Kita hidup di zaman yang memuja pikiran. Saat menghadapi masalah, kita merasa harus berpikir lebih keras. Saat gelisah, kita mencoba mencari jawaban dengan terus memutar berbagai kemungkinan di dalam kepala. Seolah-olah semakin banyak kita berpikir, semakin dekat kita dengan kedamaian.
Padahal, tidak semua masalah selesai dengan berpikir. Ada persoalan yang justru semakin rumit karena kita terus memikirkannya. Satu kekhawatiran melahirkan kekhawatiran berikutnya. Satu penyesalan memanggil penyesalan yang lain. Satu kemungkinan buruk berkembang menjadi cerita panjang yang belum tentu pernah terjadi.
Buddha tidak mengajarkan kita untuk berhenti menggunakan pikiran. Beliau mengajarkan agar kita menggunakan pikiran dengan bijaksana. Berpikirlah ketika memang perlu berpikir. Renungkan Dhamma, pertimbangkan sebab dan akibat, rencanakan apa yang memang perlu direncanakan. Namun setelah selesai, beranilah meletakkan pikiran itu.
Dalam ajaran Buddha terdapat istilah papañca, yaitu kecenderungan pikiran untuk memperbanyak cerita. Dari satu kejadian kecil, pikiran membangun berbagai dugaan, penilaian, dan kekhawatiran hingga akhirnya kita menderita bukan karena kenyataannya, melainkan karena cerita yang kita ciptakan sendiri.
Sering kali kita mengira sedang berpikir, padahal sebenarnya kita hanya sedang tenggelam di dalam pikiran. Tubuh berada di sini, tetapi batin sudah berkelana ke masa lalu atau masa depan. Kita kehilangan momen yang sedang berlangsung saat ini.
Ketika kita makan, pikiran sibuk memikirkan pekerjaan. Ketika bekerja, pikiran memikirkan akhir pekan. Ketika akhirnya libur tiba, pikiran kembali memikirkan pekerjaan yang menunggu. Hidup terus berjalan, tetapi kita jarang benar-benar hadir menjalaninya.
Meditasi bukanlah latihan untuk memaksa pikiran berhenti. Meditasi adalah belajar melihat pikiran apa adanya. Kita menyadari bahwa pikiran hanyalah pikiran. Ia datang, menjalankan fungsinya, lalu pergi. Tidak semua pikiran harus diikuti, dan tidak semua pertanyaan harus segera dijawab.
Air yang bergelombang tidak dapat memantulkan bulan dengan jernih. Demikian pula batin yang terus dipenuhi pikiran sulit melihat kenyataan sebagaimana adanya. Ketika batin mulai tenang, sering kali kebijaksanaan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dipaksa.
Mungkin hari ini kita tidak perlu mencari satu jawaban lagi. Mungkin kita hanya perlu menarik napas dengan sadar, merasakan langkah kaki, menikmati secangkir teh, atau mendengarkan suara angin. Untuk beberapa saat, izinkan hidup berlangsung tanpa harus terus-menerus dipikirkan.
Buddha tidak mencapai pencerahan karena Beliau menemukan pikiran yang paling sempurna. Beliau tercerahkan karena Beliau melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa terjebak dalam pikiran yang tiada habisnya.
Kadang-kadang, kedamaian tidak berada di ujung dari pikiran yang lebih panjang. Kedamaian justru hadir ketika kita tahu bahwa sudah saatnya berhenti berpikir, lalu kembali sepenuhnya pada kehidupan yang sedang berlangsung di hadapan kita.
(CG)


