempat disampaikan—kita dapat tersenyum. Sebab, melepaskan itu sendiri adalah salah satu sumber kebahagiaan yang paling penting.

(CG)


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *