Di zaman ketika hampir segala sesuatu mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, bekerja lebih keras, membeli lebih banyak, dan membandingkan diri dengan orang lain, Buddha mengajarkan sebuah harta yang justru semakin langka: santuṭṭhi, yaitu rasa cukup atau kepuasan batin. Santuṭṭhi bukanlah kemiskinan, bukan pula menyerah pada keadaan. Ia adalah kemampuan hati untuk berkata, “Apa yang ada saat ini sudah cukup,” tanpa kehilangan semangat untuk terus berbuat baik.
Dalam bahasa Pāli, santuṭṭhi berarti puas, merasa cukup, atau berdiam dalam kecukupan. Orang yang memiliki santuṭṭhi tidak menggantungkan kebahagiaannya pada bertambahnya harta, pujian, jabatan, atau pengakuan. Ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak diperbudak oleh keinginan yang tidak pernah selesai. Ia memiliki sesuatu, namun tidak dimiliki oleh sesuatu.
Buddha memuji kualitas ini dalam banyak kesempatan. Dalam Dhammapada 204, beliau bersabda:
“Ārogyaparamā lābhā, santuṭṭhi paramaṃ dhanaṃ; vissāsaparamā ñāti, nibbānaṃ paramaṃ sukhaṃ.”
“Kesehatan adalah keuntungan yang tertinggi; kepuasan adalah kekayaan yang tertinggi; kepercayaan adalah sanak keluarga yang terbaik; dan Nibbāna adalah kebahagiaan yang tertinggi.”
Menarik bahwa Buddha tidak mengatakan emas atau perhiasan sebagai kekayaan tertinggi. Beliau menyebut santuṭṭhi sebagai harta yang paling berharga. Sebab seseorang yang memiliki milyaran rupiah tetapi terus merasa kurang sesungguhnya masih miskin. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana tetapi memiliki hati yang merasa cukup telah menemukan kekayaan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun.
Dalam Sammāparibbājaniya Sutta (MN 8), Buddha juga menggambarkan seorang praktisi yang “mudah dipelihara dan puas dengan apa pun yang diperolehnya” (subharo ca hoti santuṭṭho ca). Kepuasan bukan sekadar sikap moral, tetapi menjadi fondasi bagi kehidupan spiritual. Semakin sedikit hati diganggu oleh keinginan yang tidak perlu, semakin mudah batin menjadi tenang dan terkumpul.
Demikian pula dalam Dantabhūmi Sutta (MN 125), ketika menggambarkan latihan seorang bhikkhu, Buddha menyebut bahwa ia puas dengan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan seperlunya. Kepuasan terhadap kebutuhan dasar membebaskan energi batin untuk berkembang dalam kebijaksanaan, bukan habis dipakai mengejar kenyamanan tanpa akhir.
Santuṭṭhi tidak berarti kita berhenti berkembang. Seorang petani tetap mengolah sawahnya. Seorang dokter tetap belajar agar dapat merawat pasien dengan lebih baik. Seorang guru tetap mengajar dengan sepenuh hati. Yang berubah bukanlah usahanya, melainkan sumber motivasinya. Ia bekerja bukan karena merasa dirinya belum cukup, melainkan karena kasih sayang, tanggung jawab, dan keinginan memberi manfaat.
Tanpa santuṭṭhi, keberhasilan hanya akan melahirkan target baru yang tidak ada ujungnya. Rumah yang lebih besar memunculkan keinginan akan rumah yang lebih mewah. Mobil baru segera terasa biasa. Pujian hari ini menjadi kebutuhan besok. Hati terus berlari, tetapi tidak pernah benar-benar tiba. Buddha menyebut akar penderitaan ini sebagai taṇhā—kehausan yang selalu berkata, “Sedikit lagi, baru aku bahagia.”
Sebaliknya, santuṭṭhi mengubah cara kita memandang kehidupan. Kita tetap boleh memiliki cita-cita, menabung untuk masa depan, membangun karier, atau merencanakan pensiun. Namun semua itu dilakukan dengan hati yang damai, bukan hati yang lapar. Kita menggunakan harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai ukuran nilai diri. Kita menikmati keberhasilan, tetapi tidak kehilangan ketenangan ketika keadaan berubah.
Sikap ini juga melahirkan kemurahan hati. Orang yang merasa cukup lebih mudah berbagi. Ia tidak terus-menerus takut kekurangan. Ia memahami bahwa kebahagiaan tidak lahir dari menumpuk, melainkan dari mengetahui kapan sesuatu telah cukup. Semakin sedikit yang harus dipertahankan demi identitas diri, semakin ringan pula langkah menjalani hidup.
Pada akhirnya, santuṭṭhi adalah latihan kebebasan. Bukan kebebasan untuk memiliki segala sesuatu, tetapi kebebasan dari keyakinan bahwa kita membutuhkan segala sesuatu untuk bahagia. Di situlah letak kekayaan sejati yang diajarkan Buddha—kekayaan yang tidak bergantung pada pasar, inflasi, atau keadaan dunia, karena ia tumbuh dari hati yang telah belajar berkata dengan tulus, “Saat ini sudah cukup.”
“Ārogyaparamā lābhā, santuṭṭhi paramaṃ dhanaṃ.”
“Kesehatan adalah keuntungan yang tertinggi; kepuasan adalah kekayaan yang tertinggi.”
— Dhammapada 204
(CG)


