Di antara begitu banyak hal yang kita lakukan setiap hari, ada satu hal yang sering terlupakan: hadir bersama diri sendiri. Kita belajar menemani orang lain ketika mereka sedih, mendengarkan teman yang sedang terluka, atau memberikan perhatian kepada keluarga yang membutuhkan. Namun ketika kesedihan, kegelisahan, atau kebingungan muncul di dalam hati kita sendiri, sering kali yang kita lakukan justru sebaliknya. Kita menghindar, mengalihkan perhatian, menyibukkan diri, atau bahkan menghakimi diri sendiri karena merasa tidak cukup baik.
Padahal, salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling sederhana adalah kemampuan untuk duduk bersama apa yang sedang kita alami. Tidak perlu segera memperbaikinya. Tidak perlu langsung mencari jalan keluar. Hanya hadir. Hanya mengetahui bahwa saat ini ada kesedihan, ada ketakutan, ada kekecewaan, atau mungkin ada kebahagiaan yang sedang berkunjung. Semua itu adalah bagian dari pengalaman manusia.
Kesadaran penuh mengajarkan kita untuk melihat kehidupan sebagaimana adanya. Ketika hujan turun, kita tahu hujan sedang turun. Ketika matahari bersinar, kita tahu matahari sedang bersinar. Demikian pula ketika hati sedang gelisah, kita dapat belajar berkata dengan lembut, “Saat ini ada kegelisahan.” Tidak perlu menambah cerita bahwa kita gagal, lemah, atau tidak seharusnya merasa seperti ini. Cukup mengenali apa yang ada di hadapan kita.
Sering kali penderitaan bertambah bukan karena pengalaman itu sendiri, melainkan karena penolakan kita terhadap pengalaman tersebut. Kita ingin yang tidak menyenangkan segera pergi dan yang menyenangkan bertahan selamanya. Namun kehidupan tidak bergerak sesuai keinginan kita. Segala sesuatu datang dan pergi sesuai kondisi dan sebabnya. Ketika kita mulai menerima kenyataan sederhana ini, hati menjadi lebih ringan. Bukan karena semua masalah selesai, melainkan karena kita berhenti berperang dengan kenyataan.
Menemani diri sendiri juga berarti memberikan welas asih kepada diri sendiri. Welas asih bukanlah memanjakan diri atau mencari alasan atas kesalahan. Welas asih adalah keberanian untuk melihat penderitaan tanpa kebencian. Kita dapat mengakui bahwa kita sedang terluka tanpa merasa rendah diri. Kita dapat menerima bahwa kita masih memiliki kelemahan tanpa kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri.
Ketika welas asih tumbuh kepada diri sendiri, ia perlahan meluas kepada semua makhluk. Kita mulai menyadari bahwa setiap orang juga sedang membawa beban yang tidak selalu terlihat. Setiap orang memiliki ketakutan, harapan, kegagalan, dan luka batin mereka sendiri. Dari pemahaman ini lahirlah kelembutan. Kita tidak lagi begitu cepat menghakimi, karena kita tahu rasanya menjadi manusia yang sedang berjuang.
Pada akhirnya, kedamaian bukanlah hasil dari dunia yang sempurna. Kedamaian lahir ketika kita berhenti melarikan diri dari pengalaman saat ini. Kita belajar duduk bersama kehidupan sebagaimana adanya. Kita belajar menjadi sahabat bagi diri sendiri. Dan dari persahabatan itu, hati menemukan ruang yang luas untuk menerima, memahami, dan mencintai.
Gatha
Bernapas masuk, aku pulang pada diriku.
Bernapas keluar, aku tersenyum pada hidup ini.
Apa yang hadir, kuizinkan hadir.
Apa yang pergi, kuizinkan pergi.
Dengan hati yang lembut dan sadar,
aku menemani diriku dan semua makhluk.
(CG)


