Appamādena Sampādetha

Di antara begitu banyak ajaran yang luas dan dalam, ada satu kalimat pendek yang terasa seperti lonceng terakhir yang terus bergema di hati: Appamādena sampādetha. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh. Jangan lengah. Sempurnakanlah jalan ini dengan kewaspadaan.

Kalimat ini bukan ajakan untuk hidup tegang, keras, atau penuh rasa bersalah. Justru sebaliknya, ia mengingatkan kita bahwa hidup ini sangat berharga, sangat rapuh, dan tidak bisa terus-menerus ditunda. Kita sering berpikir masih ada nanti. Nanti kalau pekerjaan lebih longgar. Nanti kalau anak-anak sudah besar. Nanti kalau hati sudah tenang. Nanti kalau hidup sudah lebih tertata. Tetapi Dhamma tidak menunggu hidup menjadi sempurna. Dhamma justru hadir di tengah hidup yang belum sempurna ini.

Appamāda berarti tidak lengah. Bukan sekadar rajin, bukan sekadar sibuk, tetapi hadir dengan kesadaran. Mengetahui apa yang sedang tumbuh dalam batin. Mengetahui ketika kemarahan mulai muncul, ketika iri hati mulai menyusup, ketika keserakahan mulai berbisik halus, ketika kelelahan mulai membuat kita kehilangan kelembutan. Tidak lengah berarti tidak membiarkan hidup berjalan otomatis tanpa arah.

Ada hari-hari ketika kita merasa jauh dari jalan. Kita masih mudah terseret emosi, masih melekat pada pujian, masih takut kehilangan, masih ingin terlihat baik di mata orang lain. Tetapi kalimat ini tidak datang untuk menghakimi. Ia datang seperti tangan lembut yang menyentuh bahu kita dan berkata, “Bangunlah lagi. Kembali lagi. Jangan biarkan hidupmu habis tanpa sadar.”

Berlatih dengan sungguh-sungguh bukan berarti meninggalkan dunia. Bagi sebagian dari kita, jalan ini dijalani di tengah rumah, pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, dan banyak suara kehidupan. Justru di situlah appamāda menjadi sangat nyata. Ketika kita memilih tidak membalas kata kasar dengan kata kasar. Ketika kita berhenti sejenak sebelum mengikuti dorongan batin. Ketika kita belajar makan dengan sadar, berbicara dengan lembut, bekerja tanpa kehilangan hati, dan mencintai tanpa menggenggam terlalu erat.

Kadang latihan tidak terlihat agung. Ia hanya berupa satu napas yang disadari. Satu ucapan yang ditahan karena kita tahu itu akan melukai. Satu langkah pulang kepada tubuh. Satu keputusan untuk tidak terus mengejar hal yang sebenarnya membuat batin makin gelisah. Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah jalan dibangun.

Appamādena sampādetha adalah panggilan untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Bukan karena kita harus menjadi sempurna hari ini, tetapi karena setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi sedikit lebih sadar, sedikit lebih lembut, sedikit lebih bebas. Kita tidak tahu berapa lama tubuh ini masih kuat. Kita tidak tahu berapa lama orang-orang yang kita cintai masih berjalan bersama kita. Kita tidak tahu berapa banyak pagi yang masih diberikan.

Maka jangan tunggu hidup menjadi ideal untuk mulai berlatih. Jangan tunggu batin menjadi suci untuk kembali ke jalan. Di tengah lelah, mulai lagi. Di tengah sibuk, ingat lagi. Di tengah dunia yang menarik kita ke segala arah, pulang lagi.

Karena pada akhirnya, jalan ini bukan tentang menjadi seseorang yang hebat di mata dunia. Jalan ini tentang tidak kehilangan diri di dalam arus dunia. Tentang hidup dengan hati yang sadar. Tentang membiarkan setiap napas menjadi tempat kita kembali.

Appamādena sampādetha.

Jangan lengah.
Berlatihlah dengan sepenuh hati.
Selesaikanlah jalan ini dengan kesadaran.


Discover more from Dhammastream

Subscribe to get the latest posts sent to your email.